Khataman Sesrawungan, Semuanya Guru Sekaligus Murid

Catatan Sinau Bareng CNKK "Sesrawungan" di Dusun Blambangan, Bululawang, Malang, 2 Desember 2018

Mereka ini rata-rata masih sangat belia, ada yang masih 15 tahun, ada yang masih 18 tahun. Beberapa dua puluhan awal? Kenapa kita kok Sinau dari para belia ini? Di sinilah kemudian, metode Sinau Bareng melatih kita menjembar bahwa ilmu Allah sangat luas. Bisa saja mereka masih sangat muda tapi ternyata ada hal-hal yang mereka lebih pahami dari kita. Mbah Nun juga sampaikan bahwa dalam satu ayat, Allah menjelaskan bahwa walaupun air di samudera menjadi tinta dan ditambah sejumlah itu, pun andaikata seluruh pepohonan adalah pena dan ditambah sejumlah itu, tak akan sanggup menuliskan sedikit saja ilmunya Allah. “Jadi, apakah ilmu Allah hanya termaktub dalam satu mushaf Al-Qur`an ini? Karena kalau menuliskan satu mushaf ini, rasanya satu liter tinta kan cukup, tapi Allah bilang sejumlah laut plus sejumlah itu.”

Atau apakah hanya ada di kitab-kitab para ilmuwan agama? Akademisi tarekat maupun para petapa? Tentu tidak, bukan berarti mushaf tidak penting. Hanya posisinya mushaf, dijadikan kunci pembukanya. Mungkin begitu kenapa KiaiKanjeng sering melantunkan Lawang Swarga untuk membuka Sinau Bareng? Nah itu pengartian saya. Pembaca yang budiman baiknya punya pengartian sendiri mengenai ragam fenomena. Dengan memahami luasnya ilmu Allah, kita jadi bisa menghargai segala sesuatu, termasuk presentasi dari para muda-muda milenial ini.

Tiga kelompok ini ragam pula jenisnya, ada yang rapi tertib khas santri yang sedang ngaji kitab. Jadi agak lucu juga tapi otentik ketika adik kita presentasi “sesrawungan yo iku keno ugo disebut…” dst dst. Ada juga yang slengean, dengan referensi utama Sujiwo Tedjo.

Menyenangkan juga ketika melihat ketua grup Matahari adalah seorang Mbak cantik yang bercadar. Kok tahu kalau cantik? Yah, yakin sajalah. Dan tampaknya Mbak bercadar ini paling memesona para jamaah, seorang Mas-Mas di dekat saya berseloroh, “Iki musti pinter iki, ketok cara ngomonge arek puuiiinter iki.” Mungkin maksudnya karena cara bicaranya tertata, premis-premisnya diatur sedemikian rupa, logis dan runtut.

Agak ada aroma ketidaksetujuan pada beberapa hal yang dikemukakan oleh Mbah Nun, misal soal sesrawungan dengan makhluk selain manusia, tapi itu sah-sah saja dalam Sinau Bareng. Kita tidak mencari konsensus dalam segala hal, kita tidak wajib bersepakat pada semua yang ada di dunia ini. Dan dari ketidaksetujuan kita itulah, sesrawungan ada tantangannya. Begitu srawung yang asik. Kalau srawung hanya sama yang satu paket kesetujuan, satu kotak golongan, itu srawung apa cuma lagi meyakin-yakinkan diri? Coba.

Baik Gus Hanif pengasuh Pondok Al-Aisiyah dan Kyai Luthfi pengasuh Pondok Nurul Islam mengapresiasi apa yang berlangsung selama Sinau Bareng. Kyai Luthfi bahkan sempat berkata, “Karena melihat komunitas ini (kayaknya maksudnya orang Maiyah) saya merasa masih ada harapan pada bangsa ini.”

Namun dari Pak Camat kita dapat bahasa dan materi baru bahwa orang Jawa dulu punya dua istilah untuk menandai mana srawung yang beneran sama mana yang ada kepentingan. Menurut Pak Camat ada yang namanya Petambayan, yakni kumpul karena berharap sesuatu yang bersifat materi, ada yang namanya Paguyuban yakni perkumpulan yang tidak berdasarkan materi.

“Alhamdulillah, kita dapat tambahan yang sangat baik malam ini dari Pak Camat,” ungkap Mbah Nun. Dan memanglah, dari Sinau Bareng kita menjadi semua meguru pada semua. Karena urusannya bukan distatiskannya status guru, ulama atau mursyid, tapi dinamis, pada wilayah apa orang tertentu cocok jadi ulamanya dan pada wilayah mana dia lebih tepat jadi bukan ulama. Kita tidak bokeh dhalim mengulamakan orang pada wilayah yang dia tidak capable. Maka dalan Sinau Bareng, semua orang bisa berada pada posisi guru dan semua bisa jadi murid. Asyik yah.

Lainnya