Ketika Kepintaran dan Kepandaian Rontok di Hadapan Allah

Catatan Majelis Maiyah Padhangmbulan, 23 Desember 2018

Malam ini udara kota Jombang terasa dingin. Mendung menggantung sejak sore. Tiba di desa Mentoro udara terasa semakin sejuk. Kegembiraan jamaah dimulai sejak mereka antre memarkir motor dan mobil.

Menuju lokasi pengajian, seperti menjadi tradisi pengajian di desa, para penjual berderet sepanjang jalan. Seorang ibu menemani anaknya melihat lukisan yang dipajang oleh pedagang. Pada saat yang sama santri TPQ Halimatus Sa’diyah membacakan puisi tentang Ibu. Saya jadi teringat puisi Mbah Nun, “Ibunda” dalam Buku Ibu, Tamparlah Mulut Anakmu.

Malam ini saya berada di rahim ibu yang melahirkan ratusan, ribuan, jutaan anak Maiyah, yang tampak maupun yang tidak tampak, di seantero tanah negeri ini, di Indonesia dan luar negeri. Ibu yang sederhana dan bersahaja, yang menyayangi, memangku, merangkul anak-anaknya dalam dekapan kasih sayang yang sepi.

Ibundamu,
tanah airmu,
rakyatmu
Tak akan pernah bisa engkau kalahkan
Engkau merasa menang sehari semalam
Esok pagi engkau tumbang
Sementara Ibundamu,
tanah airmu, rakyatmu
Tetap tegak di singgasana kemuliaan

(Ibunda, Emha Ainun Nadjib)

Dan malam ini, jamaah Padhangmbulan kembali berkumpul, memaknai setiap tetesan ilmu: Sinau Bareng dalam kemesraan dan kegembiraan yang polos dan otentik.

Dibuka shalawat oleh Mbak Yuli dan dilanjutkan dengan simulasi respons jamaah tentang pengalaman mengikuti Maiyah. Enam jamaah naik ke atas panggung. Bermacam respons disampaikan, mulai dari pencerahan cara berpikir, pembelajaran toleransi hingga pemaknaan terhadap kehidupan.

Poin dari jamaah telah disampaikan. Sinau Bareng dimulai tidak secara sepihak. Dialog interaktif dilangsungkan sesuai konteks pembicaraan yang disampaikan jamaah. Mbah Nun merespons pelan-pelan, setahap demi setahap.

“Anda mendapat ilmu dengan cara berkeringat atau langsung menelan kata-kata?” tanya Mbah Nun untuk menakar kesiapan jamaah cara belajar dan memaknai peristiwa.

Mengerti cara sinau dan memahami cara belajar merupakan sikap primer dalam acara Sinau Bareng. Sementara, pada sisi fakta yang lain, kita kerap kehilangan pijakan karena mementingkan karepe dhewe, sehingga luput menangkap fenomena secara apa adanya.

Sebelum melangsungkan simulasi bersama jamaah, Mbah Nun mengajak semua yang hadir untuk membaca surat Al Fatihah yang ditujukan kepada Cak Fuad. Mudah-mudahan Beliau sehat selalu.

Lalu, dimulailah simulasi yang diikuti oleh lima belas jamaah. Beberapa simulasi yang dipandu langsung oleh Mbah Nun adalah ekspresi wajah, peragaan binatang, dan secara kolektif membentuk “bangunan” tumpeng, ambeng dan Ka’bah.

Dari ekspresi wajah, jamaah diajak berpikir kenapa masih ada yang malu-malu menampilkan bibir methot, mangap, mecucu dan sebagainya. Sedangkan jamaah juga merespons bahwa yang semestinya harus malu adalah melakukan perbuatan yang merugikan diri sendiri dan orang lain, seperti mencuri, menghina, merampok.

Jamaah juga belajar kepada hewan dengan cara menirukan gerakannya. Lima belas jamaah lalu memperagakan posisi hewan sesuai pilihan masing-masing. Tidak malu memberi pemaknaan terhadap apa saja, termasuk kepada hewan yang dipandang “sebelah mata” dalam diskursus ilmu akademis.

Simulasi ketiga dikerjakan secara kolektif. Tumpeng, ambeng, dan Ka’bah–ada apa dengan ketiga tampilan itu? Eksplorasi pemaknaannya sangat luas dan dalam. Mbah Nun menggoda cara berpikir jamaah dengan melakukan tanya jawab secara langsung.

Tumpeng, ambeng dan Ka’bah dimaknai secara substansial yang diberangkatkan dari tampilan fisik. Tumpeng yang tampil secara mengerucut ke atas disandingkan dengan pemaknaan terhadap Ka’bah yang segala sisinya sama atau kubus. Semakin ke atas tumpeng dihuni oleh semakin sedikit orang dan pihak. Bahkan, puncak paling puncak dari tumpeng adalah sebutir upo. Dan siapakah sebutir upo itu dalam konteks masyarakat muslim?

Adalah siapa saja yang oleh umat di-habib-kan, di-kyai-kan, di-ulama-kan, di-ustadz-kan. Apa bekal mereka sehingga berada di puncak tumpeng dan dekat dengan langit? Apa modal mereka sehingga melangit dan “akrab” dengan Allah? Simulasi dari tanya jawab bersama jamaah menemukan jawaban sementara adalah ilmu. Kenapa sementara? Karena Mbah Nun membedah kejumudan tentang pengertian, dimensi, ruang lingkup, konsekuensi dari apa yang dianggap ilmu.

Bahkan memahami ilmu kita tersesat ke jurang kepintaran dan kepandaian yang produknya adalah kesombongan dan arogansi dalam skala individual dan institusional.

Sedangkan Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik (liutammima makaarimal akhlaq). Dari cara pandang ini Mbah Nun menegaskan, ilmu bukan jalan utama untuk diterima Allah. Semua kepintaran dan kepandaian akan rontok di hadapan Allah Swt.

Yang kita setorkan kepada Allah adalah cinta, kesetiaan, akhlak yang baik. Siapapun diri kita dan apapun identitas kita sesungguhnya memiliki peluang yang sama dekat dengan Tuhan. (caknun.com-asy)