Kunci Kebahagiaan

Ulang Tahun Pahlawan Keluarga Menturo

Tengah kuliah di tingkat III (dulu bukan Semester ukurannya) Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada Yogya, Cak Mif pulang ke Menturo. Sesampainya di rumah, ayah beliau, Cak Mad, menghampirinya: “Mif, mené pimpinen Rapat Guru…

Maksudnya, Guru-guru Madrasah Islamiyah “Mansyaul ‘Ulum” Menturo timur yang didirikan oleh Cak Mad pada tahun 1958. Cak Mad adalah Pak Muhammad bin (Mbah Dul) Abdul Lathif bin (Buyut) Imam Zahid. Yang terakhir ini bisa ditemukan pada alur pewarisan Pisang-Kitab-Cincin untuk niat transformasi progresif pengelolaan masyarakat dan bangsa Indonesia–oleh Syaikhona Khalil Bangkalan, pemberesan keamanan wilayah Kawedanan Jombang, pendirian Kabupaten Jombang, dengan tanda penanaman pohon mangga di depan Masjid Sumobito.

Tetapi itu semua tidak akan tampak di mata Negara teknis, kebudayaan kasat mata dan peradaban materialisme. Demikian juga peran Miftahus Surur, Cak Mif, di Menturo: Indonesia tak akan punya mata untuk menatapnya. Abad 20-21 adalah peradaban di mana manusia mengenali dan membeli buah di supermarket yang tidak perlu diperhatikan asal usulnya.

Tetapi Al-Mutahabbina Fillah, “Bangsa” Maiyah, sudah lama belajar menikmati buah dengan mensyukuri kembang, daun, ranting, dahan, batang pohon, akar, tanah, bumi dan Maha Penciptanya. Cak Fuad, putra sulung Cak Mad dan Yu Mah (Ibu Chalimah) diamanati menjadi 1 dari 9 orang dunia untuk merawat Bahasa Arab yang Allah pilih untuk menjadi bahasa firman-Nya. Cak Fuad ditanazzuli amanah itu tanpa melewati alur akademi Sekolah dan Universitas di Negara-negara Arab. Melainkan melalui kesungguhan, ketekunan, kesetiaan dan cinta universal terhadap Bahasa Allah untuk berbicara kepada manusia.

Dunia persekolahan dan pendidikan di seluruh dunia sangat berprestasi untuk menyediakan pengetahuan, ilmu, methodologi dan teknologi untuk membangun Peradaban Keduniaan. Kelas cendekiawan yang memimpin dunia sangat cerdas untuk mengelola materialisme, hedonisme, pengerukan kekayaan bumi, mencuri hak milik anak cucu, dan membangun gedung-gedung tinggi dan berbagai jenis teknologi yang sekarang tiba di puncak perannya untuk menumpuk kebingungan dan kebuntuan pada manusia dan kemanusiaan. Manusia dilupakan oleh Sekolah dan Universitas: apalagi Jin, Nabi, Malaikat, dan Tuhan. Penghuni abad 21 sangat pandai oleh harta benda, dan sangat bodoh soal manusia, serta buta dungu soal Tuhan. Kumpulan pendapat-pendapat subjektif dan prasangka-prasangka relatif mereka resmikan menjadi Agama, Manusia, dan Tuhan.

Ketika Ayah Mad menyuruh Cak Mif memimpin rapat Guru, ia menjawab: “Lho, saya tidak paham urusannya”. Ayah hanya tersenyum, tanpa perintah itu bisa dielakkan oleh Cak Mif. Sebagaimana ketika Ayah balik dari kota membawa motor Zundapp rongsokan dan memanggil Markesot: “Sot, ini sepeda montor kamu dandani supaya bisa dipakai…”, Cak Sot menjawab persis seperti Cak Mif. Tapi mau tak mau harus ia kerjakan. Dan kemudian motor itu bisa jalan. Demikian juga dengan berbagai bidang teknologi lain yang diamanatkan ke Cak Sot oleh Cak Mad.

Seakan-akan Cak Mad tahu bahwa yang “memimpin rapat Guru” harus Cak Mif dan bukan Cak Fuad, sebab skala dan konteks tugas mereka berbeda. Dan kemudian terbukti Cak Mif lah yang menjadi pahlawan keluarga untuk melakukan recovery bagaimana Sekolah dan kegiatan sosial rintisan Cak Mad tetap terus dijalankan dan dikembangkan, di dalam kungkungan keadaan sosial ekonomi keluarga sangat mengerikan, ultra-faqir, miskin “tak terukur oleh termometer”, serta berbagai kemustahilan keadaan keluarga dan masyarakat di rentang era 1970-an itu. Cak Mif adalah “Malaikat Pendidikan” di Menturo dan seluruh wilayah resonansinya di Jombang, yang membuat malam ini kita semua berkumpul di Menturo mengulangtahuni beliau.

Keluarga Menturo belajar dan mempelajari pendidikan sampai ke yang terdekat dari yang paling dekat dan yang terjauh dari yang paling jauh. Alur penciptaan Allah atas keluarga Menturo, baik pada jurusan yang di atas sudah sekilas disebutkan, maupun gabungan dan komposisinya dengan jalur Bu Chalimah ke atas atau ke belakang: Mbah Haji Ichsan, Mbah Haji Qodir dan semuanya, dengan segala rentang peran, konteks dan nuansanya dalam sejarah. Seluruh konsep penciptaan Allah atas kehidupan adalah media pendidikan. Kami merintis pemahaman pendidikan itu dengan menghimpun jenazah para sesepuh Menturo itu di Sentono Arum. Alangkah sempitnya pemahaman dunia modern ini tentang pendidikan. Diri kita masing-masing dengan asal usul dan hitungan futurologisnya adalah medan kependidikan.

Cak Mif itu sendiri adalah sebuah Universitas Besar. Hidupnya, hatinya, kelegowoan hatinya, sunyi kejiwaannya, keluarga, istri dan anak-anaknya, sikap dan perilakunya terhadap berbagai macam badai dan tekanan dalam kehidupan–andaikan yang disebut pendidikan berpuncak pada lahirnya Doktor dan Profesor: maka kehidupan Cak Mif menghampar amat luas di cakrawala panca indera dan semesta rahasia, untuk melahirkan beratus-ratus Doktor Kehidupan.

Belum lagi kalau ditelusuri kenapa Cak Mad memberi tanda putra ketiganya itu dengan Miftahus Surur: Kunci Kebahagiaan.

Tengah kuliah di tingkat III (dulu bukan Semester ukurannya) Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada Yogya, Cak Mif pulang ke Menturo. Sesampainya di rumah, ayah beliau, Cak Mad, menghampirinya: “Mif, mené pimpinen Rapat Guru…” Maksudnya, Guru-guru Madrasah Islamiyah “Mansyaul ‘Ulum” Menturo…