Kerinduan Kosmopolitanisme di Salatiga

Catatan Singkat Sinau Bareng Ultah Ke-1268 Kota Salatiga, Alun-Alun Pancasila Salatiga 13 Juli 2018

Tua sekali kota Salatiga ini. Usianya 1268 tahun. Mungkin karena tuanya pula, kota ini merupakan kota paling toleran di Indonesia. Artinya, paling dewasa dalam membangun hidup berdedampingan bagi ragam jenis dan latar belakang penduduknya. 

Kota nan tua ini malam ini sedang memeringati hari jadinya. Menariknya, untuk peringatan ulang tahun kali ini warga masyarakatnya berharap pemerintah menghadirkan Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng. Alhamdulillah, kalegsanan. Sore tadi, meski masih diliputi suasana duka karena kepergian Bu Eni Untari yakni istri tercinta Pak Novi Budianto, Mbah Nun dan KiaiKanjeng bergegas meluncur menuju Salatiga. 

Baik kiranya kita kutip sedikit salah satu pesan sambutan Mbah Nun saat mengantarkan jenazah Bu Nevi. Iya, meski sedih dan sulit membayangkan hari-hari ke depan Pak Nevi yang telah ditinggalkan sang Istri, Mbah Nun tetap mengajak Pak Nevi untuk bangkit, untuk berjuang lagi, untuk berjalan lagi, karena masyarakat masih membutuhkan KiaiKanjeng, masih membutuhkan kegembiraan, ketenteraman, kesenangan yang baik, dan kebahagiaan. Seperti malam ini, masyarakat Salatiga. 

Kalau disambungkan dengan harapan panitia agar dengan kehadiran Cak Nun dan KiaiKanjeng, sesungguhnya angka dan fenomena KiaiKanjeng menemukan persambungan kualitatif. KiaiKanjeng, seperti Saudara-saudata ketahui, sangat menekankan pentingnya belajar ke masa silam yang jauh supaya tahu bagaimana menghadapi masa depan yang juga sebisa mungkin diukur berjangka jauh pula (baca: visioner).  

Usia seribu tahun lebih pastilah memuat pengalaman yang kaya. Maka dalam imajiasi sederhana saya, kota seperti Salatiga bukan sekadar terdewasakan dalam soal pluralisme atau multikulturalisme, melainkan kosmopolitanisme. Yakni pengalaman sosial berinteraksi antar satu orang dengan orang lain yang berbeda latar belakang budaya, etnik, bahkan negaranya. Pengalaman itu berlangsung dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kosmpolitanisme, orang mengalami pengalaman keluar dari identitas diri, dengan output punya wawasan lebih kaya, empati dan simpati kepada orang liyan, dan sikap-sikap penuh keterbukaan. 

Adapun KiaiKanjeng dengan perjalanannya sampai sejauh ini juga sudah piawai melakoni kosmpolitanisme. Yang paling bisa kita catat adalah tur-turnya ke luar negeri. Selebihnya kosmpolitanisme itu terlihat dari kreativitasnya mengolah musik-musik dari berbagai benua di dunia. Dan perannya yang amat penting adalah menghadirkan kosmpolitanisme itu ke berbagai daerah, dengan ragam jenis musik yang diolahnya, dari Timur Tengah, Barat, Nusantara, hingga Afrika. 

Tanpa disadari, KiaiKanjeng telah berupaya mengkospolitanismekan masyarakat yang dikunjunginya lewat Sinau Bareng, baik di desa maupun di kabupaten dengan publik yang luas, maupun di berbagai institusi dengan segmen yang lebih khusus. Anda pun tahu apa arti kosmopolitanisme bagi upaya kita mengikis kesempitan berpikir, kelompok, atau sektarianisme lainnya. 

