Kesadaran Tertinggi

Mukadimah MaSuISaNi Juli 2018

Misteri langit-langit kesadaran manusia yang termaktub dalam buku-buku suci itu, ternyata dianggap sangat penting oleh Tuhan. Penting, karena manusia sudah dinobatkan sebagai wakil-Nya di muka bumi.

Hanya manusialah yang mampu menampilkan hampir seluruh sifat-sifat (kualitas-kualitas) ketuhanan. Sudah dititipkan potensi kualitas-kualitas-Nya dalam diri manusia. Built in; yaitu fitrah (primordial nature).

Tidak seperti batu yang sebatas menampilkan kualitas kuat dan keras, tanaman sebatas kualitas hidup dan tumbuh, juga binatang sebatas kualitas gerak dan marah; misalnya.

Tugas pokok manusia adalah terus menaiki langit-langit kesadaran berikutnya. Bukan terperangkap dalam langit kesadaran materi saja. Hidup hanya sebatas perjalanan horizontal untuk melampaui lorong ruang dan waktu, yang setelahnya mati menjadi bangkai.

Melampaui langit kesadaran (awal) jasmani; selesai dengan persoalan kematerian, kemelekatan pada kematerian jauh berkurang. Kemudian naik ke perjalanan berikutnya, langit kesadaran (tengah) jiwa, kesadaran pada pemahaman dan pendalaman makna-makna kehidupan.

Melampaui langit kesadaran tengah; selesai dengan persoalan diri sendiri, mampu membangun dan menjaga keharmonisan hidup dengan alam semesta. Kemudian naik ke perjalanan berikutnya, langit kesadaran (tinggi) ruhani, memahami hakikat kehidupan dan penciptaan, kesadaran pada kualitas-kualitas ilahiah yang melampaui batas-batas pikiran dan jiwa manusia.

Tidak banyak yang mengurai lapisan langit kesadaran tertinggi (ruhani); beberapa agama mengungkapnya dengan simbol-simbol. Jabarut, Malakut, Mulk dalam tradisi Islam; Bur, Bwah, Swah dalam tradisi Hindu; Langit Atas, Tengah, Bawah dalam tradisi Marapu Sumba.

Namun, setipis apapun jejak-jejak perjalanan naik, tetap akan ditemukan oleh manusia yang mau dan bersungguh-sungguh menempuhnya. Itu keniscayaan. Kita kah?

Misteri langit-langit kesadaran manusia yang termaktub dalam buku-buku suci itu, ternyata dianggap sangat penting oleh Tuhan. Penting, karena manusia sudah dinobatkan sebagai wakil-Nya di muka bumi. Hanya manusialah yang mampu menampilkan hampir seluruh sifat-sifat (kualitas-kualitas) ketuhanan.