Kesadaran Debu, Kesadaran Tertinggi

Catatan MaSuISaNi 30 Juli 2018

Maiyahan Masuisani di akhir bulan Juli, tepatnya 30 Juli 2018 bertempat di Umah Wisanggeni. Ketika waktu menunjukkan 20.30 WITA yang merupakan Waktu Istiqomah untuk kegiatan-kegiatan di Umah Wisanggeni, acara Masuisani kembali dibuka seperti biasanya. Pasca dua kejadian alam yang diawali dengan Gerhana Bulan total yang terjadi pada tanggal 28 Juli 2018 dan hari berikutnya 29 Juli 2018 fenomena alam terjadi di Lombok Timur dengan adanya gempa. Kejadian tersebut merefleksikan kembali kepada kita bagaimana kita menerima itu sebagai sesuatu yang harus diterima.

Ada banyak teman baru dari beberapa daerah yang datang, di mana datangnya tidak diundang, pulang pun tidak diantar. Ini yang menjadikan tali silaturahmi semakin hangat. Yang jauh mendekat dan yang dekat semakin dekat. Ada yang dari luar Pulau Bali datang, ikut memeriahkan Masuisani malam itu.

Dari sini bisa dilihat bahwa Maiyah menerima berbagai kelompok yang datang dari berbagai latar demografis, kebiasaan dan agama. Apalagi di Bali dikenal dengan keberagaman tersebut. Dan puji syukur, keberagaman ada dalam Lingkar Maiyah “Masuisani” yang sedang belajar untuk saling memberikan gagasan, masukan dan mengadakan diskusi-diskusi tentang Kepedulian, Kejujuran dan Cinta yang dapat memberikan pengajaran kepada kita sebagai manusia untuk selalu tidak lupa menyadari dirinya.

Begitulah gambaran suasana yang terjadi pada malam 30 Juli kemarin. Dibuka oleh pembacaan mukadimah dan beberapa tanggapan teman-teman tentang Kesadaran Tertinggi. Kemudian dialunkan beberapa nyanyian untuk menyairkan suasana, pembacaan puisi oleh teman-teman Maiyah yang membuat suasana semakin mesra sampai malam tiba.

Dalam gelaran malam itu juga kembali hadir, Umbu Landu Paranggi seorang yang misterius dalam dunia sastra, dan Hyang Welldo seniman Bali yang dari awal putaran pertama konsisten dalam menjadi narasumber di gelaran Masuisani. Datang juga Pak Kadek salah satu Jro Mangku Bali yang sudah lama bermaiyah (di Jawa) ikut berpartisipasi di malam itu.

Dari diskusi yang berjalan setelahnya, kami merasa bagaimana kesadaran tertinggi manusia mempunyai kesadaran puncak yang berbeda-beda, tentu saja karena pada dasarnya manusia tidak diciptakan sama oleh Tuhan. Dan dalam proses kesadarannya manusia yang masih dalam proses pemahaman berpikirnya sendiri. Menjadi seorang manusia yang sadar bagaimana cara kita menggunakan pikiran kita agar tahu fungsi dan kegunaanya.

Kesadaran juga terbagi dalam 3 lapisan yang berbeda:

1. Kesadaran dalam ruang dan waktu. Yang diwakili oleh tubuh, alatnya adalah panca indera, dan metodenya adalah eksperimen/penelitian. Dari sini saya jadi ingat video di YouTube yang dibagikan oleh caknun.com tentang kesadaran manusia dalam ruang dan waktu. Bagaimana semua makhluk hidup butuh ruang dan waktu. Ruang ini yang adalah rohani. Bagaimana manusia terus menerus haus akan rohani.

2. Kesadaran kedua kesadaran akal alatnya pikiran, bermetode logika hasilnya adalah filsafat.

3. Kesadaran ketiga yaitu kesadaran rohani, alatnya adalah kalau dalam Islam yaitu qolbu, metodenya adalah penyingkapan, dan ini tidak bisa dipelajari tidak bisa diapa-apakan, disingkap saja. Di sini disinggung juga tentang ajaran dari Lao Tse yaitu Taoisme yang cuma ditulis dalam 5250 huruf yang mengajarkan tentang kesadaran Wu Wei yang intinya adalah tentang kesadaran bagaimana kita bisa menerima segala sesuatu apa adanya. 

Mbah Umbu juga berulang kali mengingatkan tentang 8 Tetes yang disampaikan oleh Cak Nun (Tetes) yaitu Melatih Kemanusiaan, Presesi Batas Diri Manusia, Tak Kenal Diri Sendiri, Perasaan Bersalah, Informasi Permukaan, Orang Pandai Berebut Pengakuan, Peradaban Miring, juga Agama Globalisasi. Mbah Nun pernah menyentil tentang agama globalisasi yang salah satu produknya adalah demokrasi, dan demokrasi itu tidak sastra. Demokrasi menyamakan suara dari semua kalangan padahal tidak bisa seperti itu.

Bayangkan jika seorang guru mempunyai 1000 murid lalu disamakan dengan anak SMA 17 tahun ke atas, kan beda kualitasnya. Akhirnya ini yang menimbulkan masalah seperti kebanyakan dari kita sebagai manusia yang tidak mau menyadari dirinya. Seperti misalnya tauge atau kecambah yang tidak mau menyadari dirinya sebagai tauge atau kecambah. Sehingga si tauge/kecambah ikut latihan fitness agar tauge/kecambah tersebut bisa menjadi beringin. Sementara si beringin ternyata ingin menjadi tauge. Jadi kesimpulannya touge fitness tiap waktu juga tidak bisa menjadi beringin, beringin malas pun tidak bisa menjadi tauge. Jadilah tauge, tumbuhlah menjadi tauge. Jadilah beringin, tumbuhlah menjadi beringin.

Malam itu, dari cerita-cerita yang Mbah Umbu sampaikan terlihat bagaimana aura kebahagiaan yang menyelimuti. Kebahagiaan beliau atas tumbuhnya Maiyah yang dikelilingi oleh orang-orang yang berbakat. Seperti kata Toto Rahardjo, Maiyah adalah organisme, meski tidak kelihatan entitasnya tapi hidup punya nyawa. Makanya tidak heran bahwa Maiyah hidup dan terus berkembang.

Terakhir, yang bikin ingat dan bersyukur bisa kumpul dalam Maiyah dan bersama teman-teman Maiyah adalah seperti kata-kata Umbu, “Persis seperti Yogya dulu juga begitu. Inilah keadaan yang melahirkan Emha Ainun Nadjib”.

Maiyahan Masuisani di akhir bulan Juli, tepatnya 30 Juli 2018 bertempat di Umah Wisanggeni. Ketika waktu menunjukkan 20.30 WITA yang merupakan Waktu Istiqomah untuk kegiatan-kegiatan di Umah Wisanggeni, acara Masuisani kembali dibuka seperti biasanya. Pasca dua kejadian alam yang diawali dengan…