Kembali Bercengkerama di Kenduri Cinta

Liputan Majelis Maiyah Kenduri Cinta, 12 Oktober 2018

Kerinduan itu hanya dirasakan oleh orang yang mendambakan perjumpaan. Dan obat paling mujarab bagi kerinduan adalah bertemu dengan sosok yang kita rindukan untuk bertatap muka. Begitulah yang dirasakan pula oleh jamaah Maiyah di Jakarta dan sekitarnya. Kerinduan untuk berkumpul, duduk bersama untuk Maiyahan mencapai titik puncaknya pada setiap menjelang digelarnya Sinau Bareng di Kenduri Cinta.

Sudah cukup banyak testimoni yang mengatakan bahwa Kenduri Cinta adalah sebuah oase yang menyegarkan di Jakarta. Tentu saja bukan oase yang sesungguhnya dalam wujud nyata sebuah danau di tengah padang pasir yang gersang. Jakarta sebagai ibu kota Indonesia adalah kota yang memiliki resisten yang tinggi bagi masyarakat Indonesia. Banyak pekerja yang datang dari luar Jakarta mengadu nasib di Jakarta, bekerja setiap hari, mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk bertahan hidup.

Jakarta juga menjadi pusat dinamika politik di Indonesia, hampir 90% tema yang diperbincangkan oleh banyak orang di media massa baik cetak maupun elektronik bersumber di Jakarta. Tak terkecuali di media sosial, di mana kegaduhan demi kegaduhan yang terjadi pun berpusat di Jakarta. Seolah-olah Indonesia hanya Jakarta saja.

Selama 18 tahun berproses, Kenduri Cinta hadir di tengah masyarakat Jakarta dengan kultur dan budaya yang sangat khas. Selama 18 tahun ini, Cak Nun menemani masyarakat di Jakarta melalui forum Kenduri Cinta untuk membicarakan apa saja, mulai dari persoalan sehari-hari hingga isu nasional yang juga diperbincangkan banyak orang.

Malam ini adalah Kenduri Cinta edisi Oktober 2018. Sebuah tema diangkat: “Maiyah Bumi dan Manusia”. Bisa dikatakan, tema kali ini adalah dalam rangka bagaimana Maiyah selalu merespons peristiwa yang terjadi di Indonesia. Akhir bulan lalu, bumi Palu berguncang. Normalnya, jika dilihat dengan kacamata ilmu pengetahuan, pergeseran lempeng bumi itu adalah sebuah hal yang wajar. Bagi Bumi sendiri, itu merupakan sunnatullah. Bumi yang merupakan salah satu makhluk Allah hanya menjalankan apa yang sudah diperintahkan oleh Allah kepadanya.

Ketika sebuah fenomena alam terjadi, manusia diberi kebebasan untuk memaknai dan memahami. Untuk kemudian mengambil ilmu dari peristiwa yang telah terjadi. Ada yang menyebut sebagai musibah, ada yang menganggap sebagai bencana, ada pula yang memiliki kesimpulan bahwa itu adalah azab.

Mungkin, kita sebagai manusia sudah tidak waspada, tidak peka, tidak mawas diri, bahkan alam pun sudah kita abaikan keberadaan dan perannya. Malam ini, mari kita sinau bareng untuk menemukan presisi dalam memaknai fenomena alam yang terjadi akhir-akhir ini. Yang perlu kita sadari kembali adalah, bahwa alam semesta ini, termasuk bumi adalah saudara tua kita. Manusia adalah makhluk paling yunior yang diciptakan Allah jika dibandingkan dengan alam semesta.

Buku Cak Nun