Kembang Semerbak Mengharumi Surga

Petikan sambutan Cak Nun usai pemakaman Yon Koeswoyo, Jakarta 6 Januari 2018

“…Mas Yon dengan seluruh keluarga besar Pak Koeswoyo pada tempat yang tidak seharusnya.

Kalau kita punya pandangan luas, kalau kita mengerti manusia, kalau kita mengerti kebudayaan, kalau kita mengerti proses keindahan pada manusia, kalau kita mengerti jalan yang bermacam-macam untuk menuju tauhid kepada Allah Swt, maka Mas Yon Koeswoyo dan seluruh keluarga, Mas Tonny, dan yang sekarang masih bersama kita Mas Nomo dan Mas Yok, dan seluruh keluarga Pak Koeswoyo, mereka adalah pahlawan nasional. 

Anda lihat mereka berjuang sejak tahun 60-an. Anda bandingkan, ada orang yang jadi pahlawan karena pidato beberapa jam, sudah jadi pahlawan sampai sekarang. Sementara Pak Koeswoyo, putra-putranya, sampai cucu-cucunya, berpuluh-puluh tahun, berpuluh-puluh tahun, mereka bukan hanya menghibur masyarakat. 

Mereka tak bisa memahami Yon Koeswoyo, Nomo, Tonny, Yok. Mereka pikir keluarga Koeswoyo adalah penyanyi. Bukan. Mereka adalah orang yang sudah hidup di hati Anda semua. Mereka adalah orang yang menyanyikan isi hati Anda. Bukan mengisi hati Anda dengan nyanyiannya. Tetapi yang dinyanyikan oleh keluarga Koeswoyo, oleh Mas Yon dan lain semuanya, adalah hati Anda sendiri. Maka, orang yang baru mendengar lagunya Koes merasa sudah pernah mendengarnya, merasa sudah menghapalnya, di mana saja. Karena yang mereka nyanyikan bukan kehendak mereka. Yang mereka nyanyikan adalah isi hatimu bangsa Indonesia. 

Karena itu, meskipun pemerintah tidak mungkin meresmikan Mas Yon Mas Tony dan semua keluarga Koeswoyo sebagai pahlawan, tapi kita semua yang hadir di sini tak bisa mengelak mereka adalah pahlawan kita sampai ke surga. 

Kita yang masuk neraka tidak akan bisa kerasan mendengarkan lagu-lagunya Koes, karena kita sibuk dengan siksaan api neraka. Tetapi, kalau kita naik bersama-sama Mas Yon di Surga, maka kita sangat membutuhkan lagu-lagu mereka. Dan lagu-lagu mereka bukan karya. Lagu-lagu mereka adalah hati kita sendiri.

Sangat banyak yang bisa saya kemukakan, tapi saya sangat mencintai mereka, dan saya mengharapkan para pengamat, penulis, pemerintah, dan departemen-departemen terkait, untuk mencari ilmu yang lebih luas dan tinggi dan lebih komplet untuk memahami keluarga Koeswoyo. Karena pemahaman kita selama ini hanya fakultatif, hanya sebagian, hanya linier. Kita tidak mengerti kelengkapan Koes. Kita tidak mengerti sebenarnya di mana letak keistimewaan mereka. 

Saya secara pribadi terus akan mencoba menulis mengenai dimensi-dimensi yang orang tidak ketahui. Terus terang, banyak masyarakat tak paham atau pemahamannya di bawah lima persen terhadap keluarga Koeswoyo. 

Mereka tidak mengerti mengapa mereka dulu dipenjara pada zaman Bung Karno, dan mengapa mereka mengalami bermacam-macam hal. Mereka tak mengerti siapa Tonny, siapa Nomo, melakukan apa saja, mereka tidak tahu. Dan orang macam mas Yon ini adalah orang yang setia kepada kehendak Allah. Orang yang sangat tekun. Orang yang bahkan tidak memperhatikan usianya. Dia umur 77 tahun bisa di atas panggung nyanyi 25 lagu nonstop tanpa minum. Itulah Yon Koeswoyo. 

Jadi, Mas Yon, Barokallah Mas Yon, Barokallah Mas Yon.. .Aku tak bisa membayangkan Engkau kecuali kita bertemu di Surga. Mas Yon, Engkau telah menjadi kembang yang semerbak mengharumi seluruh surga. 

Juga Mas Tonny yang berhusnul khotimah. Mas Muri yang tulus orangnya dan sangat luar biasa. Keluarga Koeswoyo jangan dipandang dari simbol-simbol yang kelihatan pada mereka. 

Nilailah keluarga Koeswoyo dari ajaran-ajaran yang dia bawa dari Wali Songo, ajaran-ajaran yang mereka bawa dari kakek nenek moyang kita terdahulu. Mari kita pelajari bersama. 

Kita dikasih banyak orang besar, tapi kita tidak paham. Kita punya Gus Dur, punya Cak Nur, punya Buya Hamka. Kita punya Syaikhona Kholil Bangkalan, kita punya Mbah Hasyim, kita juga punya KH Ahmad Dahlan. Tapi mereka kita bawa ke kehidupan kita untuk memenuhi kepentingan politik kita. Mari kita pahami Koes Plus, Koes Bersaudara, Mas Tonny, dan yang masih ada bersama kita Mas Nomo dan Mas Yok, kita pahami tidak untuk kepentingan kita, tapi untuk mensyukuri bahwa Allah menganugerahi makhluk yang luat biasa ini kepada Bangsa Indonesia. Amin ya Robbal ‘alamin…”

***

Memuncaki sambutan tersebut, Cak Nun memohon izin kepada segenap hadirin untuk beliau membaca surat An-Nuur ayat 35 disertai pengungkapan perasaan  cemburu beliau kepada Yon Koeswoyo yang telah jauh lebih lama memperjuangkan kemurnian ketimbang yang sudah beliau lakukan, sementara beliau belum tahu apakah akan diberi kesempatan usia sampai seusia Yon Koeswoyo.

“…Mas Yon dengan seluruh keluarga besar Pak Koeswoyo pada tempat yang tidak seharusnya. Kalau kita punya pandangan luas, kalau kita mengerti manusia, kalau kita mengerti kebudayaan, kalau kita mengerti proses keindahan pada manusia, kalau kita mengerti jalan yang bermacam-macam untuk menuju tauhid…