Kosmopolitanisme Ke (Dan Di) Dalam

Hari ini tadi saya menikmati sarapan pagi di sebuah hotel. Seorang sedulur yang juga “aktivis” Maiyah mengajak bersua. Dia sedang berada di Yogya untuk suatu keperluan keluarga. Sehari-hari sedulur kita ini bekerja sebagai pilot senior di sebuah maskapai internasional berdomisili di Malaysia.

Obrolan kami sangat menyenangkan dan penuh semangat, ditambah lagi memang ruh paseduluran sudah tertanam jauh-jauh hari. Menu makanan yang enak jadi makin enak karena gizi persaudaraan ini. Saya menyimak bermacam pandangan, mimpi, dan gagasan-gagasannya. Juga penghayatannya mengenai Sinau Bareng.

Pada mulanya adalah karena saya orang yang suka kepada orang yang punya pengalaman kosmopolit. Sedulur kita ini, karena tugas-tugasnya, sudah menclok ke berbagai negara. Di mata saya, itu sebentuk pengalaman kosmpolit, yakni pengalaman keluar dari batas identitas dan kultural yang melekat pada diri seseorang. Pengalaman keluar dari lingkaran kecil yang selama ini menjadi bagian dari identitas kita. Dan, apabila dikaitkan dengan soal keluasan, pengalaman yang demikian itu saya rasa adalah satu bentuk keluasan. Di masa kini, pengalaman goes to everywhere bisa dengan mudah dicapai. Tetapi bukan ini soal yang saya mau perhatian padanya.

Pengertian kosmopolitanisme di atas memang berangkat dari asumsi bahwa lingkaran kita adalah lingkaran kecil, dan kita bergerak menuju lingkaran yang lebih besar. Selain itu kosmopolitanisme juga dipahami sebagai kesadaran bahwa pada dasarnya manusia itu merupakan anggota dari suatu lingkaran yang satu. Lingkaran itu ya lingkaran bumi ini, lingkaran dunia. Biarpun Anda adalah warga bangsa Indonesia, ataukah warga Malaysia, atau Timur Tengah, sejatinya Anda adalah warga dari suatu lingkaran, yaitu bumi. Begitulah satu makna kosmpolitanisme. Apakah ini berimpitan dengan paham politik one world one goverment, saya kurang tahu. Bukan pula ke situ saya hendak mengarahkan pandangan.

Di masa kini, di masa globalisasi yang diperlengkapi dengan kemajuan teknologi informasi dan makin tersambungnya berbagai wilayah dunia oleh banyaknya sarana transportasi, pergi ke sana kemari tanpa tertulis tampaknya merupakan suatu virtue yang mendapat tempat dalam masyarakat global (karena itu makanya mungkin banyak yang minat ber-backpacker yang melancong ke mana-mana negara) dan itu makin mudah saja. Asal anda punya sangu sih sebenarnya, hehe.

Saya berpendapat bahwa Sinau Bareng, dikarenakan beragam kontennya yang suka dari berbagai macam negara–musiknya atau tamu-tamunya– adalah satu sajian pengalaman kosmopolit, biarpun itu diselenggarakan di suatu pelosok desa atau di kampung di Indonesia. Kepada sudulur saya ini, saya meminta pendapatnya juga. Bagaimana katanya?

Menurut dia, kosmpolitanisme yang ada seperti yang dia juga alami selama ini sebenarnya sifatnya outward saja, yaitu pengalaman keluar secara fisikal dan spasial. Malahan tak jarang orang ingin bepergian ke suatu negara sekadar untuk bisa melihat dan merasakan berada di suatu destinasi (tentu disertai selfie and wefie), atau mengecap makanan khas negara itu. Tanpa mengurangi maknanya secara kultural, aktivitas tersebut masih berada pada tingkat fisikal. Sekali lagi tanpa mengesampingkan arti budayanya dalam ranah kehidupan modern ini.

Adapun Sinau Bareng, menurut dia, adalah pengalaman masuk ke dalam atau memasukkan nilai-nilai ke dalam diri. Kosmopolitanismenya bersifat inward, ke dalam. Bukan saja dalam pengertian bahwa orang diajak mengalami ragam muatan yang lintas benua, misalnya, melalui musik atau penuturan kisah dan pengalaman, seperti pengalaman Mbah Nun yang juga pencolotan ke sana kemari, termasuk ketika ke mancanegara. Tetapi juga bahwa ke dalam diri itu adalah proses masuk ke dalam semesta spiritual yang juga amat luas. Mungkin lebih luas dari bulatan bumi (kalau bumi bulat lho ya. Ingat perdebatan di sono dulu itu).

Maka, di mata sedulur kita ini, tatkala seluruh jamaah duduk rapi sekian jam dan khusyuk intens asik bermaiyah itu semua adalah semedi massal. Begitu istilah dia tadi. Di dalam jiwa yang semedi itu, berbagai pintu menuju ke keluasan batin dan diri coba dibuka oleh pelbagai pemantik dari Mbah Nun, KiaiKanjeng, atau siapa saja yang turut mengambil peran. Lihat dan rasakan juga ketika Mbah Nun duduk iftirosy bersama narasumber lain membentuk garis lurus menghadap ribuan orang, itu posisi semedi banget.

Wah, makin mendalam saja sedulur saya ini. Intinya, dia mengatakan ada kosmpolitanisme yang tak kalah penting, yaitu kosmopolitanisme di dalam luasnya batin nan rohaniah manusia (inward) yang itu penting untuk dikembarai juga. Jangan di semesta fisikal spasial saja, meski itu juga bagian dari ragam pengalaman manusia.

Makin siang, makin asik saja penghayatan dan obrolan dia. Kalau saya tuturkan semua, nanti kalian jadi tertarik. Satu ini dulu saja ya.

Yogyakarta, 1 Agustus 2018

Hari ini tadi saya menikmati sarapan pagi di sebuah hotel. Seorang sedulur yang juga “aktivis” Maiyah mengajak bersua. Dia sedang berada di Yogya untuk suatu keperluan keluarga. Sehari-hari sedulur kita ini bekerja sebagai pilot senior di sebuah maskapai internasional berdomisili di Malaysia.