Kartu Merah Apus-Apus

Akhir pekan lalu, saya menonton langsung pertandingan sepakbola Tim Nasional Indonesia U-19 di Stadion GBK, Senayan. Pada pertandingan perempat final Piala Asia U-19 itu Garuda Muda bertanding melawan Jepang. Pertandingan yang kita semua sudah mengetahui hasilnya, anak-anak muda asuhan Pak Indra Sjafri itu kalah 2-0.

Sebuah pertandingan yang menurut pengamatan saya adalah pertandingan yang berjalan sangat baik, sportif, dan secara permainan kualitas anak-anak muda U-19 kita tidak berada di level yang jauh dibawah U-19 Jepang. Mungkin skor 2-0 memang menjadi bukti bahwa sepakbola kita kalah dari Jepang. Namun, jika kita melihat fakta bahwa yang menjadi lawan adalah sebuah Negara yang dalam beberapa tahun terakhir memperlihatkan proses pembangunan sepakbola yang sangat baik, anak-anak U-19 kita tidak dengan begitu saja memberikan kemenangan kepada Jepang dengan mudah. Bahkan Jepang juga sempat beberapa kali mendapatkan tekanan dari pemain kita.

Tapi dalam tulisan ini saya tidak akan membahas lebih jauh tentang pertandingan itu. Menang dan kalah dalam sebuah pertandingan sepakbola adalah hal yang sangat wajar, dan kita akan menerima apapun saja hasil dari sebuah pertandingan manakala selama 90 menit pertandingan bergulir, seluruh pemain mampu menunjukan sportifitas mereka di atas lapangan hijau. Jika kemenangan sudah bisa dipastikan sejak sebelum pertandingan dimulai, maka untuk apa dilangsungkan pertandingan?

Lho, kan di pertandingan kemarin juga tidak ada kartu merah? Memang, dan di tulisan ini juga saya tidak akan membahas kartu merah yang sebenarnya dalam sepakbola. Tapi kan kita sering ketika Maiyahan diajak oleh Cak Nun untuk berpikir dengan sudut pandang yang seringkali anti-mainstream, yang kemudian kita semakin terbiasa dengan cara berpikir seperti itu, sehingga ketika suatu kali Cak Nun memancing kita dengan sebuah kelakar atau guyonan, kita langsung nangkep maksud dari guyonan itu.

Sepakbola itu cabang olahraga yang diminati oleh banyak orang. Tak terkecuali Cak Nun sendiri. Bahkan sampai hari ini Cak Nun juga memiliki kedekatan dengan dunia persepakbolaan nasional. Diantaranya hubungan dekat Cak Nun dengan Pak Indra Sjafri. Bahkan di Piala Asia U-19 tahun 2014 silam, Cak Nun dan Ibu Via mendampingi secara langsung anak-anak asuhan  Pak Indra bertanding di Myanmar.

Dulu, Cak Nun pernah menulis banyak esai tentang sepakbola, yang kemudian diantaranya dibukukan dalam buku “Bola-Bola Kultural”.  Melalui tulisan-tulisan itu, Cak Nun tidak hanya membahas sepakbola, tetapi juga membahas persoalan sosial yang dihadapi oleh masyarakat, bahkan tidak jarang pula dalam tulisan-tulisan itu Cak Nun mengkritik kebijakan-kebijakan PSSI, dan tentu saja kritik satir terhadap penguasa Orde Baru juga seringkali terselip dalam tulisan-tulisan itu.

Sekian tahun berlalu, ternyata kiasan menggunakan istilah-istilah dalam sepakbola juga sering kita dengar ketika Maiyahan pada saat Cak Nun menyindir perilaku para politisi yang di Indonesia. “Di Indonesia, pemain yang sudah jelas-jelas di kartu merah, masih bisa ikut nendang bola”, kalimat sarkas ini beberapa kali kita dengar diungkapkan oleh Cak Nun di beberapa Maiyahan. Terakhir kita menyimaknya pada saat Mocopat Syafaat edisi Oktober lalu.

Pemain yang dimaksud adalah, para politisi yang sudah jelas-jelas pernah tersangkut kasus korupsi dan pernah ditangkap oleh aparat penegak hukum, kok masih berani-berani mencalonkan diri menjadi calon anggota legislatif di Pemilihan Umum 2019. Lho, bagaimana mungkin nanti “pertandingan sepakbola” di Indonesia akan berlangsung sportif, jika pemain yang bermain di lapangan adalah pemain yang memiliki rekam jejak “kartu merah”. Jangan-jangan, itu hanya kartu merah apus-apus. 

Lha iya, buktinya kartu merah itu sama sekali tidak menjadikan “panitia pelaksana” pertandingan tidak meloloskan pemain yang sudah terkena kartu merah itu. Dan sepertinya, “statuta sepakbola” kita yang memang bermasalah.

Belum lagi, ada “pemain” yang seharusnya masih harus menyelesaikan kompetisi di turnamen divisi satu, memaksakan diri untuk pindah ke divisi utama. Karena memang “statua sepakbola” di Indonesia memperbolehkan hal itu terjadi, maka tidak heran jika kita sering melihat ada pemain yang dengan seenaknya pindah turnamen lintas divisi. Belum lagi terkadang justru ada pemain yang menurunkan levelnya sendiri. Jelas-jelas dia itu sekarang adalah pemain di turnamen divisi utama, malah mengikuti seleksi pencarian bakat untuk turnamen di divisi kedua.

Jadi, pernah ada Gubernur yang belum selesai masa tugasnya, kemudian mencalonkan diri menjadi Presiden. Sekarang ada Wakil Gubernur yang juga belum selesai masa tugasnya, kemudian mencalonkan diri menjadi Calon Wakil Presiden. Sementara itu, ada juga Menteri-Menteri yang sekarang masih aktif menjadi Menteri, justru mencalonkan diri menjadi Calon Anggota Legislatif melalui Partai Politik di daerah pemilihan mereka.

Lho, ini sepakbola cap apa? 

Buku Cak Nun