Kalian Memang Jempol

Liputan Singkat Majelis Ilmu Maiyah Kenduri Cinta, 18 Mei 2018

Untuk apa bersusah-susah setiap bulan ngumpul seperti ini sampai lewat hari? Senang dan gembira? Pasti. Tapi tidakkah kalian juga merelakan sekian jam waktumu, belum terhitung perjalananmu menuju ke sini, yang kalian bisa konversikan untuk hal-hal lain? Ah, tapi ini pertanyaan yang sama sekali tidak relevan, karena kalian adalah makhluk-makhluk rasional, yang datang ke pelataran Taman Ismail Marzuki ini bukan tanpa pertimbangan matang, yang tak akan datang ke sini tanpa ada hal yang selalu membuat kalian yakin bahwa datang ke Kenduri Cinta adalah kebutuhan dirimu.

Biarpun rintik-rintik gerimis hujan cukup deras jatuh ke bumi, kalian tak bergeser. Paling jauh sebagian sedikit saja dari kalian berpindah ke selasar-selasar gedung atau gerai ATM, dan tetap fokus ke panggung. Selebihnya kalian semua bisa menata diri, agar acara tetap bisa berjalan dengan baik sebagaimana biasa. Terbukti ketika usai penampilan grup pantomim, Ustadz Nurshoofa hadir ke panggung pada segmen awal didampingi saudara kita Tri Mulyana dan Sigit, kalian menyimak dengan baik. Kalian bershalawat bersama ketika diajak bershalawat.

Kalian juga siap menyerap kekayaan tema, yang menandakan kalian adalah pribadi yang siap berselancar di keluasan. Ustadz Noorshofa berbicara tentang Jababiroh dengan menuturkan kisah dan pernyataan Rasulullah tentang akan ada kondisi dan zaman di mana umat Islam menjadi umat yang sangat dijadikan fokus oleh manusia seluruh dunia, seperti makanan yang dihidangkan diatas meja. Tetapi, umat Islam yang sangat banyak itu bagaikan buih di lautan. Menurut Rasulullah, umat manusia di dunia memiliki penyakit utama yaitu hubbud dunya, kecintaan kepada dunia dan karohiyatul maut atau takut akan kematian. Kalian menyimak dengan penuh perhatian.

Hati kalian makin berbahagia, karena momen yang ditunggu telah tiba: kehadiran Mbah Nun dan Syekh Nursamad Kamba. Hujan mulai reda, dan dalam kebahagiaan itu, kalian menata diri lagi dengan baik.

Syekh Kamba memulakan uraiannya dengan melontarkan pertanyaan reflektif: yang terjadi di Maiyah ini apakah kejadian spiritual ataukah kejadian empirik? Syekh Kamba sendiri berpendapat ilmu Maiyah adalah ilmu yang membawa kita kepada ranah spiritual, walaupun kita tidak boleh melupakan faktor empirisnya. Rasulullah sendirilah yang memberikan contoh hidup secara spiritual, dan bahwa hidup secara spiritual itu sangat dimungkinkan.

Ilmu spiritual yang dicontohkan oleh Rasulullah adalah kepasrahan. Muslim sendiri memiliki definisi secara spiritual sebagai kepasrahan. Islam memiliki nilai spritual sebagai transformasi, dari sesuatu yang belum baik menjadi baik. Syekh Kamba lalu mengatakan di Maiyah kita memiliki Guru bersama yaitu Mbah Nun, maka sebisa mungkin kita menjadikan Mbah Nun sebagai pedoman dan guru untuk mengantarkan kita ke spiritualitas tertinggi manusia, yaitu Allah SWT. Kalian mendengarkan dan mencatat poin-poin Syekh Kamba sampai tiba Mbah Nun merespons lebih jauh.

Mbah Nun menuntun pelan-pelan kepada ‘kesatuan’ dengan contoh ketika kita mengucapkan salam, maka secara langsung kita menjadikan diri kita manusia yang siap memberikan keselamatan bersama. Lalu kalian diajak menapaki pengembaraan ilmu Maiyah mengenai kebenaran, kebaikan dan keindahan. Tiga nilai itu tidak bisa berdiri sendiri sebagaimana ilmu sekuler memilahnya. Tiga nilai itu harus saling berdialektika secara matang. Puncak dari itu semua adalah Cinta. Mbah Nun meneruskan pembahasan tentang Qoth’i dan Dzhonni. Hukum Sholat, Puasa, Haji, itu Qoth’i. Sementara hukum musik dan seni aalah dzhonni yaitu tafsir.

Kalian menikmati kemesraan dan kemeriahan di Kenduri Cinta ini. Kalian terus menyimak sampai pun ketika Ustad Noorshofa dipersilahkan Mbah Nun untuk melanjutkan pemaparan mengenai nilai empiris dzikir Laa ilaaha illallah. Allah tidak mungkin bisa ditafsirkan, tidak mungkin kita jumpai sekarang. Untuk mempermudah hambanya, Allah merepresentasikan dirinya dengan sifat-sifatnya. Ar-Rahman, Ar-Rahim, dan lain sebagainya.

Mbah Nun lalu melanjutkan lagi pembahasan dengan mengajak jamaah memahami masa-masa dalam Islam, sampai puncaknya, masa yang sedang kita alami sekarang yaitu Jababiroh. Oleh Mbah Nun kalian diminta meneruskan mendiskusikan Jababiroh ini.

Kalian memang jempol, duduk setia menyimak seluruh kebersamaan ilmu dan cinta di Kenduri Cinta, sampai ada di antara kalian yang mengikuti dengan duduk di atas tembok pilar di Plaza TIM. (fa/hm)

Untuk apa bersusah-susah setiap bulan ngumpul seperti ini sampai lewat hari? Senang dan gembira? Pasti. Tapi tidakkah kalian juga merelakan sekian jam waktumu, belum terhitung perjalananmu menuju ke sini, yang kalian bisa konversikan untuk hal-hal lain? Ah, tapi ini pertanyaan yang sama sekali tidak…