Koes Plus: Ketika Zaman Masih Guyub

Tabloid Bintang, Juli 1993

KOES PLUS populer kembali: bangkit dari ‘kubur’nya, mengelus-elus nosialgia suatu generasi, membuat generasi yang ‘tak memahaminya’ mengernyitkan dahi.

Vokal Koesyono yang ‘dusun’ dan lugu, serak tenggorokan Koesyoko yang selalu terasa memuat semacam ketulusan, wajah malu-malu Murry, Abadi Soesman yang menopangnya, serta kenangan atas almarhum Koestono alias Tony yang jenius, kaya raya kreativitasnya dan matang–­menyodorkan kepada kita bukan saja kenikmatan ‘purba’ yang aneh, namun juga menyertakan sejumlah pertanyaan kehidupan yang mendasar.

Merajalelanya Koes Plus ini, gejala apa gerangan? Apakah ini peristiwa budaya nostalgia biasa? Suatu jengkal dari siklus kultural suatu masyarakat di mana ‘barang-barang antik’ menemukan kembali pangsa pasarnya? Atau sekadar kepandaian sejumlah pedagang estetika yang memanfaatkan momentum ini sebelum pada akhirnya akan berlalu dan menguburkan kembali Koes Plus di pembaringan sejarahnya?

Ataukah ada sesuatu yang lebih serius, lebih mendalam, yang agak rahasia, di balik semua itu?

Perhatikan: amat sedikit yang istimewa dari musik Koes Plus. Ketrampilan mereka menggunakan peralatan musik sangat pas-pasan. Hasil keseluruhan orkestrasi musikal mereka terlalu bersahaja untuk dibandingkan dengan sofistikasi musik modern yang sejauh ini menjadi referensi standar yang dinikmati oleh generasi kontemporer kita.

Yon dengan rythm-nya dari zaman ke zaman, bahkan jika pun petikan bass Yok selalu unik, atau seterampil-terampilnya Murry menabuh drum, juga Tony yang memainkan piano dengan hanya satu tangan dan dua tiga jari-jari–sama sekali tidak bisa ‘diperlombakan’ di sisi karya-karya musik kontemporer lain. Apalagi jika yang dipakai menilai adalah standar mutu baku atau ‘textbook‘ dalam festival-festival. Vokal Yon, Yok, Tonny almarhum, apalagi Murry, juga akan tidak lolos di babak penyisihan lomba pop singer di manapun.

Tetapi saya ingin mengingatkan kepada Anda bahwa penyanyi lain yang juga tidak lolos babak penyisihan Lomba Pop Singer itu–lihatlah–bernama Mike Jagger, Bob Dylan, atau Woody Guthrie. Bahkan jika Rod Stewart, Robert Plant, Louis Armstrong atau Bob Marley, atau Abdul Wahab Mesir dan Abdullah Al-Habsyi/Achmad Vad’aq dari Surabaya juga ikut lomba, yakinlah bahwa Dewan Juri akan memilih menyisihkan nama­-nama mereka agar tidak repot-repot memperdebatkan standar kriteria penilaian.

Saya ingin Anda meyakini bahwa ‘penyanyi textbook‘ berbeda dengan ‘penyanyi kehidupan’. Penyanyi ‘skolastik’ yang menjadi pelanggan kemenangan dalam lomba-lomba seperti Harvey Malaiholo adalah seniman yang dikagumi. Namun penyanyi ‘kehidupan’ seperli Iwan Fals adalah seniman yang dicintai.

Itulah pula Koes Plus. Yon bernyanyi dengan cengkok yang membuat kita takut terpeleset, dengan artikulasi yang canggung, dengan vokal yang agak wagu–namun hati kita sepakat untuk mencintainya.

Kemenangan Koes adalah karena ia tidak bernyanyi untuk memperbandingkan diri atau diperbandingkan dengan siapapun saja. Keistimewaan Koes adalah karena mereka bersahaja. Keunggulan Koes adalah karena secara keseluruhan mereka itu sebuah unikum dalam dunia musik. Sebagaimana vokal Jagger dan Rod Stewart atau perilaku cipta Dylan adalah juga unikum.

Unikum membuat seseorang yang memilikinya berposisi sebagai fenomena. Dan bagi setiap fenomena, jangan cari di mana letaknya, di atas atau di bawah yang lain, karena ia memiliki dan menciptakan kursinya sendiri di dalam jiwa kita.

Geniusitas Tony–tulang punggung seluruh kekuatan sejarah Koes Plus–terletak justru pada kesanggupannya untuk mendayagunakan kemampuannya yang terbatas untuk mencapai tingkat kreativitas yang optimal.

Putra sulung Pak Koeswoyo itu bisa mencet piano hanya sebatas kemampuan awam saya dan Anda. Tetapi ia memiliki daya kreatif yang membuatnya memiliki determinasi terhadap inti-inti kreatif nada, irama beserta seluruh konfigurasinya. Hanya dengan klentang-klenting satu dua jari, ia mampu membawa daya ciptanya ke wilayah lagu yang sungguh­-sungguh ‘jadi’ dan matang sebagai sebuah lagu. Anda perhatikan misalnya pada lagu “Jangan Berulang Lagi”: instrumentalia piano Tony begitu sederhana dan mampu dimainkan oleh para pemula pembelajar piano, namun tingkat kreatif musikalnya jauh melampaui banyak musik yang diciptakan oleh pemencet-pemencet canggih piano.

