Kalau Islam Ya Pasti Rahmatan Lil‘Alamiin

Catatan Sinau Bareng CNKK dalam Dies Natalis ke-37 Unisma, 2 Juni 2018

“Pak, tolong datangkan Cak Nun di kampus ini.” Kurang lebih begitulah yang disampaikan Bapak Rektor Unisma malam itu. Bapak rektor ini tengah menirukan apa yang telah disampaikan salah seorang mahasiswanya. Singkat cerita, ada salah seorang mahasiswa yang meminta beliau untuk mendatangkan Mbah Nun di kampus NU itu. Dan jadilah malam itu, 2 Juni 2018, Mbah Nun bersama KiaiKanjeng bisa hadir di tengah-tengah keluarga besar Unisma dan jamaah Maiyah.

Jika sehari sebelumnya, sinau bareng di Universitas Brawijaya dalam rangka memeringati hari jadi Persatuan Insinyur Indonesia, malam itu sinau bareng digelar dalam rangka memeringati ulang tahun Unisma yang ke-37. Keduanya sama-sama dalam rangka memeringati hari jadi. Sama-sama mensyukuri nikmat waktu dan kesempatan yang telah diberikan selama ini. 

Mendefinisikan Rahmat

“Urip Rahmatan lil‘Alamin”. Begitu kata poster yang sudah ramai beredar di banyak media sosial beberapa hari sebelumnya. Semoga, dengan mensyukuri nikmat waktu dan kesempatan ini, kita diberikan kemampuan untuk turut menebar rahmat bagi semesta yang lebih luas lagi. 

Nek Islam yo mesti rahmatan lil‘alamin. Lek uduk rahmatan lil‘alamin, uduk Islam”. Jawab Mbah Nun kepada salah seorang jamaah yang menanyakan Islam seperti apa yang rahmatan lil‘alamin. Kalau Islam ya pasti rahmatan lil‘alamin. Tidak ada Islam yang tidak rahmatan lil ‘alamin. 

Kalau masih ada yang mempertanyakan tentang Islam seperti apa yang rahmatan lil‘alamin, Mbah Nun mengibaratkannya seperti seseorang yang sedang mencari gula yang manis. “Koyok golek gula sing legi”. Sedang semua gula pasti manis. Nha kalau ada orang yang mengaku Islam, tapi malah menebarkan jaring kesengsaraan untuk yang lain, itu bagaimana? Kalau seperti ini, berkaca dari apa yang telah disampaikan Mbah Nun, berarti sebaiknya kita cek kembali keislaman kita.

Islam rahmatan lil‘alamin. Islam itu rahmat bagi seluruh alam. Ungkapan tersebut seolah menegaskan bahwa kadar keislaman seseorang itu tidak statis. Ia fluktuatif, terus bergerak. Yazid wa yanqush, kadang naik, kadang turun. Kadang semesta yang bisa kita jangkau itu meluas, kadang juga menyempit.

Dalam belajar menebarkan rahmat bagi semesta sendiri, kita perlu untuk mempelajarinya. Jangan sampai kita salah dalam mendefinisikan rahmat itu seperti apa. Jangan sampai kita salah mengira. Yang kita sangka rahmat, ternyata itu malah adzab. Pun sebaliknya, yang kita kira adzab, ternyata itu malah rahmat. Karenanya, Mbah Nun menyarankan agar kita menggali pertanyaan seputar rahmat itu sendiri. Mulai dari pertanyaan apa, siapa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana menyalurkan rahmat, semua harus kita pelajari, harus kita sinauni. “Semua harus lengkap 5W1H. Dan Indonesia nggak jangkep 5W1H ne iku”. Indonesia masih belum tuntas dalam menggali rahmat itu sendiri. 

“Bagaimana caranya memberi rahmat kepada iblis?”, tanya Mbah Nun kepada jamaah. Seluruh alam, berarti iblis dan setan juga masuk di dalamnya. Mereka juga berhak menerima rahmat dari kita yang mengaku Islam. Menurut Mbah Nun, paling tidak cara memberi rahmat kepada setan dan iblis itu ya difatihai, dibacakan fatihah.

Kalau orang salah, rahmatnya dihukum apa dibiarkan? Mbah Nun mengajak jamaah untuk bersama-sama mencari rahmat dalam beberapa kasus. “Wong salah rahmate yo dihukum, terus didandani”. Orang yang salah itu rahmatnya ya dihukum terus dibantu untuk memperbaiki. “Rahmat iku angger iso nylamatne ning ngersane Allah”. Ketika bisa membantu menyelamatkan di hadapan Sang Pencipta dan Pemilik segala apa, itulah rahmat.

Tak Sudah-Sudah Utang Kita Kepada-Nya

Suasana penuh rahmat sangat terasa di acara Sinau Bareng malam itu. Atmosfer kasih sayang begitu kentara. Bagaimana para jamaah saling berbagi di tengah tempat yang ternyata tidak menampung seluruh jamaah yang ada. Bagaimana jamaah dengan suka rela memberi jalan kepada para pedagang dan jamaah lain yang lewat di sela-sela kesempitan mereka.

