Kecerdasan dan Kreativitas Komunal-Kolektif Lahir dari Keluarga Sehat Terencana

Catatan Sinau Bareng CNKK dan BKKBN di Ponorogo, 28 November 2018

Lapangan alun-alun Ponorogo telah dipadati warga. Dipadati, itu kata dasarnya padat karena memang padat. Padat itu, berkaitan dengan jumlah isi dan volume ruang. Padahal luas ukuran Aloon-Aloon ini. Padat saja, warga dari berbagai macam latar belakang, aksesoris dan pakaian yang dikenakan beragam bentuknya. Mari kita tidak membanggakan atau fokus pada jumlah. Karena sesungguhnya di negeri ini, fenomena apa saja yang bisa jadi tontonan dari pengajian, shalawatan, kebakaran, kecelakaan, kampanye dan dangdutan memang selalu ramai-ramai juga.

Tapi Sinau Bareng, yang akan tersaji pada malam hari ini bukan tontonan, dia berbeda dari semua hal yang selalu efektif mengumpulkan massa seperti itu. Konsep jamaah bukan massa, praktek komunalitas bukan aksi militansi kosong. Dan memang padat Aloon-Aloon Ponorogo malam itu.

Lebih sedikit dari pukul 20.00 WIB, KiaiKanjeng tampil di panggung. Kehangatan “Lawang Swarga” membariskan koor seantero alun-alun dengan lafal tahlil. Malam dingin langsung terasa hangat, apalagi setelah satu nomor tersebut Shalawat Badr dilantunkan, ini secara kultural selalu menjadi penanda bahwa Mbah Nun sedang menuju ke panggung. Antusiasme seluruh Aloon-Aloon menggumpal, pecah menjadi tepuk tangan rindu. Lho, tapi nomor Shalawat Badr sampai berulang-ulang kok Mbah Nun belum kunjung tampak di panggung? Rupanya, perjalanan Mbah Nun menuju panggung mesti melewati orang-orang yang berebutan bersalaman.

Sudah menjadi tradisi di Maiyah, walau ya, tradisi bukan keharusan memang, bahwa tidak ada petugas keamanan resmi yang ditunjuk. Maiyah tidak membentuk satgas sendiri, atau apalagi paramiliteris, sebab kenapa? Sebab mereka yang berkumpul ini bukan dilihat sebagai ancaman. Mereka hanya penumpah cinta dan rindu, cuma memang sering agak dismanajemen dalam penataan timing dan momentumnya. Tapi tak apa, sambil jalan itu akan kita perbaiki bersama.

Adapun orang-orang Maiyah yang sudah terbiasa melihat hal semacam ini, kerap langsung mengambil posisi sebagai pengaman. Ini bedanya keamanan di Sinau Bareng dengan lain-lain pengajian (walau bukan komparasi yang pas juga) bahwa posisi keamanan diambil berdasarkan urgensi, dengan azas memang sedang dibutuhkan pada saat itu dan siapa saja bisa mengambil peran itu. Saya jelas tidak bakat mengamankan. Suara saya pelan, lirih, kurang tegas dan ndak lucu (?). Tipe seperti saya memang sebaiknya jangan mengambil peran itu, posisi pengamat mungkin cocoknya. Dan inilah hasil yang saya amati itu, bahwa beberapa JM mengambil posisi pengamanan, dibantu beberapa pihak kepolisian membantu Mbah Nun melewati para pecinta yang membludak, hingga kemudian tiba jualah Mbah Nun diatas panggung. Koor dan tepuk tangan, seruan “allahumma shalli ‘alaa Muhammad!” Bertalu-talu, bertalu-talu. Memang, Aloon-Aloon Ponorogo sedang rindu.

Mbah Nun disertai oleh para sesepuh warga, Pak Bupati Ponorogo, Pak Kapolres dan tentu paling banyak pihak dari BKKBN, baik Pak Giyono yang mewakili BKKBN pusat maupun Pak Bimo yang mewakili BKKBN kota sekaligus juga pengasuh Pondok Pesantren Segoro Agung. Gelaran Sinau Bareng pada hari Rabu malam tanggal 28 November 2018 M ini memang juga adalah persambungan dari rangkaian acara agenda BKKBN.

Pada liputan singkat sebelum ini, saya bilang sedang ingin menggali dari pihak BKKBN. Sayangnya, saya gagal menemukan narasumber (peliput macam apa coba ini?). Tapi rangkaian acara bersama BKKBN masih akan berlangsung hingga nanti di Surabaya dan diselingi berbagai Sinau Bareng di lokasi-lokasi yang berbeda. Semoga di Surabaya nanti janji akan terlaksana.

Buku Cak Nun