Jadi klop, antara ultah Salatiga ke-1268 dengan pilihan “ideologi” KiaiKanjeng. Ribuan orang yang datang ke alun-alum Pancasila ini boleh dibaca sebagai kerinduan kepada Kosmopolitanisme yang sudah dipunya Salatiga. Dan ini, janganlah Engkau bosan kalau kita sebut ribuan orang setiap kali Sinau Bareng seperti di Alun-alun ini, karena memang demikian adanya, bukan untuk membesar-besarkan atau me-mark up jumlah. Tidak. Boleh kok dihitung sendiri. Hehe. 

Tatkala di awal acara, Mbah Nun memimpin lagu Indonesia Raya dan lagu Syukur yang penuh hikmat, ini adalah awalan acara ini untuk menuju peneguhan kembali kosmpolitanisme ini. Pelan-pelan setelah itu secara musikal dihadirkan lagu-lagu khasanah Indonesia sendiri seperti Ilir-ilir, dan juga Dangdut. Sementara itu, secara konten, buat Salatiga yang sudah plural dan kosmpolitan, Mbah Nun tinggal memasukkan pesan-pesan sederhana yang mungkin telah luput dari perhatian kesehari-harian kita. 

Contohnya, Mbah Nun ambil dari uang senilai sepuluh ribu Rupiah. Sikap kita kepada uang sepuluh ribu rupiah ini berpengaruh terhadap rasa syukur yang lahir dari ekspresi kita mensyukuri rezeki yang kita punya. Sejak dulu Mbah Nun tidak pernah mengubah konsep tentang uang sepuluh ribu rupiah ini. Bagi beliau, sampai saat ini, uang sepuluh ribu rupiah adalah uang yang sangat besar nilainya. Kalau nilai segitu disyukuri, yang kemudian terbangun dalam diri  bukanlah membeda-bedakan uang berdasarkan nominal yang tertera. Bagaimanakah dengan kebanyakan kita saat ini? Di genggaman tangan kita uang sepuluh ribu, tapi kita yang angankan adalah seratus ribu, satu juta, sepuluh juta, seratus juta, dan seterusnya? Iya tho? Hayo…

Di dalam kosmopolitanisme tentunya sudah include hal fakta pluralisme dan multikulturalisme. Yang membedakan hanyalah kadar dan intensitas interaksi dari masing-masing orang yang beragam itu. Sedemikian intens interaksi seakan.batas-batas identitas dan kultural itu tidak tampak. Nah, dalam Sinau Bareng kita perlu makin menajamkan sorotan mata kita bahwa ragam latar belakang cukup bisa dilihat dari berbagai kategori. 

Laporan kawan saya barangkali bisa membantu, “Alun-alun penuh. Puluhan ribu jamaah. Duduk menyimak dengan tenang. Ikut Sinau Bareng malam ini. Anak anak muda dengan wajah wajah sumringah mengikuti Sinau Bareng malam ini. Sorot mata mereka tampak kangen kepada Mbah Nun. Kiaikanjeng memang termasuk tidak sering ke kota Salatiga. Sekian tahun yang lalu acara di lapangan ini, malam ini kangennya mereka, melingkar, menyimak dengan khusyuk.”

Bahkan ada seorang seniman lukis, yang mohon maaf tidak memiliki tangan, hadir malam ini, dan di tengah-tengah Jamaah sembari mengikuti Sinau Bareng, Ia bentangkan kanvasnya, Ia lukis wajah Mbah Nun. 

Merupakan ekspresi kebersamaan kosmopolitanis bahwa Mbah Nun memberikan kesempatan kepada Pak Walikota, Pembicara dari berbagai agama, dengan porsi yang pas untuk merespons tema-tema yang dibahas malam ini dan apa saja yang berlangsung sejak awal acara. 

Baiklah, kalau seperti ini, satu hal boleh dicatat, bahwa saya rasa tak berlebihan bila Maiyahan seperti malam ini, Sinau Bareng, Ngaji Bareng, sudah menjadi kebutuhan hati mereka, anak anak muda itu.