Kedangkalan Jurnalisme

Pada gelaran Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng di Glagah, Lamongan, hari Rabu tanggal 5 September 2018 M, bahasan yang tampaknya paling besar takarannya untuk dielaborasi berkutat pada soal keberorganisasian. Karena terlanjurnya kita hidup pada tataran organisasi bernama negara, maka kita perlu mengerti betul juga bagaimana sesungguhnya berpikir dengan cara organisme dan organisasi itu.

Sayangnya, baru saja kita diajak untuk menggali bersama hal-hal mendasar semacam itu, rupanya sehari kemudian kedangkalan dan disorganisasi sudah terjadi lagi dalam bentuk produk berita suaranasional.com berjudul “Cak Nun: NU Boleh Ada, Boleh Tidak”.

Dalam keberorganisasian, pemahaman mendasar adalah soal wilayah tugas, maqom berpijak, skala prioritas, dasar gerak, tujuan jangka pendek maupun jangka panjang. Semua ini, dan lainnya yang belum tersebut, mesti berada pada keseimbangan dan kesinambungan, empan papan yang pas dan pantas. Tanpa perlu jauh-jauh mencontohkan, Cak Nun membabarkan dengan meminjam sampel dari penciptaan ayat-ayat Allah yang empiris cetha wela-wela ketok moto. Organisasi tubuh misalnya.

Kita mengenal organisasi modern memang agak belakangan, entah itu sebuah keberuntungan atau kesialan sejarah. Yang disebut dalam pelajaran-pelajaran sejarah kita sebagai era pergerakan pertama (era Boedi Oetomo dllsb) sesungguhnya adalah era di mana kita bersedia suka hati mengadopsi struktur organisasi orang-orang kontinental. Ini bermula juga sejak lifestyle Eropa mulai meresap kepada mainstream masyarakat. Terjadinya hollandanisasi. Kemudian menjadi organisasi lebih besar bernama negara (modern).

Sayangnya, keterlambatan ini (sekali lagi, selain keberuntungan namun juga kesialan sejarah) juga berakibat kita tidak benar-benar paham betul bagaimana berorganisasi secara seimbang. Akibat dari ketidakmengertian ini bisa sangat fatal dan sudah berlipat-lapis dalam kehidupan kita. Naasnya juga tidak ada usaha yang tampak maksimal dari pihak-pihak terkait untuk mengurai tumpukan persoalan ini.

Pihak terkait? Siapa?

Nah, untuk mengerti satu persoalan berkaitan dengan pihak yang mana, itu juga salah satu cara pikir organisasi. Pihak mana bertanggung jawab dalam bidang apa? Pertanggungjawabannya seperti apa? Bertanggung jawab kepada siapa? Atau, konkritnya siapa misalnya yang bertanggung jawab dalam pendidikan politik masyarakat?

Bila merujuk pada UU Partai Politik No.2 Tahun 2008 yang merupakan turunan dari UU No.31 Tahun 2002, maka partai politiklah yang bertanggung jawab pada pencerdasan atau pendidikan politik masyarakat.

Terjadikah? Atau bahkan, mungkinkah terjadi pendidikan politik dari parpol dengan atmosfer perebutan kekuasaan seperti sekarang? Apalagi, pendidikan yang tidak bersifat mendogma? Bisa? Maukah kita? Kapan pernah terjadi?

Maka dari situ bisa dikatakan bahwa, yang dilakukan dalam sinau Bareng CNKK di mana-mana, termasuk dan terutama yang di Lamongan ini adalah usaha nambal bolongan logika yang kurang jangkep. Satu sisi ini adalah pendidikan politik, yang hampir tidak pernah dijalankan dengan maksimal (atau tanpa kepentingan golongan, menambah jumlah massa dllsb) oleh pihak terkait. Siapa pihak terkait? Dengan pengetahuan dasar itu saja kita sudah bisa mengerti, siapa yang mesti kita tuntut untuk berbuat apa.

