Kembang Jagung, Harapan dan Keberuntungan Besar

Markesot tidak usah dipahami secara menyeluruh sebagai seekor sapi. Cukup ambil sedikit tlethong-nya. itu pun tak harus benar benar paham tlethong itu apa. Asalkan tlethong itu membuat hidup kita lebih baik, hati kita lebih bersih, pikiran kita lebih jujur, mental kita lebih tangguh, iman kita menjadi lebih kuat dan dalam, kedekatan kita kepada Tuhan dan Kekasih-Nya meningkat: itulah yang namanya tadabbur”. –Daur 64Revolusi Tlethong

Demikian cuplikan dari tulisan Daur-I Revolusi Tlethong Mbah Nun yang sampai sekarang masih membekas dan menjadi kata kunci dalam berproses menyelami samudera ilmu gusti Allah dengan konsep tadabbur.

Salah satu konsep yang paling penting pada Maiyah yang dibangun oleh Mbah Nun yaitu mengenai taddabur. Metode yang memacu untuk berbuat baik. Maka dari itu ketika Mbah Nun memberikan nama SabaMaiya untuk Lingkar Maiyah Wonosobo, kami mentadabburi nama tersebut sebagai: Saba berarti berkunjung, mangayubagya, melingkar. Sedangkan Maiya adalah Maiyah atau kebersamaan. Jadi SabaMaiya bermakna menyaba Maiyah (mangayubagya).

Sinau bareng dengan semangat dan harapan Lingkar Maiyah Wonosobo terinspirasi dari kebesaran dan keberkahan Negeri Saba yang dituliskan dalam Al-Qur`an sebagai negeri yang baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur, gemah ripah loh jinawi yang tergambar jelas pada apa yang terdapat di atas hamparan lereng gunung Sindoro-Sumbing tempat kota Wonosobo bertengger. Dan ini patut disyukuri.

Berbicara mengenai harapan, ini mengingatkan pada sebuah pagelaran Tari Topeng Lengger yang merupakan kesenian asli Wonosobo. Ada satu lakon dalam kesenian lengger tersebut, yaitu lakon gerak tari Kembang Jagung. Lakon ini mengibaratkan bahwa dalam laku kehidupan untuk selalu berproses dan berikhtiar. Manusia hidup di dunia hanya diibaratkan seperti mampir ngombe atau ‘outbond’. Yakni sebentar dan sementara saja. Sebab dunia hanya sesaat dan bukan tujuan hidup. Maka yang harus dikerjakan adalah menanam dan menanam. Yang ditanam tidak lain kecuali kebaikan. Setelah itu akan kembali kepada Allah Swt.

Kembang Jagung yang dimaksud bukanlah yang berwujud materi atau fisik. Namun Kembang Jagung yang ditadabburi: seja sik agung (cita-cita besar), dzu hadhdhin ‘adhim memiliki benih-benih (kembang) harapan dan cita. Cita-cita yang dimaksud yaitu cita-cita yang oleh baginda nabi Muhammad Saw adalah keadilan akhlak dan perilaku ummat manusia di muka bumi. Bumi adalah perkebunan luas rahmatan lil’alamin, yang buahnya adalah kemakmuran rohani dan bonus kemakmuran jasmani.

Dalam menempuh cita dan harapan, pasti menemukan rintangan seperti halnya ketika memetik mawar yang harus melewati duri. Tetapi selama kita berusaha ikhtiar dan fokus serta semua kita sandarkan kepada Allah, maka akan menjadi mudah. Wa ila rabbika farghab.

Semoga di dalam lingkaran Maiyah, anak cucu diberi kemudahan dan rezeki pemahaman dalam menyelami ilmu-Nya yang berpendar dengan wasilah lingkaran Maiyah. Harapannya para anak cucu Generasi Maiyah dalam menapakkan kaki ke depan, terus menjaga dan meningkatkan keseimbangan, presisi. Juga memiliki kematangan ilmu dan laku dalam menjalankan akitvitas Maiyah yang getarannya tak hanya kedalam namun juga keluar. Serta untuk selalu mengistiqomahi menghadirkan Rasulullah Saw sebagai wujud dari segitiga cinta diantara kita dan Allah Swt.

Markesot tidak usah dipahami secara menyeluruh sebagai seekor sapi. Cukup ambil sedikit tlethong-nya. itu pun tak harus benar benar paham tlethong itu apa. Asalkan tlethong itu membuat hidup kita lebih baik, hati kita lebih bersih, pikiran kita lebih jujur, mental kita lebih tangguh, iman kita…