Khataman Sesrawungan, Semuanya Guru Sekaligus Murid

Catatan Sinau Bareng CNKK "Sesrawungan" di Dusun Blambangan, Bululawang, Malang, 2 Desember 2018

Khataman bukan artinya selesai, lantas ditutup bahasan. Kita belum selesai belajar sesrawungan. Coba lihat para generasi tua yang ada di posisi-posisi politik, parpol, maupun elite-elite agamawan sana. Saling cemas satu sama golongan lain sehingga merasa perlu untuk terus mengenyahkan golongan selainnya. Bagaimana bisa terjadi srawung?

Tapi Dusun Blambangan, Krebet, Bululawang, Kabupaten Malang pada minggu malam tanggal 2 Desember 2018 M ini, diajak khataman. Wah, apa berarti sudah selesai sesrawungannya? Coba simak poin dari Mbah Nun, saat KiaiKanjeng akan melantunkan Khotmil Qur`an bahwa, “Khataman itu adalah anda mensyukuri setiap tahap pencarian ilmu, setiap langkah pemaknaan hidup.” Jadi, khataman adalah per step demi step.

Khataman yang sejati, ya nanti-nanti dan sepertinya bukan pada alam yang ini. Selama kita di dunia yang ini, kita bukan makhluk statis. Kita dinamis, bergerak, berproses, melangkah, menanjak. Dan setiap step kita syukuri dengan khataman. Mbah Nun mengonfirmasikan pemaknaan tersebut pada Gus Hanif dan Kyai Luthfi, dua sesepuh pengasuh dua pondok pesantren di desa Krebet ini. Dan nampaknya, berdasarkan khazanah beliau berdua, pengartian tersebut cukup presisi. Maka melantunlah nomor Khotmil Qur`an oleh KiaiKanjeng.

Memang perlu disyukuri betul, karena rupanya metode Sinau Bareng ini juga adalah next step dari metode-metode pengajaran yang biasa tergelar di pondok-pondok. Kalau biasanya para pendidik mengajar, membabarkan saja sedangkan para murid tinggal mendengar, sekarang sebanyak mungkin semuanya terlibat.

Metode pendidikan pra-Sinau Bareng bukan buruk juga, itu metode yang sangat baik dalam hal melatih kesabaran, ketabahan, dan stamina penyimak. Hanya metode tersebut memiliki kekurangan dalam hal, pengajar tidak tertantang untuk meng-upgrade keilmuannya. Sekarang tidak, Mbah Nun meminta para sesepuh, baik dua pimpinan pondok, maupun Pak Camat yang ternyata fans berat Cak Nun KiaiKanjeng dan Bunda Novia, serta Pak Kapolres dan Danramil serta perwakilan Bupati Malang untuk memberi sambutan atas acara tersebut ketika para peserta Sinau Bareng, telah selesai memberikan presentasinya.

Memang ada tiga kelompok dibentuk, lalu diberi pertanyaan-pertanyaan mengenai hal ihwal, tantangan, serta pelaku Srawung. Nah, bagi para pengajar yang biasa hanya transfer ilmu, biasanya hanya membunyikan isi kitab. Hal semacam ini juga adalah pendidikan tersendiri, bagaimana bersikap untuk mengolah sesuatu yang datang.

Tiga kelompok yang disebutkan tadi menamakan diri dengan otentik, walau satu kali ada kelompok yang ingin menamakan diri dengan ormas tertentu. Mbah Nun sedikit mengajak memikirkan ulang sebab, “Itu namanya klaim, apa kamu siap dengan klaim itu? Sekarang ini orang banyak ribut, karena orang saling klaim mengatas namakan ini-itu. Bagaimana? Siap sampean?” Dan setelah para santri ini berpikir ulang, digantilah namanya dari nama ormas menjadi ILC yang singkatannya Indonesian Linglung Club.

Kelompok kedua mantap sejak awal menamakan diri dengan “Cangkir Kopi”, dengan alasan kopi bisa jadi fasilitas sesrawungan. Kelompok ketiga, yang paling banyak dihuni gadis-gadis Islami menjadi primadona dan adalah bahan bakar para jamaah yang saut-sautannya agak maut menjadi lebih bergejolak, mereka menamakan diri kelompok “Matahari”, supaya bisa bersinar cerah seperti matahari kata jubir kelompok.