Andai memang CNKK adalah pihak yang bertangung jawab pada pendidikan politik masyarakat, maka bisa kita tuntut Cak Nun karena lalai melaksanakan tugas dan kewajibannya. Tapi kan kita tahu, Cak Nun dan KiaiKanjeng tidak punya kewajiban untuk itu.

Sinau Bareng ini shodaqoh pada masyarakat. Maka kegagalan pikir seperti berita berjudul “Cak Nun: NU Boleh Ada, Boleh Tidak” tersebut, tidak bisa diartikan sebagai kegagalan Cak Nun dan KiaiKanjeng memberi pendidikan masyarakat.

Yah, kebodohan memang sudah berlapis-lapis, berabad-abad. Pertanyaannya, siapakah yang bisa kita mintai pertanggungjawaban dari kualitas yang sepele semacam ini? Siapa yang mendaku berada pada garda depan pencerdasan mental dan spiritual negeri ini? Kalau kita tidak punya peta organisasi yang jelas, pucuk-pucuk kedangkalan semacam ini hanya akan lahir kembali, lagi dan lagi.

Yang kita sayangkan adalah ketidakmauan belajar. Kita sebagai Jamaah Maiyah juga bukan takut betul dengan citra. Kita juga tidak khawatir diadu-domba karena kita bukan domba, apalagi yang berhati serigala. Yang sekali lagi kita eman adalah, betapa tidak adanya keinginan untuk jangkep. Tapi kemudian, ini kita olah jadi tulisan saja agar jadi bahan sinau bareng kita kembali. Tak ada kebodohan yang tidak bisa kita pelajari dan ambil hikmahnya.

Jadi kita masuk pada membahas berita ini saja, dan untuk itu kita hanya perlu membaca satu alinea pertama. Keseluruhan sudut pandang penulis sudah tergambar gamblang tanpa perlu membaca keseluruhan tulisan. Berita ini—itupun kalau memang layak disebut berita yang minimal berunsur 5W1H—dibuka dengan kalimat, “Budayawan Emha Ainun Najib menyoroti ormas keagamaan NU dan kondisi bangsa Indonesia”.

Pembaca yang sehat akalnya akan langsung tanggap, apa iya selama acara yang durasinya berjam-jam itu Cak Nun cuma ngomongin NU? Seberapa banyak porsinya dan pada konteks apa Cak Nun berkata tentang itu? Kalimat tersebut bahkan hanya sekali lewat, bukan benar-benar mendapat perhatian dan fokus khusus. Namun narasi dalam berita ini kemudian dibangun dengan melepaskan bahasan lain, sehingga ada kesan Cak Nun khusus “menyoroti”. Lho, siapa yang menyoroti?

Kalau mau dilebarkan lensa pandangannya, Cak Nun sebenarnya sedang mengajak manusia untuk berpikir lebih sehat. Bahwa antara diri kita dengan Allah Swt tidak boleh ada penghalang dan pemburam, apalagi penjarak. NU menjadi sampel mungkin karena memang sedang berbicara pada wilayah sosiokultural masyarakat Glagah Lamongan yang lekatnya dengan ke-NU-an.

Apakah maksudnya NU bisa menjadi penghalang manusia dengan Gusti Allah? Bisa! Jangankan NU, Muhammadiyah, Persis, HTI, LDII dll, Maiyah juga bisa jadi penghalang kalau sikap pikir manusianya selalu terjebak pada idolatry, pembekuan, pemberhalaan. Jadi bukan NU-nya, tapi pandangan terhadap NU itu bagaimana. Pun Maiyah jangan sampai berkesadaran Emha Fans Club atau Emha Mania.

Jadi di mana persolannya? Di pola pikir, cara, sudut, jarak dan sisi pandang. Dan selama bertahun-tahun ini apa yang coba dibenahi oleh perjuangan Cak Nun dan Maiyah adalah soal manusianya ini. Maka boleh dong kita gemes kalau ada lagi kedangkalan-kedangkalan begini lahir.

