Kayungyun Swaraning Pradonggo

Mukadimah Suluk Surakartan November 2018

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung

Barangkali ungkapan di atas sangat tepat untuk menyebut apa yang dahulu telah dilakukan para wali ketika membumikan ajarannya di tanah Jawa. Menyatunya antara kebudayaan dengan nilai-nilai agama yang diajarkan, membuktikan bagaimana mereka sangat menjunjung tinggi nilai-nilai yang sudah berjalan di masyarakat. Mereka menyebarkan agama secara integral dengan kebudayaan.

Salah satu metode yang hingga hari ini masih dilestarikan adalah perayaan Sekaten. Acara itu mula-mula dilaksanakan untuk mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW itu, diselenggarakan di pusat-pusat kerajaan Jawa pada masa para wali. Setelah para wali melakukan rihlah untuk menyapa masyarakat di desa-desa, setiap tahun kemudian mereka membunyikan gamelan agar para penduduk datang di perayaan sekaten tersebut. Dengan keindahan yang ditawarkan itu, masyarakat dengan penuh kerelaan mengikuti para wali.

Tradisi itu kemudian diwariskan turun temurun hingga hari ini. Salah satu versi sejarah menerangkan bahwa istilah sekaten merupakan pelafalan secara Jawa dari kata syahadatain. Bukan jadi soal mana yang benar soal istilah sekaten itu, yang penting adalah bahwa upacara sekaten merupakan bukti keberhasilan metode dakwah para wali bagaimana budaya dengan nilai-nilai agama dapat menyatu dengan harmonis.

Adalah hal yang sangat menarik bagaimana orang-orang Jawa memiliki cara tersendiri untuk menghormati Nabi Muhammad SAW melalui tradisi sekaten. Upacara grebeg sekaten yang multidimensional itu tidak saja sangat mendalam secara spiritual, tetapi mampu merekatkan hubungan antar masyarakat dan menjadi jembatan komunikasi antara penguasa dengan rakyatnya. Sehingga sangat tidak relevan berbagai sinisme yang dilontarkan orang-orang yang cupet pikirannya karena kurang banyak “ngopi” dan “dolan” untuk melihat sejarah ini.

Tak hanya sekaten, ada lagi tradisi penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW di hari kelahirannya, yaitu dengan pembacaan Layang Ambiyak dan barjanjen. Layang Ambiyak ditulis dalam rangkaian pupuh berbahasa Jawa. Sedangkan barjanjen adalah kegiatan pembacaan kitab yang ditulis Syekh Ja’far al Barzanji tentang sejarah hidup Nabi Muhammad. Biasanya dilagukan dan diiringi tetabuhan, karena saking indahnya kalimat-kalimat di dalam kitab tersebut. Begitulah gambaran dari masyarakat Jawa pada masa lalu.

Kini, warisan yang ditinggalkan para wali itu sedang dalam masa ujian. Kita yang menjadi generasi pewarisnya dirundung aneka opini, yang membuat kita justru saling berselisih terkait apa yang sudah berjalan itu. Bukannya, kita melakukan penelitian dan melakukan rekonstruksi yang bermanfaat untuk masa kini, yang terjadi justru saling menyalahkan dan hanya mencari pembenaran asing-masing. Alangkah sayangnya jika tradisi yang sedemikian baik itu, tidak kita gali dan pelajari lebih mendalam. Apa yang akan kita ceritakan pada anak cucu kita nanti jika kita tidak menghayatinya.

Buku Cak Nun