Kiai Sudrun Dapat Lailatul Qadar

Seluruh penduduk kampung kami ribut luar biasa, karena tersebar berita bahwa Kiai Sudrun mendapatkan Lailatul Qadar. Rumah gubuk Kiai Sudrun di pojok desa dekat sawah dan bersebelahan dengan sungai, didatangi beramai-ramai. Semua kagum, mengucapkan selamat, sambil mempergunjingkan apa wujud Lailatul Qadar yang Allah anugerahkan kepadanya. 

Kiai Sudrun bersujud sejak tadi malam, sambil di bawah dadanya serta di antara dua tangannya terdapat bungkusan kain putih. Ia tidak menjawab ketika disapa dan tidak beranjak meskipun semua orang yang berkerumun bergiliran tanya kepadanya.

Akhirnya seorang tokoh sepuh bernama Pak Kamituwo berhasil mengajak Kiai Sudrun duduk iftirasy, membuka matanya dan tersenyum.

Semua orang penasaran apa gerangan isi bungkusan putih itu, bongkahan emaskah, tumpukan uang atau bendel tebal cek yang siap diuangkan.

Tak terduga sebentar kemudian keadaan menjadi ribut, karena Kiai Sudrun tidak bersedia membuka bungkusan putihnya. Keadaan tak terkendali, orang-orang yang berkerumun itu meringsek. Kiai Sudrun tertindih terjepit, bungkusannya dibuka paksa.

Tiba-tiba sepi, semua orang terpana, antara kaget, bingung, dan kecewa. Ternyata isinya adalah Mushaf Al-Qur`an yang kumuh dan sobek-sobek pinggirnya.

Terdengar beberapa suara: “Kok Qur`an? Mana Lailatul Qadarnya? Kok Qur`an? Mana Lailatul Qadarnya? Kok Qur`an?”

Mereka semua minggir. Pak Lurah dan para sesepuh desa menginisiatifi untuk berkumpul di Langgar atau Mushalla, untuk dilacak bersama siapa yang menyebarkan berita bahwa Kiai Sudrun dapat Lailatul Qadar, serta apa yang dimaksud orang tua itu.

Setelah semua orang berkumpul, Kiai Sudrun membaca salah satu firman: “InNa anzalNahu fi lailatil qadr” diulang-ulang, kemudian: bukan “InNa anzalNa lailatal qadr”.

“Allah menurunkan Al-Qur`an pada malam Lailatul Qadar, bukannya Lailatul Qadar akan diturunkan oleh Allah dan kita menanti-nantikannya, apalagi dengan pembayangan Lailatul Qadar adalah rezeki materiil dan keduniawian. Kapan saja engkau merasakan dan menemukan Al-Qur`an turun mencahayai jiwamu, pasti yang mengantarkannya adalah “tanazzalul Malaikatu war-Ruhu fiha”, yakni para Malaikat dan Paduka-Ruh yang menaburkan qadar-Nya Allah kepadamu, ‘hatta mathla’il fajr’

“Andaikanpun kau gadang-gadang Lailatul Qadar adalah rezeki dunia, baik untuk memenuhi kebutuhan keluargamu, keajaiban bagi Bangsa dan Negaramu, atau karena semangat ingin kaya raya harta benda—maka insyaAllah itu semua terkandung di dalam informasi nilai Al-Qur`an.”

“Apa maksud pertanyaan kalian tadi ‘Kok Qur`an?’. Untung kalimatnya tidak lebih menjadi ‘Kok hanya Qur`an?’. Tunjukkan kepadaku sesuatu yang lain, kecuali ‘ahsanu taqwim’ yang lebih mahal dan tinggi nilainya dibanding Qur`an?”

“Ungkapkan kepadaku apa yang lebih malam seribu bulan dibanding Qur`an? Aku bersujud kepada-Nya, aku mendekap Qur`an-Nya, yang jauh lebih mahal dan mulia dibandingkan seluruh kekayaan dunia.”

“Atau andaikan kekayaan dunia begitu pentingnya bagi manusia, masukilah Qur`an, selamilah, hiruplah ilmunya, terapkan untuk mencerdasi dunia agar tergali kekayaannya.”

“Bagi aku yang sudah tua ini, tidak ada rahmat dan berkah Allah yang tidak bernilai Lailatul Qadar. Aku masih bisa bersujud, jari-jariku masih lengkap, kakiku masih bisa berjalan, sehari-hari aku tak sampai kelaparan. Semuanya, apa saja, alam yang menghampar, matahari yang setia terbit, rembulan yang memayungi, tenggorokanku masih bisa menelan makanan dan mereguk minuman—semua itu kusyukuri sebagai Lailatul Qadar”.

“Aku yang tua renta ini tidak diadzab Allah saja sudah Lailatul Qadar. Utangku kepada-Nya tak terbayarkan, meskipun andaikan seratus kali aku hidup mati hidup mati, kuisi ruang dan waktuku hanya dengan terima kasih dan memohon ampun terus-menerus kepada-Nya”.

Yogya, 5 Juli 2016