Karena Hidup Kita Harus Bergembira

Catatan Sinau Bareng HUT ke-10 Tangerang Selatan, 25 November 2018

Malam ini, 25 November 2018 Pemkot Tangerang Selatan menyelenggarakan Sinau Bareng Mbah Nun dan KiaiKanjeng dalam rangka mensyukuri “Dedikasi Satu Dekade Tangerang Selatan yang Cerdas, Modern, Religius”. Berlokasi di Lapangan Sunburst BSD, jamaah Maiyah Jakarta dan sekitarnya berkumpul. Meskipun lapangan tempat Sinau Bareng malam ini tampak becek, karena siang hari tadi hujan cukup deras mengguyur area Tangerang Selatan dan sekitarnya, namun sama sekali tidak mengurangi animo jamaah untuk hadir di Sinau Bareng malam ini.

Dan tampaknya jamaah kangen dengan Mbah Nun yang sejak pertengahan bulan November ini berada di Australia bersama Ibu Via. Banyak juga dari mereka yang rutin hadir di Kenduri Cinta. Tampak banyak yang mengenakan peci Maiyah, jadi mereka bukanlah orang yang asing dengan Maiyah. Apalagi, KiaiKanjeng juga jarang hadir di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Maka malam ini pun tidak ingin dilewatkan begitu saja, meskipun besok adalah hari senin, awal pekan yang merupakan hari bekerja.

Saking bahagianya, ketika di awal tadi Mbah Nun bertanya, mau sampai jam berapa Sinau Bareng malam ini, mereka menjawab, “Sampai subuuuh!”. Yaa, jawaban itu bagi yang sudah biasa Maiyahan sampai subuh, sementara yang hadir malam ini tidak semuanya jamaah Maiyah. Seperti Bu Airin, Ibu Walikota Tangerang Selatan yang merupakan tuan rumah malam ini, tentu besok jam 7 pagi sudah harus berada di kantor untuk apel pagi bersama para pegawai dan staff.

Mbah Nun pun kemudian menjelaskan, ibarat kita bikin kopi, kita harus mampu menakar, seberapa banyak porsi kopi yang harus kita bikin. Yang baik adalah, bikin kopi secukupnya, setelah makin lama suasana ngobrol makin asyik, maka minuman kopi bisa ditambah lagi porsinya. Di sini kita belajar untuk mengukur kebutuhan kita, bukan mengutamakan keinginan kita.

Dari satu pijakan ini, Mbah Nun kemudian masuk ke tema yang lebih dalam lagi. Bahwa hidup kita itu tidak selalu berlaku seperti yang kita inginkan, namun presisi utamanya adalah bagaimana kita mampu mensyukuri hidup kita, sehingga kita mampu menemukan kebahagiaan dan kegembiraan dalam hidup yang kita jalani ini.

“Kalau tidak merasakan kegembiraan, untuk apa kita hidup?” Mbah Nun melanjutkan bahwa ada banyak hal dalam hidup yang kita jalani ini justru lebih banyak hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Shalat dan Puasa misalnya, secara naluriah kita ini tidak suka sholat dan berpuasa, namun karena kita memahami bahwa shalat dan puasa itu adalah ungkapan syukur kita kepada Allah, maka kita menemukan presisi bahwa karena kita cinta kepada Allah, kita ikhlas untuk shalat dan berpuasa.

Saat berita ini ditulis, KiaiKanjeng sedang mengajak masyarakat Tangerang Selatan untuk bergembira menyanyikan lagu anak-anak; “Lihat Kebunku”, “Sepeda Roda Tiga”, “Anak Kambing Saya”. Ketiganya dinyanyikan bareng dalam waktu yang bersamaan. Ketiga lagu tersebut ternyata memiliki musik yang sama, tapi lirik dan iramanya berbeda. Sebelumnya dibagi 3 kelompok yang diberi nama masing-masing sesuai tagline Kota Tangsel: Cerdas, Modern, Religius, untuk menyanyikannya. Pembelajarannya adalah ketiga kelompok tetap mampu istiqomah untuk menyanyikan lagu mereka masing-masing. Dari menyanyikan bersama ini, masyarakat diajak belajar tentang Bhinneka Tunggal Ika.

Bergembira tidak perlu muluk-muluk. Ternyata cukup sederhana. Dan kegembiraan malam ini masih terus berlanjut hingga tengah malam nanti.

Buku Cak Nun Majalah Sabana