Secara keseluruhan, lagu-lagu karya Tony dan adik-adiknya sejak Koes Bersaudara hingga Koes Plus, memiliki keistimewaan sebagai ‘benar­-benar lagu’, ‘benar-benar ciptaan’, betapapun sederhananya. Tentu harus kita akui bahwa banyak aliran musik global yang mempengaruhi proses cipta Koes, namun bandingkanlah dengan kebanyakan lagu-lagu masa kini yang sarat epigonisme dan kering dari nuansa-nuansa yang sesungguhnya diperlukan oleh sebuah ‘budaya musik’.

Tentu saja, syarat ‘psikologis’ bagi kita semua untuk bisa melihat dan mengakui hal-hal yang barusan saya uraikan adalah kesediaan untuk bersikap apresiatif dan menghindarkan apriori terhadap Koes. Juga kita harus sangat memaklumi bahwa popularitas Koes yang melejit akhir-akhir ini juga ditentukan oleh keterlibatan emosional sejumlah generasi yang hidup sezaman dengannya. Adik-adik atau keponakan-keponakan kita mungkin tidak paham–karena memang tidak memiliki sejarah apapun dengan Koes–­kenapa kita belingsatan terhadap Koes.

Kemudian, ada satu hal yang bagi saya sangai penting untuk kita renungi sehubungan dengan ‘amsal zaman’ yang hari ini dibawa oleh Koes. Yakni dialektika antara budaya musik dengan situasi zaman yang melatarbelakangi dan melahirkannya.

Kalau mendengarkan musik Rap dewasa ini, saya paham jika penggemar utamanya adalah para buruh di pabrik-pabrik, kaum tani yang semakin terdesak daya negosiasi ekonominya, komunitas Tanjung Priok Jakarta, atau masyarakat tertindas lainnya.

Seperti Anda tahu–untuk menyebut satu dua contoh–jenis musik Blues lahir sebagai reflektor dari rintihan kelas rendah hitam yang disebut ‘Nigger’ dalam situasi rasialistik di Amerika Serikat. Pola Jazz merupakan upaya dari komunitas hitam yang sengsara itu untuk nginggatirasa sengsaranya. Semacam upaya pembebasan atau pelarian psikologis. Dan itu membuat Jazz penuh improvisasi, sarat upaya pembiasan nada atau pelanggaran atas disiplin baku lagu-lagu dan konfigurasi musikalnya. Musik Blues dan Jazz mencerminkan keinginan masyarakat hitam untuk memerdekakan diri dari posisi politis dan kultural mereka.

Kemudian, Rap adalah modus berikutnya dari upaya kesejarahan yang sama. Rap menolak pola estetika yang romantikanya identik dengan–katakanlah–kelas penindas. Mereka ingin melangkah, menentukan irama dan cara berlagu yang tersendiri, yang melanggar tatanan baku.

Itulah sebabnya saya menyebut masyarakat Tanjung Priok atau buruh­-buruh pabrik, karena situasi mereka relevan dan memiliki keabsahan historis terhadap Rap. Namun kalau kenyataannya yang menggandrungi Rap adalah remaja-remaja kelas menengah ke atas atau siapapun saja yang urban ke strata itu–masalahnya jelas bagi kita. Yakni bahwa aliran musik itu kita terima sebagai paket musik, tidak sebagai ekspresi sejarah suatu masyarakat. Kita menyukainya dalam rangka konsumtifisme bentuk, dan substansi historisnya tidak penting bagi kita.

Saya sungguh ingin bahwa kehadiran Koes Plus yang mungkin tidak terlalu lama ini kita tangkap juga muatan kesejarahannya. Akan rugi dan tak begitu bermanfaat kalau kita mendengarkan Koes hari-hari ini sekadar untuk menikmati lagunya secara steril.

Dengarkan baik-baik musik Koes, rasakan dengan tulus: Anda akan menemukan ke-alam-an dan ke-guyub-an. Sangat terasa ada muatan emosi kolektif dalam lagu-lagu itu, yang mencerminkan situasi zaman tatkala musik itu dilahirkan.

Karya cipta Koes lahir ketika masyarakat kita masih cukup memiliki keguyuban sosial, belum terlalu individualistis dan kapitalistik seperti sekarang. Koes masih secara murni menghasilkan seri lagu “Nusantara”, karena ketika itu kenikmatan nasionalisme kita masih belum sekering sekarang. Masyarakat ketika itu masih belum terlalu mengalami kesendirian dan kesunyian oleh represi kekuasaan serta pemecahan sosial oleh budaya industrialisme.

Koes Plus ‘bukan penyanyi’. Artinya, ekspresi Koes hanyalah perbesaran dari keasyikan kita sore-sore atau malam-malam di gardu atau di tepian jalan bernyanyi bersama. Yang terpenting di situ bukan tingkat mutu estetikanya, melainkan keguyuban sosialnya.

Tampaknya, keasyikan kita terhadap Koes hari ini sesungguhnya merupakan kerinduan kolektif kita terhadap keguyuban sosial, yang mungkin selama ini telah corruptedoleh perang-perang dingin politik dan persaingan liar dalam perniagaan hidup.

Yogya, 22 Juli 1993.

KOES PLUS populer kembali: bangkit dari ‘kubur’nya, mengelus-elus nosialgia suatu generasi, membuat generasi yang ‘tak memahaminya’ mengernyitkan dahi.