Kuda-kuda Menghadapi Era Kehancuran yang Disangka Kejayaan

Reportase Sarasehan IKPM, Walisantri, dan Pelantikan Pengurus FORBIS DIY

Apakah pembaca yang budiman pernah berada pada satu acara, di mana para hadirinnya sangat menantikan kalimat penutup dari MC?

Kalau acara yang dimaksud berlangsung membosankan sehingga waktu beku, terasa sangat lama sehingga tiap seperseratus-ribu detik rasanya seperti hujaman kutukan keabadian, hal itu bisa saja dan sering terjadi. Tapi tidak demikian ketika berlangsungnya acara Sarasehan IKPM Gontor Jogja. Pada acara tersebut, para alumni pondok pesantren Gontor yang berdomisili di Yogya meminta al-ustadz Emha Ainun Najib (beberapa hadirin juga sempat menyebut “ustadz Cak Nun”) untuk memberikan saran, masukan dan nasihat.

Acara kemudian berlangsung sangat menyenangkan, padat dengan isi ilmu namun tidak sekadar tebar sabda satu arah saja. Cair, mesra, penuh kehangatan kekeluargaan juga kesejukan tawa. Menarik juga untuk dipahami, acara ini dibarengi dengan pengukuhan anggota FORBIS, yakni semacam paguyuban alumni Gontor yang berkecimpung di wilayah bisnis dan perdagangan.

Mbah Nun punya pengalaman berdagang seperti apa? Kok diminta menasihati pengusaha-pengusaha yang, walau banyak yang lebih muda, namun rasanya jauh lebih berpengalaman soal perbisnisan? Hari itu, Selasa malam tanggal 20 Februari 2018 di aula Masjid UAD ba’da sholat Isya, para anggota IKPM-FORBIS Gontor Yogya, mendapat butiran-butiran ilmu dan kemesraan yang sangat dibutuhkan pada hari-hari depan.

Lantas, kenapa para hadirin dan hadirat sangat menantikan kalimat penutup dari MC? Nah, itu begini ceritanya…

MC yang Dirindukan

Tepuk tangan membahana ketika Mbah Nun menutup kalimat beliau di atas panggung. Bukan tipe tepuk tangan seperti penonton kesenian yang tepuk tangannya karena lega senang acara yang tidak mereka mengerti juntrungannya akhirnya selesai (banyak acara kesenian begini di Yogya, banyak).

Tidak, ini adalah benar-benar tepuk tangan yang membahana dengan anggukan-anggukan kecil, senyum simpul dan tatapan mata bahagia dengan apa yang didapat malam itu.

Dua alumni (atau santri?) yang sejak mula acara bertugas sebagai MC berdiri, siap menutup acara. Para hadirin kembali hening, tatapan tertuju pada duet maut MC tersebut. Wajah MC tegang.

“Demikianlah tadi kita saksikan…” kalimat lanjutannya tidak begitu terdengar, para hadirin kembali bertepuk tangan dengan lebih meriah. Beberapa tertawa ada yang sampai terbahak-bahak, tapi bukan mengejek. Wajah MC yang tadi tegang sontak berubah sumringah, dari panggung Mbah Nun mengacungkan jempol untuk mereka. Wejangan-wejangan Mbah Nun saat itu juga terbukti aplikatif, bukan wejangan ilmu langit yang jauh dari realitas keseharian.

Bisa, jadi diri sendiri itu bisa. Kita mampu!

Dalam pembahasan, Mbah Nun menekankan pentingnya manusia untuk mengenal kaliber dirinya sendiri dan berupaya bersungguh-sungguh untuk menemukan dirinya yang otentik. Karena bagaimana menemukan Gusti Yang Sejati, kalau tidak dengan kendaraan Diri Yang Sejati Otentik?

Mbah Nun menyampaikan, dalam kisaran sepuluh-dua puluh tahun ke depan, akan terjadi pembalikan klasifikasi dari negara dunia pertama, kedua hingga ketiga. Negara-negara Asia Pasifik tidak lama lagi akan mendapati diri sebagai negara dunia pertama sedang yang sekarang menjadi negara dunia pertama, sangat bisa jadi akan mendapati diri berada di urutan kelas kedua bahkan ketiga.

Lalu apa hubungannya dengan menjadi diri sendiri yang otentik? Dan dengan duet MC malam itu? Sebentar, nanti kita akan ke situ.

