Kejujuran Alam adalah Kejujuran Tuhan

Catatan Majelis Maiyah MaSuISaNi Bali, 28 Agustus 2018

Purnama tanggal 28 malam itu begitu bulat dan dekat sekali. Yang biasanya terlihat cerah keputihan, kali ini bernuansa kemerahan, luar biasa. Penampakan rembulan itu seolah semesta memberi restu perjalanan ke Umah Wisanggeni, berikut penerangan dan jalan lurus. Tidak mendung, tidak pula hujan malam itu.

Acara Masuisani dimulai pukul 20:30 WITA. Hampir tidak ada yang berbeda dengan biasanya, kecuali kali ini diawali dengan lagu Indonesia Raya. Dan yang hadir terlihat berpakaian nuansa merah putih. Baru teringat ini masih bulan Agustus, boleh jadi sekalian mengenang perjuangan pahlawan. Nuansa patriot dan nasional turut melarutkan semua yang hadir dalam rasa persatuan yang kuat malam itu. 

Tema maiyahan kali ini adalah kesinambungan dari tema-tema sebelumnya. Sebut saja; Puasa Ibunda, Kesadaran Debu, dan Kesadaran Tertinggi. Yang pokok bahasannya tidak cukup dengan pemaknaan literal saja tetapi dengan pemaknaan holistik.

Sudah terlalu lama sejak keterlanjuran manusia menobatkan dirinya sebagai pusat keberadaan alam semesta. Tanpa disadari cara pandang terhadap alam yang dianggapnya objektif ternyata masih subjektif.

Upaya subjek (manusia) mengidentifikasi objek (alam), tidak lebih dari daya dan kapasitas manusia sebagai subjek. Jika alam yang jadi objek pengetahuannya itu ternyata di luar jangkauan daya dan kapasitas manusia semisal bintang dan galaksi, jelas bahwa objektifitas yang dimaksud hanya sebatas kemampuan subjek mengidentifikasi objek. Objektifitas semu, dengan kata lain tetap subjektif. 

Bayangkan jika objek pengetahuan itu Tuhan yang mutlak, tanpa batas. Mungkinkah manusia yang penuh keterbatasan mampu mengenali Tuhan dengan objektifitas semu? 

Inilah yang disebut perspektif modern. 

Pemaknaan yang berlaku searah, keluar; yang setara dengan dunia fisik atau materi, mengacu kepada fenomena fisik, skalanya terbentang dari subatomik sampai makrokosmik. Alam tidak dianggap hidup, tidak ada dialog dengan alam. Selanjutnya alam hanya dieksploitasi untuk kepentingan hidup manusia. Mustahil untuk membangun harmoni dengan alam menggunakan perspektif ini. 

Fenomena alam seperti gempa bumi disikapi hanya dengan satu pendekatan nilai saja, moral tok; gempa adalah bencana akibat penduduknya kehilangan moral. Tidak komprehensif dan terlalu subjektif.

Bagaimana dengan Jepang? Yang sejak awal kondisi alamnya sudah sedemikian rawan gempa bumi. Padalal terlihat dalam rekam jejak Sea Games dan Ibadah Haji baru-baru ini saja, masyarakat Jepanglah yang paling rajin membersihkan sampah. Lebih objektif misalnya; gempa dan keberadaan gunung-gunung berapi di Nusantara hendaknya disikapi dengan membangun sekolah gunung atau sekolah gempa. 

Bebeda dengan cara pandang yang menempatkan Tuhan sebagai pusat keberadaan alam semesta perspektif tradisional. Jelas objektif karena senantiasa membuka ruang seluasnya bagi alam semesta sebagai objek pengetahuan untuk mengenalkan keberadaanya sendiri kepada manusia. Melalui berbagi lapisan kesadaran yang dimiliki manusia. 

Perspektif tradisional memaknai alam dua arah, keluar dan ke dalam. Makrokosmik dan mikrokosmik. Meluas dan mendalam. Alam dimaknai sebagai tanda keberadaan Tuhan agar mudah dikenali sekaligus ekspresi (manifestasi/tajalli) Tuhan sendiri. 

Alam dijunjung, dihormati dan disyukuri. Di sini, “Kejujuran” bermakna kesejatian. Kesejatian terjelas yang tersembunyi. Tersembunyi di balik ketiadaan di balik titik di balik garis di balik huruf di balik kata di balik kalimat di balik makna di balik simbol, di balik seluruh kesadaran…

Alam adalah subjek yang meng-objek. 

Kejujuran Alam adalah Kejujuran Tuhan.

Malam itu, suasana kebersamaan yang hangat, penampilan sedulur Maiyah; dari diskusi, pembacaan puisi-puisi, alunan lagu-lagu, lantunan shalawat dan ayat suci. Juga ketulusan semua yang hadir mengikuti dengan khidmat telah meng-gempa-kan hati kita semua, yang getarannya mengingatkan kita kepada sesuatu. Entah apa itu, yang akhirnya kita bawa pulang ke dalam hati masing-masing.

Buku Cak Nun