La Haula wa La “Kuota” Illa Billah

Catatan Majelis Maiyah Suluk Surakartan, 28 September 2018

Komunikasi Jarak Jauh yang Gratis, Ya Telepati.

Jika pada saat ini, hampir sebagian besar manusia dalam berkomunikasi jarak jauh sudah tergantug pada alat bantu komunikasi. Itu berbeda balik dengan kondisi pada masyarakat pada zaman dahulu kala. Sering terdengar ditelinga kita, simbah-simbah kita pada zaman dahulu, dalam berkomunikasi jarak jauh tanpa tergantung alat bantu (telepati). Kenapa kemampuan manusia sekarang jarang yang bisa seperti itu? Menurut Mas Sigit selaku mantan peneliti atau arkeolog dari UNESCO selama belasan tahun, lain dan tak bukan disebabkan karena bangsa Nusantara sedang dikerdilan kepercayaan dirinya. Padahal bangsa Nusantara sudah maju dalam peradabannya.

Namun karena sedikit keberhasilan diri para elit barat (kelompok berkepentingan) yang tak suka dengan kemajuan peradaban timur terutama Nusantara tersebut, mampu memutarbalikkan pencapaian mayoritas masyarakat Nusantara yang X menuju Y sesuai pencapaian-pencapaian yang barat atau dunia modern saat ini. Hal tersebut diperparah dengan kegagapan pada pencapaian barat pada saat ini. Misalnya saja, kita gagap dengan pantonim dengan segala cerita yang tersirat dalam geraknya. Padahal kita sudah dulu mempunyainya yang terdapat dalam sendratari atau tari lainnya yang jauh lebih kompleks dan filosofis.

Begitu penasarannya tentang pola komunikasi jarak jauh nenek moyang kita dahulu, Kang Kenyot selaku moderator sinau bareng pada malam itu mencoba mengorek lebih mendalam kepada Mas Sigit tentang bagaimana mereka melakukannya. Proses komunikasi jarak jauh orang dahulu dengan cara telepati. Dalam proses telepati tersebut nenek moyang kita menggunakan rapalan mantra atau orang sekarang menyebutnya dengan doa. Sehingga yang menjadi server penghubungnya bukan alat buatan manusia. Tapi Gusti Pangeran langsunglah yang menjadi penghubung kedua belah pihak yang ingin berkomunikasi jarah jauh. Dari ulasan Mas Sigit tersebut, saya teringat tentang novel pacara merah yang salah satunya babnya mengulas cerita tentang telepati dengan kawannya yang sedang mengalami kondisi terjepit saat diikuti dan mau disergap intelejan. Terlintas dalam benak pemikiran saya, betapa asiknya bisa melakukan komunikasi seperti itu. Sudah hemat biaya, dan sulit disadap oleh orang lain.

Merespon soal parameter pencapaian bangsa Nusantara yang mengalami pergeseran, Pak Asad mencoba menceritakan kearifan lokal masyarakat dahulu yang memiliki kebudayaan yang adiluhung. Bangsa timur (India, Cina, Arab, Nusantara dll) dahulu sebenarnya memiliki indikator pencapaian X yang mana bangsa Nusantara memimpin dalam pencapaian peradaban tersebut. Itu berbanding terbalik dengan bangsa barat jauh dibelakang kita karena berbagai kondisi alamnya. Maka dari hal tersebut barat memiliki pencapaian yang berbeda, yaitu Y. Namun dengan seiringnya waktu dengan rekyasa konspirasi yang dilakukan oleh barat, seluruh bangsa dipenjuru muka bumi ini malah mengikuti pencapaian-pencapaian dari bangsa barat yang berpathok pada Y. Sehingga dengan hal tersebutlah bangsa Nusantara pada saat ini berada diurutan belakang dalam peradaban.

Kesejahteraan Zaman Now

Tak ayal lagi, jika leluhur kita dahulu belajar atau berguru pada seluruh makhluk yang ada dialam semesta ini. Maka Bangsa Nusantara pada saat ini belajar atau berguru tergantung pada instasi pendidikan formal yang cenderung bersifat kapitalistik dan dikotomis. Sehingga kita saling berlomba menyekolahkan anak atau menempuh pendidikan setinggi-tingginya agar tak terbelakang mengapai peradaban saat ini. Sedangkan bagi yang tak mengenyam pendidikan formal seringkali mendapatkan stigma terbelakang.

Begitu pula dengan memaknai kesejahteraan dan kemiskinan yang menurut bapak enam anak ini, telah mengalami penurunan kelas pemaknaan. Sehingga tolak ukur kesejahteraan diukur dari seberapa ia memiliki kekayaan yang ia miliki. Atau sebaliknya, miskin itu seseorang yang berada dalam kondisi kekurangan ekonomi. Beliau mencoba mengutip pendapat rekannya yang memberikan pemaknaan tentang miskin dan fakir. Menurut rekannya tersebut, orang miskin adalah mengambil satu dari sepuluh. Sedangkan fakir adalah membayangkan sepuluh, sementara yang diambil adalah satu, kutipnya.