Kesadaran Debu

Mukadimah MaSuISaNi Juni 2018

Sebulan puasa (setengah terpaksa yang terlanjur dianggap pengorbanan luar biasa dan harus ditutup dengan kemenangan) belum lama berakhir.

Seperti biasa—padahal sudah puasa—masih saja ada yang merasa lebih baik dari bumi, merasa lebih tinggi dari langit dan merasa lebih mulia dari Iblis ataupun Malaikat. Meski belum tentu benar tapi belum tentu juga salah merasa-rasa itu, beritanya jelas termaktub dalam buku-buku suci.

Dipastikan dengan syarat dan ketentuan berlaku yang tertentu, berita kemuliaan dan keistimewaan dalam derajat penciptaan hanya diberlakukan bagi yang berkesadaran.

Sadar bahwa elemen penciptaan tidak terdiri dari satu unsur materi saja. Kesadaran materialistis dipuncaki pada kesadaran rasa lapar. Sampai di puncak, hingga terlampaui, maka akan dijumpai lapisan kesadaran berikutnya. Pemahaman dan pendalaman makna-makna kehidupan dimulai dari kesadaran ini. Kesadaran jiwa katanya.

Itulah ritual puasa, untuk memuncaki kesadaran materialistis, berujung di Idul Fitri, simbol lahirnya kesadaran fitrah atau primordial nature yang aslinya milik Sang Tuhan.

Ini bukan ranah capaian manusia, makhluk yang dengan gratisan senang mengaku-aku dan merasa lebih-melebihi itu.

Lebih di mananya? Lebih apanya? Dan bagaimana?

Mungkin sedang lupa dan atau sudah bablas, hidup dalam kehidupan bukan jalan satu arah. Selalu semangat pergi tanpa mau pulang atau malah belum tahu kalau ada saatnya untuk pulang.

Melulu keluar tanpa ke dalam. Maunya hanya tahu dari roti ke varian rasa dan bentuknya. Lupa kalau roti berasal dari tepung, kumpulan bulir-bulir halus laksana debu dan alam semesta pun seperti roti, berasal dari yang sedebu. Bablas kurang tahu diri bahwa dirinya tak lebih dari remah debu di jagat raya ini.

Jika sebagai debu—unit terkecil dari kesadaran materialistis—belum terkuak, bagaimana mungkin menguak kesadaran di derajat berikutnya?

Kelembutan akhlak, kehalusan budi pekerti dan misteri langit keruhanian, semua itu nyata dalam derajat kesadaran yang lebih tinggi. Ternyata roti manis bulat rasa coklat dalam kesadaran materialistis.

Jika segala yang bermateri, akan luluh-lantak hancur-lebur rusak binasa, lantas apa yang tersisa lagi untuk disadari hanya dengan berbekal kesadaran materialistis?

Selayaknya manusia menerima diperingatkan agar kembali mencermati lagi apa yang termaktub dalam buku-buku suci yang mengungkap misteri langit-langit kesadaran itu.

Kembali menyadari semua elemen penciptaan melalui unsur-unsur kemanusiaannya,

meluaskan pikiran sang pintu jiwa, meluaskan jiwa sang pintu hati, terbukanya hati dan kelahiran ruhani.

Kembali pada kesadaran sedebu.

Sebulan puasa (setengah terpaksa yang terlanjur dianggap pengorbanan luar biasa dan harus ditutup dengan kemenangan) belum lama berakhir. Seperti biasa—padahal sudah puasa—masih saja ada yang merasa lebih baik dari bumi, merasa lebih tinggi dari langit dan merasa lebih mulia dari Iblis ataupun…