Kejujuran Alam

Mukadimah MaSuISaNi Agustus 2018

Dalam perjalanan kehidupan, alam semesta telah diciptakan terlebih dahulu daripada manusia. Alam merupakan “Saudara Tua’’ yang harus kita akui dan hormati keberadaanya. Menurut seorang tokoh sufi Jalaluddin Rumi, penciptaan alam semesta adalah sebuah wujud yang di dalamnya terdapat dialetika kemesraan cinta, antara pencipta dengan yang diciptakan.

Bahwa dalam penciptaanya, alam beserta isinya adalah segala bentuk refleksi yang berasal dari nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Pergerakan, perputaran dan thawafnya alam semesta merupakan sebuah reaksi dari rangkaian frekuensi gelombang cinta yang berasal dari Sang Pencipta.

Secara etimologi, dalam tata bahasa Arab, kata “alam” sendiri berasal dari akar kata ‘alima-ya’lamu, bermakna “mengetahui. Dari akar kata ini terbentuk kata ‘alam yang artinya tanda atau petunjuk. Kemudian terbentuk lagi kata ‘alamah yang bermakna suatu tanda yang melalui dirinya dapat diketahui sesuatu yang lain (ma bihi ya’lamu al-syai`). Dari keterangan tersebut, dapat diperoleh pengertian bahwa Alam adalah sesuatu tanda atau petunjuk (baik di langit dan di bumi) dalam kesadaran dan pengetahuan akan adanya keberadaan kekuatan yang mengatur dibalik penciptaanya. Atau dalam bahasa sederhananya, bahwa segala entitas adalah sebuah tanda kehidupan, dan setiap kehidupan dihidupkan oleh yang hidup.

Tuhan menciptakan alam semesta adalah sebagai tempat merenung bagi orang-orang yang berpikir atas pencarian sebuah khazanah tersembunyi dalam kehidupan yang terbatas (panca indra). Alam adalah guru yang paling jujur untuk mengajarkan banyak hal kepada manusia mengenai sebuah kesadaran akan dirinya sendiri. Di mana sejak awal alam semesta ini diciptakan, Tuhan telah menetapkan semua prosedur serta mekanisme kerja dengan sangat teliti, sangat akurat, dan sangat sempurna yang kita kenal sebagai asas tunggal, hukum alam atau keniscayaan. Bahwa setiap pergerakan alam berada dalam keseimbangan, kekhusyukan dan keteraturan pada sebuah orbit penyembahan atau wujud pengabdian kepada Sang Pencipta.

Kita dapat menyaksikan ada siang dan ada malam, ada bulan dan ada matahari, planet-planet yang selalu berjalan pada orbitnya, turunya hujan, hingga sebuah debu yang berterbangan yang pada hakikatnya di dalam semua peristiwa atau gerakan alam tersebut terdapat sebuah pelajaran, hikmah dan pesan atau tanda-tanda yang berasal dari Sang Pencipta. Bahwa Alam semesta menyimpan banyak misteri yang tidak bisa dipahami dengan rasionalitas belaka. Alam mempunyai caranya sendiri untuk berbicara, bergerak dan bersuara dengan nada dan iramanya sendiri serta menyampaikan pesan-pesan kebesaran-Nya dengan bentuk dan estetika sendiri.

Alam juga dapat dikatakan sebagai bentuk lain dari wahyu Tuhan, sama halnya dengan Kitab Suci. Perbedaannya terletak pada keadaan objek yang tersirat oleh batasan-batasan panca indra. Bahwa alam semesta merupakan sesuatu yang diciptakan dengan berbagai bentuk yang berbeda-beda, yang berfungsi sebagai simbol wujud yang secara berkelanjutan diartikulasikan melalui “kalam” yang indah dan kreatif. Jika dalam kitab suci ayat-ayat yang menjadi tanda-tanda yang tersirat, maka alam menyajikan “dirinya” menjadi tanda-tanda keberadaan-Nya.

Setiap proses yang alam lakukan adalah kesadaran pada sebuah dimensi kejujuran akan dirinya. Alam selalu bergerak dan berubah secara dinamis dan teratur. Ia melakukan segala sesuatu dengan upaya nihil, apa adanya dan senantiasa ikhlas atas segala ketentuan dan kehendak-Nya. Tidak ada perubahan alam yang datang dengan cara tiba-tiba. Alam selalu berjalan dalam siklus yang bermula pada titik terkecil menuju titik medium, hingga ke titik puncak yaitu Kemurnian.

Secara harfiah dan batiniah, manusia tidak bisa lepas dengan alam semesta. Manusia adalah bagian dari Alam, semua menjadi satu dimensi yang saling berkaitan. Bahwa matahari tidak pernah ingkar untuk tidak terbit, rumput tidak mengotot untuk tumbuh, pohon tidak pernah enggan membagi oksigenya adalah sebuah khazanah keindahan dari-Nya.

Oleh karena Alam diciptakan terlebih dahulu; Ia memiliki keunggulan dalam sistem kesadaran, maka alam merupakan sebuah “objek/sarana” yang sangat penting dalam proses pencarian hakikat manusia untuk mendekatkan kesadaran kepada tata laku penciptaannya. Serta mempertajam persepsi batin manusia untuk mendapatkan suatu penglihatan yang lebih dalam mengenai pencarian kesadaran akan dirinya.

Ekspresi dari Alam adalah sebuah wujud Kejujuran yang murni berasal dari kesadaran pemahaman asal muasal ia diciptakan. Dari pijakan kesadaran tersebut, Alam memperoleh karunia setiap detiknya, untuk selalu selaras berproses sesuai kehendak-Nya. Bahwa pergerakan semesta merupakan sebuah tanda-tanda atas kasih dan sayang-Nya, yang terjalin dalam ruang dialetika kemesraan Cinta antara Ia dan Sang Pencipta.

Dalam Perjalanan Ruhaniah, selalu ada kebahagiaan yang tak sama. Tetapi mempunyai tujuan yang sama yaitu Tuhan.

Buku Cak Nun