La Haula wa La “Kuota” Illa Billah

Catatan Majelis Maiyah Suluk Surakartan, 28 September 2018

Menyinggung soal perekonomian, Pak Asad mencoba seberapa kayanya Kanjeng Nabi Muhammad yang mampu meminang Siti Khodijah dengan mas kawin 100 ekor onta. Seandainya onta tersebut dinominalkan dengan rupiah sekarang berapa? Kesuksesan Kanjeng Nabi dalam hal perekonomian dalam beberapa hal coba diterapkan oleh Tiongkok. Misalnya saja tentang kehidupan sederhana Baginda Muhammad setelah mendapatkan amanah Nabi dari Allah. Bahkan sehari beliau bisa tak makan? Kenapa kondisi ekonomi beliau bisa begitu? Menurut Pak Asad, bahwa seluruh kekayaannya ia serahkan kepada ahlinya untuk diurus dan digunakan untuk kepentingan umat. Hal yang sama itulah yang diterapkan oleh pemerintah cina dalam membesarkan Alibaba dengan memberikan dana endowmen (dana abadi untuk dikembangkan dengan tujuan pengembangan masyarakat).

Berbicara soal permasalahan perekonomian negara ini entah sampai kapan akan usai. Mas Har merespon, kenapa perekonomian negeri ini semakin berlaurut-larut. Menurutnya, permasalahan ekonomi yang berkembang saat ini terletak pada prinsip ekonomi yang kita gunakan saat ini. Berbagai macam teori ekonomi yang berkembang saat ini tak mampu menyelesaikan permasalahan yang ada. Karena cara mengatasi masalahnya tak sesuai dengan prinsip ekonomi. Jika kita mengacu pada pengertian dasar prinsip ekonomi adalah mendayagunakan potensi untuk kebutuhan hidup. Namun prinsip tersebut begitu terasa kontradiksinya dengan realitas ekonomi saat ini yang cendrung dalam pemenuhan keiginan bukan pemenuhan kebutuhan. Ia memberikan contoh kasus. Semisal mencari ilmu harus melalui institusi pendidikan formal, padahal dengan belajar pada alam semesta saja juga bisa. Mencari hiburan harus ketempat-tempat hiburan, padahal bersenda gurau dengan keluarga juga hiburan. Hal tersebut tak bisa terlepaskan dari masifnya gerakan seting global melalui sistem ekonomi kapitalistiknya.

Menyinggung soal sistem perekonomian, Mas Sigit mencoba membandingkan dengan perekonomian yang diterapakan pada zaman dahulu begitu berbandaing terbalik perekonomian saat ini. Jika perekonomian saat ini lebih cendrung pada akumulasi-akumulasi (Kapitatalis), sedangkan penerapan ekonomi pada zaman leluhur kita dulu mengunakan asas pemerataan. Hal tersebut bisa kita lacak setiap daerah pasti memiliki 5 pasar yang bukannya berdasarkan hari jawa. Dan setiap pasar memiliki perbedaan jenis dalam penyediakan kebutuhan. Semisalnya, pasar kliwon letaknya di pusat kota dengan hanya menyediakan sembako, pasar Legi, Pahing, Pon dan Wage terletak di pinggiran.

Dari sistem perekonomian tersebut, Mas Sigit juga menemukan dinegara Chile yang hingga sampai saat ini masih berjalan. Tapi kenapa dengan kekayaan budaya yang kita miliki kita malah senang menjadi orang Arab, Cina, Korea dan Barat? Ia menjelasakan itu merupakan salah satu keberhasilan seting konspirasi global dalam menghancurkan suatu bangsa. Dan cara beberapa cara yang mereka lakukan dengan mematikan kebudayaannya dan memutus koneksi dengan leluhurnya, urainya. (Wahyudi Sutrisno)