Kemerdekaan Ibu-Ibu Desa Berceloteh

Liputan Sinau Bareng CNKK di Dusun Kenayan, Widomartani, Ngemplak, Sleman, 10 Juli 2018

“Mau lagu yang  pelan atau yang agak keras?”

Mbah Nun memberi opsi dari atas panggung. Dalam gelaran-gelaran Sinau Bareng, seperti juga saat digelar di dusun Kenayan, Wedomartani, Ngemplak tadi malam, berbagai macam pilihan dibicarakan dan dielaborasi. Bukan seperti di warung siap saji ala demokrasi KFC-isme di mana seolah ada pilihan tapi sebenarnya tidak. Dikira Nusantara ternyata bukan. Di KFC tidak bisa tawar-menawar soalnya, tidak ada kemesraan.

“Ha nggih sing keras no, wes mbengi koq biar gak ngantuk…” Sebenarnya pilihan sudah ditetapkan, tapi ibu-ibu yang duduk di belakang saya dan istri saya ini terus saja mengoceh. Dan itu rasanya sudah berlangsung sejak acara bermula. Ada saja lho yang dikomentarin ibu ini, karena keterbatasan bahasa saya agak kurang paham. Istri saya malah sering tertawa mendengar celotehan sang ibu Nuswantoro ini.

Giliran Mas  Doni bertanya “Mau Fix You atau Nothing Compare?”. Sebagian jamaah memilih Fix You, sebagian memilih Nothing Compare.

“Dua-duanyaaaaa noo. Mosok mung siji” Ibu itu lagi? Atau ibu lain ini?

Berceloteh memang kemampuan khas manusia desa. Kita bisa mendiskusikan mana sekarang yang masih desa murni dan mana yang desa hasil dari pengaturan modernitas. Tapi logat desa, itu tetap terbawa. Bukan logat yang ilat Jowo meddog saja, tapi logat juga soal kemerdekaan pikirnya yang terbawa.

Kemerdekaan sedikit nakal-nakal, kesukaan menggugat-gugat otoritas itu khas manusia desa. Ilmu sejarah bisa saja coba memetakan kekuasaan politik semisal era kekuasan raja siapa di daerah mana, era kolonial, era NKRI atau dan sebagainya. Tapi pada tataran masyarakat desa, kekuasaan itu semu-semu saja. Tidak ada sistem buatan manusia dan manusianya sekaligus, yang pernah benar-benar berkuasa atas hati dan pikiran manusia desa.

Nusantara itu ramah? Iya memang, tapi jangan lupa keliaran dan kenakalannya itu. Dari sudut pandang tertentu, agak susah diatur. Kesalahan pertama sistem yang mencoba menaklukkan keliaran manusia desa adalah, potensi bengal mereka coba ditundukkan dengan berbagai legitimasi. Legitimasi posisi pengetahuan, legitimasi politik, legitimasi ideologi dan banyak lagi.

Karena itu kita coba-coba melahirkan pendidikan yang menjinakkan, manusia desa diyakin-yakinkan untuk jangan protes sama orang-orang guru keramat nanti kualat, pengajian-pengajian kita akhirnya penuh dengan “njih nopo njih” pengetahuan dan pemahaman agama hasil penjinakan ini pun kemudian sekadar melahirkan reproduksi pengetahuan yang cuma mengulang-ulang tanpa kontinuasi. Celotehan manusia desa selalu coba diredam selama berabad-abad. Ketika era internet melanda, hasil celoteh yang teredam beberapa abad itu kemudian menjelma jadi kekurangmampuan memfilter apa-apa yang layak dibicarakan, diposting.

Tapi dalam Sinau Bareng, keliaran-keliaran itu diberi tempatnya. Manusia desa tidak dianggap awam hanya karena kurang baca kitab-kitab. Di sini semua boleh bicara. Toh dari pengalaman zaman, kita tahu percuma juga coba mendiamkan celotehan-celotehan liar manusia desa Nusantara.

Dalam Sinau Bareng, urusannya bukan ilmu dulu. Bukan pintar wal makrifat ndakik-ndakik. Mbah Nun sempat memberi pemetaan, bahwa yang datang ke Sinau Bareng ini ada yang memang sejak awal membawa pemahaman keilmuan sendiri dengan analisis-analisisnya, jadi akan punya komparasi. Kedua, ada yang tanpa banyak berpikir tapi hatinya cocok dengan gelombang Sinau Bareng dan ketiga, ada yang pokoknya datang. Mana yang baik? Bukan kita yang berhak memutuskan.

Saya menikmati Sinau Bareng dengan celotehan-celotehan dengan stamina tak habis-habis seperti ibu di belakang itu.

Toh walaupun liar, tampaknya ibu-ibu desa ini tetap paham panggonan. Celotehan itu tidak pernah bernada merendahkan, bahkan apakah itu ibu yang sama atau ibu-ibu lain?  Yang menetes-netes haru air matanya ketika satu nomer sholawat dilantunkan. Di tengah lantunan sholawat, Mbah Nun menyarankan agar kita ‘bernegosiasi’  dengan Gusti Allah, kita beli ridho-Nya dengan kebaikan dan kemesraan kita serta dengan penderitaan dan ketidakberdayaan yang kita alami.

Mungkin ibu-ibu ini sangat memahami artinya penderitaan, di antara celotehan nakal itu, ada beban berganda-ganda dalam hidup mereka. Sebagai manusia desa, sebagai perempuan, sebagai ibu, sebagai warga dunia. Celoteh itu, juga air mata itu, mungkin adalah cara para ibu desa menawar, membeli, menegosiasikan rahmat dan ridho Allah. Dan ibu, kita tahu, yang dibelanjakannya selalu pertama dan utama pasti untuk anak-anaknya. Ibu desa pun seperti itu, biar anak bernama NKRI tampaknya masih selalu durhaka saja. Celotehan ibu adalah tawar-menawar mesra yang menembus langit. (MZ Fadil)

“Mau lagu yang  pelan atau yang agak keras?” Mbah Nun memberi opsi dari atas panggung. Dalam gelaran-gelaran Sinau Bareng, seperti juga saat digelar di dusun Kenayan, Wedomartani, Ngemplak tadi malam, berbagai macam pilihan dibicarakan dan dielaborasi. Bukan seperti di warung siap saji ala demokrasi…