Seorang bapak yang cukup sepuh, dengan pengalaman kerja di perkebunan sawit tampaknya cukup paham peta relasi perselingkuhan politik-bisnis negeri ini bertanya dan mempertanyakan. Baginya, tak tampak satu tanda pun bahwa pemerintah yang sekarang sedang menuju kepada keberhasilan ekonomi. Tidak ada satu indikasi pun yang mengarah ke sana, tegasnya.

Mbah Nun tidak menyangkal hal tersebut. “Pertama, yang saya sebutkan tadi adalah negara-negara Asia Pasifik, itu ada banyak. Indonesia, bisa saja masuk di dalamnya. Namun yang disebut akan naik menjadi kelas negara dunia pertama, bukan berarti pemerintahnya berhasil. Tidak, bukan itu”.

Naik kelasnya nanti negara-negara dunia ketiga menjadi dunia kedua atau pertama tidak ada hubungannya dengan siapa atau apa yang jadi presiden dan menteri, siapa gubernur Jakarta atau siapa raja Wakanda.

Ini memang terjadi karena keseluruhan pola pikir masyarakat, telah terkonstruksi untuk mengarah pada pola kiblat pembangunan bangsa-bangsa di luar dirinya. Karena itu, sejak sekarang sudah terlihat banyak menteri, pejabat atau bahkan presiden yang mendapat award, penghargaan dari badan-badan ekonomi dunia.

Agak konyol, kalau kita percaya bahwa penghargaan itu berkaitan dengan urusan pemberdayaan real masyarakat negeri mereka sendiri. Itu hanya sekadar, mereka dapat award karena berhasil menjalankan agenda-agenda pelaku korporasi dunia yang berkepentingan atas negara-negara dunia ketiga sekarang. Kalau pembabaran (versi penulis) ini agak panjang dan bertele-tele, sebenarnya ini bisa disingkat dalam satu kalimat saja: Bahwa itu adalah penghargaan untuk kacung-kacung mereka yang berprestasi.

“Dunia sekarang ini penuh dengan orang yang pengin dihargai oleh pihak lain yang tidak berharga”, tegas Mbah Nun. Kalau seorang perampok mengapresiasi dan memuji anda setinggi langit–kesampingkan dulu variabel lain semacam itu perampok sebenarnya waliyullah yang nyamar, tolong jangan diribetkan contoh sederhana ini–kira-kira, faktor apa yang membuat anda dipuji? Apakah anda lantas senang dan yakin, bahwa anda adalah sejati-jatinya orang baik? Yang benar saja?

Kaliber Jangan Tanggung, Bakatmu Thariqatmu

Sederhananya, Mbah Nun mengajak para hadirin untuk siap kuda-kuda menghadapi zaman yang ‘dianggap-kemenangan-padahal-kehancuran’ di depan itu. Jadi diri sendiri, pahami dan perbesar kaliber, expert dalam bakat dan bidang masing-masing serta “Tidak usah terlalu ambil pusing dengan siapa yang akan jadi presiden, yang memerintah masih yang sekarang ini atau ganti yang baru. Sudahlah…”

Selama jalur peta politik negeri ini masih berjalan ‘normal’ dan linier seperti sekarang, keadaannya ya tetap begitu itu, begini ini. Selama pola pikir, sudut-sisi-jarak pandang, tolok ukur dan cita rasanya masih begini-begini saja, sudahlah. “Jangankan soal politik dan ekonomi, membawa acara dan qiroah saja lho kita ini sudah tidak otentik”, ungkap Mbah Nun.

Yang dimaksud Mbah Nun itu ya duet MC tadi itu. Sejak awal mula acara memang kita disuguhkan dengan suara MC yang indah, teratur, tertata tapi rasanya agak wagu (maaf, penulis benar-benar kesulitan menemukan kata yang cocok untuk mendeakripsikan “wagu”) suara, nada dan temponya benar-benar seperti suara dari google map. Persis.

Mbah Nun tidak kemudian menjadikan duet MC itu bahan olok-olok. Mbah Nun bahkan sebelumnya menyampaikan, “Tolong jangan marah, jangan loro ati saya harus sampaikan ini…”. Supaya tidak lupa, harap dicatat, itu disampaikan oleh Mbah Nun yang sudah “Abu Sittin” pada duet MC yang tampak masih berusia dua puluhan. Ada contoh adab dan kesantunan yang tidak dibuat-buat dalam kejadian yang saya saksikan malam itu.

