Ketika Mereka yang Usia Puber Ikut Sinau Bareng

Catatan Sinau Bareng CNKK di SMK Tunas Harapan Pati, 11 Desember 2018

Pagi hari Selasa 11 Desember 2018 M, keluarga besar Mbah Nun serta tentu seluruh jamaah Maiyah merasakan kehilangan yang teramat dalam atas berpulangnya Mbak Istifa Ni’ma Ilahi atau Mbak Fafa, putri dari Cak Nas. Pagi yang mendung bergelayut duka, tapi Sinau Bareng tetap digelar sesuai jadwal di SMK Tunas Harapan, Pati pada sore hari. Sinau Bareng tetap menabur kegembiraan dan kemesraan. Ihwal berita duka tersebut tampaknya disimpan rapat-rapat oleh Mbah Nun sepanjang berjalannya Sinau Bareng yang berlangsung sejak bakda asar hingga menjelang maghrib.

Baru pada akhir acara Mbah Nun sampaikan berita tersebut, benar-benar pada penghujung acara dengan demikian sekaligus juga agar para peserta, yang kebanyakan tentu adalah siswa SMK Tunas Harapan, juga hadirin dan jamaah Sinau Bareng dapat berbesar hati untuk “bersalaman lewat hati dulu”. Sebab Mbah Nun dan Kiai Kanjeng akan segera bertolak ke Jombang, di mana almarhumah disemayamkan di kompleks pemakaman keluarga. Bersalaman dengan sang guru tidak melulu mesti dengan fiqih jasad fisikiyah, bukan? Ada saat-saat tertentu di mana kebesaran hati lebih terasah dengan jarak daripada dengan persentuhan.

Selama Sinau Bareng berjalan, tidak tampak sama sekali bahwa Mbah Nun sedang berada dalam keadaan berduka. Padahal almarhumah adalah keponakan beliau. Apakah Mbah Nun mempuasai perasaan duka? Mungkin, mungkin demi memilih menyajikan pada generasi-generasi Tunas Harapan, ya harapan, kemesraan, ilmu, dan martabat.

Sejak awal Mbah Nun sangat mengapresiasi beberapa siswi yang melantunkan sholawatan. Juga sempat berkolaborasi dengan KiaiKanjeng. “Sudah pantes jadi vokalisnya Kiai Kanjeng,” puji Mbah Nun kemudian dilanjutkan dengan mendoakan agar nanti setelah tamat dan selesai studi bisa dapat jodoh dari yang menyimak sholawatan tersebut melalui tivi lokal. Bukankah ini doa dan harapan yang berlapis baiknya? Karena selain Mbah Nun mendoakan mendapat jodoh pada saat yang tepat, juga mendoakan jodohnya nanti dari kalangan yang menyimak sholawatan, bisa kita maknai berarti tentu insyaAllah pria yang baik-baik, sregep sholawatan, tontonannya ndak aneh-aneh, selalu mengakrabkan diri pada aura Kanjeng Rasul Saw. Para siswi yang tadi bersholawatan jadi tampak tersipu-sipu. Menyenangkan.

Rasanya perlu kita beri poin sendiri juga, bahwa Sinau Bareng kali ini diadakan oleh pihak SMK. Dengan hadirin yang mayoritas masih berusia sekolah atau belasan tentu saja. Metode ceramah pada anak-anak seusia ini? Coba diingat-ingat, saat kita berusia seperti mereka berapa banyak ceramah agama yang bisa menarik minat, menyenangkan, teresapi dan majelis yang saat mendatanginya terkesan keren?

Kenapa harus terkesan keren? Karena ini usia pubertas, dalam psikologi kesadaran tampil sedang berada di puncak, hormon-hormon mereka sedang pada masa jaya produksi. Maka hal yang mendasar pada pedidikan dalam usia puber adalah ilmu mesti tersaji menyenangkan, tidak membebani, terasa urgensinya serta jadi ajang gaul yang hietz. Sisi keliaran darah muda (meminjam istilah Bang Rhoma) perlu diberi tempat yang pas, bukan ditundukkan dan dijinakkan dari luar, kenapa? Karena percuma bila pihak luar yang menundukkan. Bisa-bisa yang timbul adalah perlawanan, benteng psikologi, pembangkangan yang kalau tidak waspada malah salah arah.

Maraknya fenomena seks bebas, miras dan narkoba pada generasi muda, bukan hanya generasi muda sekarang sebenarnya, bisa kita lihat dari gejala psikologi kaum muda yang tidak dipahami dengan utuh gejala psikologinya. Manusia tempatnya lupa dan khilaf, dan manusia lekas lupa bagaimana rasanya menjadi muda. Ada semangat muda dalam Sinau Bareng, ada gelora liar yang membebaskan pencarian, tidak mendikte temuan berdasarkan hasil olahan kaum tua, namun juga dengan sendirinya akhlak mereka dapatkan pula.

Workshop menjadi titik perhatian utama saya pada Sinau Bareng kali ini. Apa yang teman-teman kita siswa-siswi SMK Tunas Harapan bayangkan ketika akan datang ke gelar Sinau Bareng? Pengajian? Ceramah dengan seorang sepuh menutur-nuturkan ilmu dan mereka mesti duduk-diam lipat tangan mendengarkan, patuh? Bisa saja mereka membayangkan semacam itu.