Kemenangan Nur Muhammad

Pada 7.10.2018 saya shalat hajat dengan mewiridkan 3 firman-Nya. Mohon agar Nur Muhammad jangan diuji untuk tidak menang dan mengungguli Ghor al-Mutakabbir.

Ini soal martabat ahsanu taqwim, dzurriyatul Adam, ahlu baitillah wa baldatihi. Bukankah semua bilang “menghina satu manusia adalah menghina seluruh ummat manusia”?

Kalau tak maqbul, hatiku pasti terguncang, berubah pandangan hidupku, sehingga banyak hal mungkin akan kuhancurkan. Apalagi si mutakabbir itu sampai pernah sesumbar “Yesus pun akan saya tendang pantatnya”.

Ternyata Allah memperkenankan, meskipun hanya di sejengkal waktu, tabbat yadahu, wa ja’alnal aghlala fi ‘unuqilladzina kafaru. Rear naked choke, bahkan cukup di dagunya, tak perlu dicekik lehernya. Remeh dan receh.

Setelah itu ricuh, karena diricuhi martabatnya: Nur “qotilu fisabilillah alladzina yuqotilunakum”. Si mutakabbir untung karena tak sampai “tohpati”. Kemudian, ayo silakan para rasis kasih hukuman.

Mohon izin, tak siapapun perlu memahami ini, asal mengistiqamahi-Nya. Toh terdengar suara dari langit: “He, jangan GR. Allah memenangkan Nur Muhammad belum tentu karena shalat dan doa mu”.

(Mbah Nun)