Wedang Uwuh (61)

Ki Gedé Kadisobo

Kedaulatan Rakyat, 16 Januari 2018

Simbah sangat bergairah karena akan ada agenda panjang ia mendengarkan dan menikmati uraian Pèncèng sesudah tembang kanak-kanak “Sluku-sluku Bathok”: mungkin “Ande-ande Lumut dan Yuyu Kangkang”, “Semut-semut Ireng”, “Ilir-ilir”, “Menthog-menthog Tak Kandani”, “Gundul Pacul”, “Padang Mbulan”, “Jaranan”, “Jamuran”, “Kinjeng Dom”, “Thok-thok Ugel” dan masih banyak lagi.

Sambil juga penasaran untuk tahu tema apa kira-kira yang dibawa oleh dua anaknya yang lain. Tetapi Simbah kaget ternyata Beruk datang menanyakan sesuatu yang tidak ia duga sama sekali. Juga tidak mengerti kenapa hal itu ditanyakan.

“Simbah dulu teman dekatnya Mbah Linus?”

Simbah mengernyitkan dahi. “Mbah Linus…? Maksudnya Linus siapa, Ruk?”

“Linus Suryadi AG, Mbah”, jawab Beruk, “penyair kondang Yogya. Karya termasyhurnya ‘Pengakuan Pariyem’. Prosa liris. Beliau putra angkat kesayangan tokoh yang juga sangat termasyhur, Prof. Dr. Umar Kayam, ilmuwan budayawan kelas wahid di Indonesia, usia 34 tahun sudah diangkat oleh Pak Harto menjadi Dirjen Kebudayaan. Buyut Kayam dan Mbah Linus sudah swargi dan bercahaya di sisi Tuhan Yang Maha Esa…”

Tentu saja Simbah terheran-heran. Kok Beruk kid zaman now ini tahu lumayan detail tentang tokoh-tokoh Yogya masa silam. Pasti ada sesuatu di balik pertanyaannya itu. Kan ada sejumlah tokoh Yogya lain. Misalnya Mbah Bagong Kussudihardjo yang sangat masyhur. Ada playwriter dan peneliti sejarah Mbah Kirjomulyo, yang menemukan bahwa Majapahit itu hanya ujung dari Dinasti Hit, sesudah rentang sangat panjang Dinasti Ma, Ja dan Pa. Pun Mbah Kirjo menyimpulkan Kerajaan Majapahit tidak di Trowulan Mojokerto, melainkan di antara Batavia dan Bogor. Mbah Kirdjo pernah menggegerkan blantika sejarah Indonesia dengan membatalkan pengetahuan para sejarawan tentang umpamanya Kitab Pararaton dan Sutasoma. Bagi Mbah Kirjo, kunci membacanya, alias password atau kode-nya, terletak justru di goresan-goresan di akhir buku yang selama ini dianggap hiasan.

Ah, pokoknya sangat banyak tokoh-tokoh Yogya yang tidak dikenal oleh generasi sekarang. Jangankan lagi dikenang, dihargai atau dihormati. Terlebih lagi tokoh-tokoh nasional. Coba tanya anak-anak muda apakah pernah dengar tokoh Andi Selé? Kartosuwiryo? Kahar Muzakkar? Atau yang normal saja: Kasman Singodimejo, Tan Malaka, Douwes Dekker, Haji Agus Salim atau Kolonel Lathif? Jangan pula terlalu jauh: Ratu Kalinyamat, Pangeran Padmo di Merapi, Ratu Shima, Dewoto Cengkar, Ajisaka, Kerajaan Medang Kamulan… Paling mereka menjawab: “Pokoknya keturunan Nabi Adam kan?”

“Ya, Ruk”, jawab Simbah, “Linus itu sahabat dekat Simbah. Sahabat sangat akrab. Kami mandi bareng di belik sawah dusun Kadisobo. Linus penyair sejati, Simbah dulu meniru-niru dia coba-coba bikin puisi juga tapi gagal. Simbah sangat dekat dengan keluarga Linus, Ibu dan Bapaknya, adik-adik putrinya, Mas Don, Dik Bambang, semuanya. Bahkan Simbah sering main dengan anak-anak muda sekitar rumahnya di Kring Katolik Kadisobo, Sleman, arah ke timur sebelum sampai kota. Simbah memanggil Linus itu Ki Gedé Kadisobo. Linus lelaki yang lembut hatinya, lirih tutur katanya, luas pengetahuannya, santun bebrayan sosialnya. Buyut Kayam sering menyuruh Simbah mendampingi Mbah Linus kalau pas sakit. Simbah duduk di sisi pembaringannya, kami bercerita tentang Pak Tuwar hingga Patih Gadjah Mada dan Imam Khomeiny. Kenapa kamu tanya tentang Linus?”

“Kok yang saya dengar Mbah Linus itu bermusuhan dengan Simbah, sampai beliau dipanggil Tuhan pada tahun 1991?”, Beruk menjawab dengan pertanyaan.

“Kami dipermusuhkan, tapi kami sama sekali tidak pernah bermusuhan”

“Dipermusuhkan bagaimana?”

“Diadudomba. Mbah Linus Katolik, Simbah Muslim. Dasar identitas itu dipertentangkan dalam berbagai kejadian kesenian dan kebudayaan yang kami terlibat”

“Jadi Simbah tidak pernah congkrah dengan Mbah Linus?”

“Kami tidak punya bakat untuk bertengkar. Dulu 1970 sampai 1975 ada ‘Presiden Malioboro’ yang namanya Umbu Landu Paranggi. Tahun 1975 Umbu pindah ke Denpasar Bali. Semua mempertengkarkan siapa pengganti Umbu: Mbah Linus atau Simbah. Lantas Simbah menulis di koran nomor satu Yogya berjudul: “Linus Suryadi AG, Presiden Malioboro”.

“Simbah bersaing dengan Mbah Linus?”

“Mustahil saya berani menyainginya. Saya pasti kalah. Ketika Simbah ke Iowa satu tahun atas undangan Pemerintah Amerika Serikat, Simbah usulkan yang harus diundang tahun berikutnya adalah Linus Suryadi AG. Karena beliau lebih layak, lebih punya mutu dan kredibilitas sebagai seniman. Pemerintah Amerika keliru dan tersesat mengundang Simbah, tapi sudah terlanjur. Simbah tidak menghasilkan karya apa-apa di Iowa. Sedangkan Mbah Linus, sepulang dari Iowa menghasilkan karya besar ‘Pengakuan Pariyem’ yang sangat terkenal dan digemari di era itu…”

“Konflik semacam yang terjadi antara Mbah Linus dengan Simbah itu yang sekarang marak di berbagai bidang”, kata Beruk, “Semua wilayah kegiatan selalu berisi persaingan dan pergulatan antara golongan Islam dan Katolik. Tidak hanya pemetaan sastra dan kesenian lainnya. Tapi juga di percaturan birokrasi pemerintahan, bahkan sampai ke Kraton, termasuk di persaingan jabatan Gubernur di Jakarta dan ubyag-ubyug-nya Pemerintah pusat…”

“Lho, saya tidak pernah konflik dengan Mbah Linus, Ruk!”, Simbah menyangkal keras.

Ah, pokoknya sangat banyak tokoh-tokoh Yogya yang tidak dikenal oleh generasi sekarang. Jangankan lagi dikenang, dihargai atau dihormati. Terlebih lagi tokoh-tokoh nasional.