Malam itu jamaah meluber sampai di luar lapangan karena tidak mendapat tempat di dalam lapangan. Bahkan, tidak sedikit jamaah yang rela berdiri berjam-jam karena tidak tersisa lagi ruang untuk mereka duduk. Ada pula yang menikmati Sinau Bareng malam itu dengan caranya sendiri. Beberapa jamaah menciptakan ruangnya sendiri, mereka naik ke atas atap gedung pinggir lapangan dan menikmati Sinau Bareng dari atas sana.    

Atmosfer kasih sayang semakin bertambah ketika ada seorang jamaah puteri yang mengaku dulu sangat membenci Mbah Nun. Dan malam itu, mbak-mbak dari Kediri itu meminta maaf kepada Mbah Nun dengan rasa penyesalan yang teramat sangat. Dengan keluasannya, Mbah Nun pun memaafkan jamaah tadi. Bahkan, Mbah Nun mengaku selalu memaafkan siapapun bahkan sebelum orang itu berbuat kesalahan kepada Mbah Nun. “Saya selalu memaafkan siapapun. Bahkan sebelum ia melakukan kesalahan kepada saya”.

“Aku i angger ndelok arek sumringah, mesem, wis seneng”, begitu pengakuan Mbah Nun malam itu. Melihat siapapun yang beliau temui tampak sumringah bahagia, Mbah Nun sudah sangat senang. “Tujuane uripku mung iku. Sopo ae sing ketemu aku lek iso mesem, sumringah. Lek susah, kene tak rewangi”. Bahwa tujuan hidup Mbah Nun hanyalah satu, menebar rahmat seluas-luasnya, membahagiakan setiap hati yang ditemuinya.

Tak peduli bagaimana orang itu memperlakukan Mbah Nun, yang jelas Mbah Nun selalu tidak tega jika melihat ada gurat kesedihan di wajah siapapun yang tengah dihadapinya. Saking lembutnya Mbah Nun, bisa jadi Mbah Nun akan berpura-pura tidak tahu kalau sedang disakiti jika ada yang menyakitinya. Mbah Nun tidak sampai hati melihat orang yang menyakiti tersebut tidak enak hati sendiri karena melihat aksinya diketahui oleh orang yang tengah disakiti.

Mbah Nun melakukan ini semua semata-mata hanya untuk membayar utang. Nyaur utang kepada Gusti Pengeran. Betapa tak terhitungnya pinjaman-pinjaman yang sudah diberikan Tuhan kepada kita. Tak mungkin kita bisa melunasi semua nikmat pinjaman ini. Yang bisa kita lakukan hanya terus berusaha berbuat baik dan belajar memaksimalkan apa yang telah dipinjamkan ini sebaik semampu kita. Sekali lagi, setidaknya inilah upaya yang bisa kita lakukan untuk membayar utang yang tak akan pernah sanggup kita menghitung-hitungnya.   

Ada pula jamaah yang membacakan ungkapan cintanya kepada Mbah Nun. Puisi yang sangat indah itu sengaja dipersembahkannya kepada Mbah Nun di hari ulang tahun Mbah Nun yang ke-65, 27 Mei 2018 lalu. “Menyatakan cinta itu hukumnya sunnah. Tapi kalau menjawabnya itu wajib. Lek kowe ae I love you, opo maneh aku”. Jawab Mbah Nun disambut tepuk tangan sumringah para jamaah. 

Malam itu Cak Fuad juga turut hadir. Cak Fuad diminta Mbah Nun untuk sedikit membeberkan makna rahmat dari sisi Al-Qur`an. Merujuk pada QS. Al-Anbiya` ayat 107. “Dan tidaklah Aku (Tuhan) mengutusmu, kecuali sebagai rahmat bagi semesta alam”. Cak Fuad menuturkan bahwa rahmat ini menjadi dasar dari ajaran Islam. Malam itu, Cak Fuad juga mencoba membeberkan makna dan maksud dari tawassuth, tasamuh, dan tawazun.

Sebelum Sinau Bareng berakhir, ada salah seorang jamaah yang menanyakan sejatinya ikhlas. “Pokok e lek dunyo sak isine iseh kalah karo Gusti Allah, iku ikhlas”, jawab Mbah Nun singkat dan jelas. Selagi semuanya masih dikalahkan oleh posisi Tuhan di hati kita, itulah ikhlas yang sebenarnya.

Bapak rektor juga memintakan ijazah dari Mbah Nun agar bisa diamalkan oleh para mahasiswa Unisma. Mbah Nun menyebutkan sepotong surat Yasin ayat 82 yang biasa dibaca di setiap Maiyahan. “Innamaa amruhu idza arada syai’an ayyaqula lahu kun fayakuun”. Meskipun begitu, Mbah Nun juga mengingatkan, bahwa ijazah itu juga harus tetap kompatibel dengan apa yang kita lakukan. Kita tidak bisa hanya membaca wirid-wirid tertentu atau mengamalkan ijazah-ijazah tertentu, tapi apa yang kita lakukan tidak menunjukkan pergerakan menuju ke arah yang kita tuju. “Lek aku ngono posoku yawis suwi, rek”. Tirakat puasa dan laku Mbah Nun juga sangat panjang. Ini yang juga perlu kita perhatikan.