Kuncinya Bukan Pada Hoaks, Tapi Pada Manusia

Liputan Sinau Bareng CNKK dan Polres Kediri Kota, 20 Agustus 2018

Sambutan Kapolres Kediri menekankan sisi efek hoaks yang tidak boleh disepelekan. Beberapa waktu lalu di Kec. Mojo Kediri terjadi berita hoaks. Beredar kabar bohong tentang penyerangan terhadap santri.

Ini salah satu dampak dari berita yang menurut Mas Sabrang telah terjadi disinformasi. Beritanya sejak awal sudah tidak benar. Diperparah oleh kecenderungan misinformasi oleh penerima berita. Salah atau tidak tepat memahami berita.

Bukan hanya itu. Fakta yang dimanipulasi, dilepaskan dari konteksnya, dipelintir datanya, ditampillkan infografisnya juga berpotensi hoaks–yang dikemas secara disinformatif lalu diterima secara misinformatif.

“Lantas siapa sumber berita hoaks? Berita itu datang dari atas ke bawah atau dari bawah ke atas?,” tanya Mbah Nun. Pedoman melacak arus, hulu-hilir dan sumber informasi itu, salah satunya, mencermati dawuh Sayyidina Ali. “Perhatikan apa yang diucapkan. Jangan memerhatikan siapa yang mengucapkan.”

Mbah Nun mensimulasi pesan tersebut menjadi beberapa level sesuai konteks komunikasinya. Ada kalanya perhatikan pula siapa yang berbicara. Atau cermati apa yang disampaikan serta perhatikan siapa yang menyampaikan.

Pada konteks yang lain, jangan diperhatikan siapa yang berbicara dan lupakan apa yang disampaikan. Hoaks berada pada level terendah ini.

Bagaimana menangkal hoaks yang merajalela? Fa ashlihuu baina akhowaikum. Berbuat baiklah kepada saudaramu.

Masih menurut Mbah Nun, saling menjalin persaudaraan (al mutahabbiina) juga memiliki beberapa level. Ada persaudaraan yang diikat oleh hubungan darah, relasi bisnis, hobi atau kegemaran yang sama.

Puncak persaudaraan adalah al-mutahabbiina fillaah. Saling bersaudara karena Allah. Ikatannya adalah innamal mu’minuuna ikhwatun. Bersaudara karena iman kepada Allah–lengkap dan jangkep beserta konsekuensi yang menyertainya.

Apa kaitan itu semua dengan upaya mengantisipasi hoaks? Hoaks atau tidak hoaks bergantung pada manusia sebagai pelaku komunikasi. Selama akal tetap sehat dan hati tetap jernih, yang satu dengan yang lain diikat tali persaudaraan–maka, pelakunya tidak akan memproduksi hoaks, sekaligus tidak termakan hoaks.

“Kuncinya bukan pada hoaks, tapi pada manusianya,” tegas Mbah Nun.

Formula yang diberikan oleh Al-Qur`an: menjalin persaudaraan, melakukan tabayyun, tidak berbuat fasiq titik tekannya kepada manusia. Selama manusianya beres, mereka tidak akan terseret sebagai pelaku misinformasi.

Fenomena hoaks memang menguras perhatian kita semua. Diungkap oleh Mas Sabrang, portal berita online hingga saat ini berjumlah 46.000. Yang terdaftar di PWI ada 600 portal saja. Bagaimana kita mengontrol penyebaran berita hoaks dari portal berita online?

Namun, harap diingat dalam fakta hidup sehari-hari kita bergelimang hoaks. Mulai dari lagu Puk Ami-ami, Bintang Kecil, hingga urusan jomblo mencari cinta, dibanjiri oleh hoaks.

Manusia maraton tidak akan memproduksi hoaks. Berbeda dengan manusia sprint yang visi hidupnya sesingkat kehidupan dunia, sesingkat durasi hajatan lima tahunan, sesepele ambisi berkuasa dua periode. Yang terakhir ini tidak heran menjadi produsen hoaks kelas wahid.

Untuk itu, kita perlu menakar kembali otentitas dan kemandirian sebagai pribadi. Kuncinya terletak pada akal sehat dan hati bersih.

Nah, kalau soal itu mari melihat diri sendiri. Apakah kita telah melakukan conditioning diri sehingga akal kita tetap sehat dan hati tetap jernih? (Ahmad Saifullah Syahid)

Buku Cak Nun