Kebersahajaan Masyarakat Sinau Bareng

Liputan Sinau Bareng CNKK dalam Grebeg Desa Deru, Bojonegoro, 6 Agustus 2018

Sangat menyentuh hati melihat orang-orang melangkahkan kaki menuju tempat di mana majelis ilmu digelar, dan tak perlu analisis yang berat untuk menyadari bahwa menimba ilmu dijunjung tinggi oleh ajaran agama. Juga tak perlu ndedhes nanya dalilnya apa atau mana (kali saja anda tergolong yang sedikit-sedikit nanya dalil) untuk mengetahui bahwa Allah memerintahkan kita menuntut ilmu. Karenanya, mereka yang menimba ilmu sejatinya sedang menjalankan agama.

Fotografer KiaiKanjeng mengabadikan momen ketika warga masyarakat Desa Deru Bojonegoro dan sekitarnya berjalan menuju lapangan desa Deru untuk mengikuti Sinau Bareng. Tua, muda, remaja, dan juga mbah-mbah semuanya ada. Anak-anak banyak yang diajak turut serta. Kita sangat bisa berempati pada Mbah Nun yang kerap luluh hati melihat pemandangan seperti ini, dan membuat Beliau tak punya alasan apapun selain optimis buat masa depan kita sebagai bangsa.

Rekan Dwi Utomo melaporkan bahwa hadirin yang berdatangan ini bukan hanya warga desa Deru, melainkan juga orang-orang dari kabupaten Bojonegoro dan Tuban, bahkan juga Cepu. Sinau Bareng bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng malam ini digelar di Lapangan Deru Sumberjo Bojonegoro dalam rangka Grebeg Desa dan Tahlil Bersama ke-XXVII Pondok Pesantren Darussalam Bojonegoro.

Bojonegoro adalah kabupaten di Jawa Timur yang terletak di sisi barat provinsi ini dan salah satu wilayahnya berbatasan dengan Jawa Tengah. Meski berada di paling ujung barat, rekan-rekan jamaah Maiyah di Bojonegoro tak kalah semangatnya dengan teman-teman jamaah Maiyah lain di Jawa Timur. Termasuk malam ini, mereka terlibat men-support tuan rumah dan shohibul hajat dalam Sinau Bareng malam ini. Teman-teman Jamaah Maiyah Bojonegoro ini menamakan diri Serdadu Cinta. Salah satu unit mereka, kelompok musik Aji Saka, tadi tampil di awal sebelum Mbah Nun dan KiaiKanjeng naik panggung.

Khususnya Pak Lurah sebagai sohibul hajat sangat gembira dan senang karena Mbah Nun dan KiaiKanjeng berkenan hadir dalam acara Grebeg Desa ini. Saking senang dan bersemangatnya, Ia berteriak keras takbir tiga kali di akhir sambutannya. Tetapi Mbah Nun tahu apa yang harus dilakukan. Takbir yang menggebu-gebu dan keras itu ditransformasikan dengan mengajak semua jamaah melantunkan takbir pula tetapi dengan cara yang lembut, sejuk, dan pelan. Diseimbangkan nuansanya. Setelah itu Mbah Nun meminta pimpinan Pondok Pesantren Darussalam memimpin doa memohonkan keterkabulan hajat seluruh hadirin dan jamaah.

Seperti malam ini di Lapangan Deru Sumberjo Bojonegoro, kehadiran Mbah Nun dan KiaiKanjeng di berbagai daerah-daerah di Indonesia laksana menemukan terus-menerus profil masyarakat yang bersahaja,termasuk bersahaja pula dalam menjalankan perintah agama untuk menimba ilmu, seberhaja Sinau Bareng yang mereka ikuti malam ini. Merekalah masyarakat yang di dalam naturnya tak ingin terpelanting ke dalam sikap ghuluwwun (berlebihan) dalam beragama. Dan Sinau Bareng bersama Mbah Nun dan KiaiKanjeng hadir untuk menjaga agar tak masyarakat tak terpelanting, salah satunya ke sikap berlebihan itu. (Helmi Mustofa)

Sangat menyentuh hati melihat orang-orang melangkahkan kaki menuju tempat di mana majelis ilmu digelar, dan tak perlu analisis yang berat untuk menyadari bahwa menimba ilmu dijunjung tinggi oleh ajaran agama. Juga tak perlu ndedhes nanya dalilnya apa atau mana (kali saja anda tergolong yang…