Negeri ini dicontohkan Mbah Nun, seperti suara MC kesayangan kita itu. Berjalan dengan tata kerja politik-ekonomi, keteraturan, ketertataan, berusaha mengaplikasikan ideologi-ideologi yang dianggap kebaikan universal seperti demokrasi, human right, nasionalisme dlsb namun tidak menjadi dan tidak diukur dengan ukuran dirinya sendiri. Apalah gunaya keindahan dan kebagusan, kalau sekedar untuk memanjakan mata majikan? Fakta bahwa dua pemuda belia yang MC tadi pada akhir acara mampu kembali bersuara normal, jauh dari kesan mekanis, menjadi seperti bukti kecil namun nyata bahwa ya, bisa koq kita bertahan menjadi diri sendiri.

Maka itu, FORBIS juga sebagai pelaku bisnis dipesankan oleh Mbah Nun agar tidak tanggung-tanggung pada kaliber dirinya. Jadi pedagang sekalian tingkat dunia, antar bangsa-bangsa kalau perlu antar planet. “Jadikan bidang anda, ekspertasi anda adalah thariqat yang akan mengantarkan anda ke surga dan itu kuncinya adalah kesungguhan”, tegas Mbah Nun.

Bunga Jangan Mengambang Saja

Masih banyak hal yang terjadi malam itu di kampus pasca sarjana UAD di sekitar Ring Road Selatan. Kisah-kisah seputar masa lalu Mbah Nun di Gontor juga kerap mewarnai terutama karena berada pula di atas panggung Prof. Siswanto yang dulunya adalah rekan nyantri Mbah Nun.

Mbah Nun bersama Prof. Siswanto Masruri, Prof. Hawin dan Prof. M. Akhyar Adnan juga menerima cinderamata dan Kartu anggota Kehormatan Dewan Penasehat Forum Bisnis Gontor IKPM Yogyakarta (FORBIS)

Walau acara sebenarnya untuk kalangan terbatas, namun tetap siluman-siluman silmi (percayalah, konotasi kalimat saya positif) sedulur-sedulur jamaah Maiyah tampak nyempil di sana-sini. Beberapa bahkan pede saja duduk di tempat undangan. Saya tidak mungkin tidak mengenal wajah, nuansa, bahkan aroma saudara-saudara saya sendiri. Mungkin mereka JM yang alumni Gontor memang.

Ada juga fenomena kejadian yang saya namakan “Bunga yang mengambang”. Seorang penanya, sebut saja namanya Bunga, karena memang. Mengacungkan tangan dengan semangat ketika sesi tanya jawab dibuka. Selebihnya, Bunga yang aduhai awalnya lembut pembawaannya, lantas makin lancar berkata-kata dan jadi panjang dan makin lama dan tak tentu arah.

Tapi biasalah, perempuan punya bebannya sendiri menanggung ke-rahim-an semesta. Itu berat, pria tak akan sanggup (pinjam kalimatnya ya Dilan, ya ayah Pidi Baiq). Itu juga membuat mereka mesti selalu dimaklumi, terutama kalau manis. Lontaran Bunga yang berpilin memutar-mutar selalu diselingi “aduh panjang yah, saya emang gini orangnya… (tapi terus dan diulang muter lagi)”. Ini jadi hiburan sendiri bagi para hadirin. Ujungnya “Gimana caranya biar saya bisa jadi kayak Cak Nun?”

Jawaban Mbah Nun saya kutip, mungkin tidak persis kata per kata, seingat saya saja. Wejangan Mbah Nun ini sangat bisa dielaborasi dengan bekal ilmu sejarah dan psikologi, tapi akan membuat reportase ini kepanjangan. Ini dan sedikit tambahan, saya jadikan penutup tulisan saja. “Bunga, temukan dirimu itu apa, siapa. Jangan mau jadi saya atau jadi siapa-siapa. Tanda-tandanya lihat dari bakatmu, itu adalah kode dari Allah sendiri. Kalau umpamanya bakat Bunga adalah berenang (dan sepertinya memang Bunga membenarkan, hobinya berenang) temukan faktor-faktor dalam renang itu apa saja. Seriusi betul, maka berenang akan jadi thariqatmu menuju surganya Allah”

Bunga, jangan mengambang saja. Tentukan sabil, syari’, thoriq dan shirath-mu.

Bunga, bangsa Nusantara yang bukan followers NKRI, tentukan tujuan dan jangan tanggung-tanggung. Supaya jelas kita berenang ke arah mana. (MZ Fadil)