La Haula wa La “Kuota” Illa Billah

Catatan Majelis Maiyah Suluk Surakartan, 28 September 2018

Kekuatan Energi Maiyah

Seperti pada pertemuan-pertemuan sebelumnya, Maiyah selalu menghadirkan nuansa yang berbeda dengan majelis ilmu lainnya. Terutama dalam hal jamaahnya. Karena jamaah yang hadir dalam majelis memiliki latar belakang yang begitu kompleks. Dari yang jebolan pondok pesantren, akademisi, driver ojek online, makelar tanah, mantan preman, mantan pengedar narkoba dsb, semuanya melingkar menjadi satu kesatuan didalam tali paseduluran Maiyah. Itulah yang menjadikan suatu hal yang ngangeni dan sayang untuk dilewatkan. Apalagi dua bulan beruntut saya tak dapat melingkar bersama.

Maka dari itu sejak malam sebelum hari H, sudah saya niatkan untuk melingkar bersama sedulur-sedulur Maiyah Suluk Surakartan. Namun, niat tersebut sedikit demi sedikit mulai pudar, ketika mampir di sekretariat kabupaten untuk numpang mandi dan istirahat sejenak setelah futsal di sore hariya. Setelah mandi nyantai di kursi luar sekretariat sambil menikmati segelas plastik kopi dan menyibukkan diri dengan gadget, lama kelamaan rasa capek muncul sedikit demi sedikit. Pada kondisi tersebut paling nikmat mlungker di bawah perlindungan selimut dari dinginnya malam.

Dari kondisi tersebut merubah rencana awalku yang semulanya hanya sejenak untuk numpang istirahat berubah magrok berjam-jam di sekretariat. Sekitar jam setengah 8 malaman teman-teman yang nglembur nampaknya sudah kecapekan dan ngajak untuk pulang. Baru setelah itu ku niatkan untuk berangkat melingkar bersama dulur-dulur lainya. Dalam hatiku berkata, halah mesti engko kesele yo ilang sitik-sitik, dan langsung saja dengan nyantai menuju ke barat agak condong ke selatan alias kerumah Maiyah Suluk Surakartan. Ketika berada di jalan saat beberapakali, saya sering kehilangan fokus atau pikiran mblayang kemana-mana. Sehingga niat awalnya ingin lewat Karanganyar dalam kota ealah… malah jadinya lewat pinggiran kota dan baru sadar sekitar setengah kilometer melewati dari jalur menuju tengah kota, tapi Alhamdulillah akhirnya sampai juga di TKP.

Namun sesampainya di sekitaran TKP, saya tak segera menuju keatas TKP, tapi sepeda saya arahkan se dikit kebarat pasnya di Hik Pak Pon (Hik miliknya Bapak yang yang memparkiri kendaraan bermotor jamaah yang hadir di rutinan Suluk Surakartan) untuk meredakan perut melilit. Setelah meredakan perut yang melilit kemudian menuju TKP dan say hello dengan sebagaian dulur-dulur yang sudah hadir. Dan rasa capek dikit demi sedikit mulai hilang dan terlupakan seiring dengan berjalannya waktu hingga selesainya acara sekitar jam 2-an pagi. Apakah mungkin itu kekuatan yang diberikan oleh Sang Khalik melalui pancaran energi para Al-Mutahabbina Fillah pada malam itu.

Kuota: Jatah Paketan dan Jatah hidup

Bagi masyarakat yang konon menyebut dirinya modern, Kuota data internet seolah-olah sudah menjadi sebuah kebutuhan primer (pokok) bagi kehidupan sehari-harinya. Begitu pentingnya kuota bagi kehidupan sehari-hari, bagi sebagian orang bisa menyebabkan gundah gulana apabila kehabisan kuota internet. Tak terkecuali yang nulis ini he he. Terkadang demi membeli kuota kita rela menggurangi jatah kebutuhan pokok lainnya. Berbagai macam kita mengunakan atau menghabiskan jatah kuota yang kita beli. Entah itu untuk kebutuhan komunikasi, transaksi jual-beli sampai mencari kesenangan didunia maya melalui fitur-fitur yang tersedia.

Ketergantungan manusia saat ini pada kuota tak dapat kita pungkiri lagi. Sehingga para perusahan telekomunikasi saling berlomba-lomba dengan menawarkan berbagai macam fasilitas demi meraup pundi-pundi uang dari konsumennya. Semakin banyak orang yang tergantung pada kuota, maka semakin senang perusahan telekomunikasi tersebut. Karena semakin banyak keuntungan yang akan mereka dapatkan.

Buku Cak Nun