La Haula wa La “Kuota” Illa Billah

Catatan Majelis Maiyah Suluk Surakartan, 28 September 2018

Menyikapi kondisi tersebut, para Penggiat Maiyah Suluk Surakartan di rapat pawon sepakat pada pertemuan yang ke-32 mengangkat tema “Manusia Kuota” dengan narasumber pemantik sinau bareng Pak Asad Munir, Mas Hariyanto dan Mas Sigit. Dari ketiga narasumber pemantik tersebut saling melengkapi satu sama lain. Masing-masing memiliki pendekatan yang berbeda dalam memantik acara sinau bareng pada malam itu. Mas Har dengan pendekatan sosial, ekonomi, kebudayaan dan politik. Pak Asad dengan kontekstualisasi ayat-ayat kauniyahnya. Dan sedangkan Mas Sigit dengan pendekatan sejarah kebudayaan Jawanya. Apalagi dengan ditambahi pembawa musik yang bisa membawakan berbagai macam aliran musik. Sehingga dengan hal tersebut menjadikan acara sinau bareng menjadi lebih khidmat.

Ketika kita mendengarkan kata “Kuota”, pasti dalam benak pemikiran kita langsung terhubung dengan sesuatu hal yang memiliki kapasitas. Bisa saja Kuota Internet, Kuota Haji, hingga Kuota ekspor-impor dll. Mungkin kita lupa kuota bisa kita hubungkan dengan jatah hidup kita di dunia ini. Sampai umur berapa hidup kita di dunia, jatah kita di dunia kita habiskan untuk apa. Dalam hal jatah umur, saya teringat pertanyaan yang dilontarkan Simbah pada Mocopat Syafaat beberapa waktu yang lalu, yaitu tentang jatah hidup kita didunia ini berdasarkan jatah umur atau berdasarkan jatah detak jantung? Dan ini sangat menarik untuk kita eksplorasi secara mendalam.

Pada sesi kedua sinau bareng malam itu diawali dengan ajakan Mas Har untuk menceritakan tentang pengalaman hidupnya dari sebuah biji buah matoa yang lambat laun mampu memberikan asas kebermanfaatan bagi sekitarnya. Ia menganologikan biji matoa tersebut seperti halnya sebuah kebenaran yang seharusnya kita perlakukan dalam kehidupan sehari-hari. Yang mana sebuah kebenaran bukan untuk dipertarungkan akan tetapi untuk kita simpan, kita rawat atau kelola di dalam diri kita agar memberikan kebermanfaatan bagi sekitar kita.

Lebih jauh lagi, beliau mengajak kita bersama untuk merefleksikan kembali kehidupan manusia prototipe (Kanjeng Nabi Muhammad) yang kita jadikan sebagai suri tauladan bersama. Dari bagimana dalam kehidupan sosial, ekonomi, politik hingga dalam berTuhan. Memang sulit untuk menyamai atau itiba’ kepada kekasih kita bersama dalam segala hal. Namun setidaknya dan sebisa mungkin kehidupan kita harus selalu terkoneksi dengan beliau. Karena didunia ini yang bisa menolong kita hanya Sang Khalik dan syafaat baginda Kanjeng Nabi Muhammad.

Menyinggung soal kuota atau fasilitas yang diberikan Gusti Pangeran pada kita, Mas Har mencoba memberikan penjelasan tentang hasil tadaburnya kepada teman-teman tentang tingkatan manusia dimuka bumi ini. Yang pertama ialah jenis manusia kuota unlimited (manusia prototipe), Wama Arsalnaka Illa Rahmatan Lil ‘Alamin. Jenis manusia ini hanya satu di dunia dan tak ada duanya. Karena beliau diutus di muka bumi ini sebagai pembawa rahmat bagi alam semesta. Dan beliau merupakan rujukan utama bagi seluruh makhluk di muka bumi ini dalam menjalankan kehidupan.

Tipe manusia yang kedua ialah manusia kuota maksimal (Kekhalifahan). Tipe manusia yang kedua ini merupakan manusia yang mampu melakukan inovasi, mampu mngekhalifahi apapun. Tentunya untuk menjadi manusia kuota maksimal ini sebelumnya harus melampaui kuota sedang.

Tipe ketiga, manusia kuota sedang (Abdullah), manusia yang masih dalam tahap menirukan laku hidup maupun ajaran beliau dari proses pembelajarannya (ittiba’ rasul). Sedangkan tipe yang keempat ialah manusia kuota minimal, ilmunya adalah niteni, pada fase manusia di tipe ini merupakan fase yang paling bawah. Itu bukaan menjadi soal asalkan kita mau untuk belajar menaikkan kualitas kuotanya.