Kita sekarang ini terjebak ingin memasti-mastikan segala sesuatu. Kita sedang tidak siap pada hidup dengan kemungkinan tanpa batas. Produknya? Kesempitan. Kepada sosok, over memuja kalau suka dan over menghujat bila benci. Pada ranah narasi dan ide, sukanya lantas gagap menolak atau latah ngikut. Bicara perdamaian, tapi senangnya mental mengadu. Pas saatnya perang, ngertinya tawuran. Rupanya ndak paham amat juga apa itu perang. Aduh kita ini.

Sama kalau kita mendengar kisah Kiai atau Ulama tertentu akan membantu santri-santrinya agar terhindar dari siksa kubur. Kita bisa husnudhon bahwa itu adalah bentuk mesra dan kinasihnya seorang guru pada murid-muridnya. Ekspresi sastrawi yang mengarsir pada impresi-impresi. Bukan realis garis tegas renaisance, kan? Masa iya diartikan saklek bahwa Kiainya pasti sudah di surga membantu santrinya menghalau malaikat yang akan menyiksa? Gawat kesalahkaprahan pikir kita ini kalau sampai sudah segitu. Maka kita tak perlu heran melihat bagaimana wacana Bhinneka Tunggal Ika-pun bisa dibenturkan pada wacana lain, kenapa? Sekali lagi karena banyak hal dimaknakan dengan sempit. Bahkan kata ”luas” dengan pola pikir seperti ini, bisa diperlawankan dengan kata “ruang”.

Kalimat “menyoroti ormas keagamaan NU…” ini yang kita sorot. Bila kita mencoba membaca pola, tipe komunikasi Cak Nun itu memang membuat setiap person merasa sedang diajak bicara dari dekat. Seperti misal kita membatin pertanyaan dan lantas terjawab dalam elaborasi Cak Nun di panggung. Namun untuk kesehatan pikiran kita sendiri, kesadaran magis sedikit kita turunkan (sebisa mungkin) untuk menganalisa hal ini.

Sepertinya tak sedikit kita bertemu orang yang, ketika melihat Cak Nun di panggung atau bahkan sekadar dari YouTube, merasa diajak bicara person to person. Sebisa mungkin jangan dingeri-ngerikan dulu. Tapi perasaan seperti itu benar ada. Mungkin termasuk Anda juga merasakannya?

Artinya, pola komunikasi Cak Nun membuat tak sedikit dari kita merasa dalam spotlight, dalam sorotan. Kita merasa Cak Nun menyampaikan apa yang kita butuhkan. Sayangnya, kadang pola ini berulang sehingga kita jadi menuntut agar Cak Nun menyoroti kita atau yang kita inginkan Cak Nun soroti. Lantas, kita jadi selalu ingin agar Cak Nun mengutarakan hal-hal yang kita setujui dan tanpa sadar ada sikap mendikte agar Cak Nun juga ikut menyoroti dan menggebrakkan hal-hal yang tidak kita senangi.

Padahal faktanya, ada begitu banyak manusia dengan berbagai ragam latar belakang yang mengalami hal seperti kita: merasa disorot. Manusia-manusia ini, ada yang dari NU, ada Muhammadiyah, HTI, LDII, muslim, non-muslim, nasionalis, kosmopolit, anarkis, pilot, peneliti, matematikawan, santri, kiai, tuan tanah, wartawan, mahasiswa dan entah berapa banyak lagi ragamnya. Semua mendapat apa yang dibutuhkannya masing-masing. Bukan berarti semua adalah kebenaran beku.

Kata kuncinya mungkin adalah pada merasa disorot atau, merasa Cak Nun sedang menyorot sesuatu. Padahal bisa saja tidak. Bisa saja tidak sepenting itu juga.

Tampaknya tidak benar-benar ada sorotan khusus pada Sinau Bareng soal ini. Siapapun yang hadir bisa merasakan prasmanan ilmu dan kegembiraan. Kalaupun ada arsiran yang lebih tebal, justru adalah soal kemampuan kita untuk berpikir lebih jangkep. Melengkapi diri dengan berbagai variabel pengetahuan dan semangat terus mencari.

Ini jelas tidak tercermin dari berita yang kita bahas tadi, yang nampaknya lebih nyaman dengan budaya quotisme. (Redaksi)

Buku Cak Nun