Jualan Sandal Saja, Jangan Negara

Liputan Sinau Bareng CNKK di Desa Bawu, Jepara, 30 Agustus 2018

Meneruskan perjalanan acara dari Weleri, malam tadi, Kamis 30 Agustus 2018, Cak Nun dan KiaiKanjeng bersinau bareng di Jepara. Persisnya di Desa Bawu. Rekan kita, Priyo Wiharto, melaporkan beberapa situasi dari lokasi dan sekilas suasana berlangsungnya acara.

Setiap kali jamaah dan hadirin yang bermaksud mengikuti Sinau Bareng di Bawu ini hampir mencapai lokasi dan tiba di perempatan Ngabul, niscaya mereka akan bertemu papan arah bertuliskan “Cak Nun”. Itu tertera di pojok jalan. Tidak lain papan itu dimaksudkan bahwa panitia tak ingin para jamaah kesulitan mencapai spot Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng.

Bagaimana dengan aplikasi Google Maps atawa yang sejenis? Ini kata Priyo menambah-nambahi alias bid’ah hehe, “Meski sesama jamaah saling mengabarkan lokasi lewat aplikasi penunjuk arah, suara perempuan dari aplikasi itu hanya terdengar merdu tapi tak membuat yakin.” Lupakan suara perempuan aplikasi itu. Kita segera menyimak sedikit yang berlangsung dari muatan Sinau Bareng.

Rekan Priyo melaporkan bahwa Cak Nun mengajak salah satu jamaah naik ke panggung. Alfian namanya, siswa SMK jurusan Administrasi Perkantoran. Cak Nun membuka percakapan dengan Alfan mengenai ciptaan Allah. Lebih baik mana hewan atau manusia?

“Tentu manusia,” jawab Alfian.

Lalu ditanyakan lagi, “Yang sering berbuat dosa, hewan apa manusia?

“Manusia dong,” jawab Alfian.

Tentu dengan sudah memperkirakan jawaban Alfian, Cak Nun lebih mengerucutkan lagi pertanyaannya, “Jadi kalau dilihat dari sisi yang sering melakukan dosa, lebih baik mana, manusia dan hewan?”

Alfan menjawab tegas,“Hewan.”

Modyyar!!! Haha. Riuh tawa jamaah lainnya bersahutan.

Kemudian saatnya Cak Nun mengingatkan hal-hal mendasar makhluqiyah pada aspek komparasi dan persaudaraan antar sesama ciptaan Allah. Manusia, hewan, dan tumbuhan adalah sama-sama ciptaan Allah. Manusia dan Jin sering berbuat dosa, sedangkan hewan dan tumbuhan tak pernah berbuat dosa. Tapi manusia punya akal. Manusia juga sering berperilaku melebihi hewan itu sendiri.

Itu sedikit petikan dari perbincangan di panggung bersama Alfian dan semua yang hadir. Kini Rekan Priyo bergerak mengedarkan pandangannya dan mendapati bahwa sudut-sudut tempat Sinau bareng terlihat penuh.

Acara Sinau Bareng tadi malam tidak mengambil tempat di lapangan atau di dalam gedung. Lokasinya berada di dalam desa. Panggung terletak di atas jalan yang biasa digunakan warga setempat beraktivitas. Jamaah memadati jalan serta halaman rumah penduduk. Hampir di semua rumah yang berdekatan dengan lokasi panggung dipenuhi jamaah. Semua meingkhlaskan rumahnya disinggahi orang-orang “asing”. Sebagian mereka sendiri juga rela tak bisa memandang langsung dari arah depan, asal masih bisa mendengar suara Cak Nun. Ada pula yang berdesakan di belakang gedung sambil berdiri.

Rekan Priyo lebih jauh melaporkan, jika kalian memakai mobil, kalian harus berjalan sepanjang 300 meter dari tempat parkir ke lokasi panggung. Tentu itu agak jauh, belum lagi sampai di lokasi masih harus mencari tempat duduk yang enak. Malahan mungkin harus berdiri karena tak kebagian lokasi duduk. Berdiri sambil menatap punggung Cak Nun. Tetapi itu tak masalah bagi mereka. Mereka seolah tak pernah lelah berdiri memandang Cak Nun dari sisi manapun. Mereka masih kuat tertawa, tersenyum, dan terus online dengan apa-apa yang Cak Nun sampaikan.

Semalam itu, Sinau Bareng diselenggarakan dalam rangka memperingati Haul Haji Muchlas Bin Haji Wiro dan Ibu Hj. Dewi Sutikah binti H. Fablun. Panitia menuturkan sedikit biografi Haji Muchlas, siapa beliau dan bagaimana beliau beraktivitas di lingkungan tempat tinggal semasa masih hidup.

Tentang hal ini, Cak Nun mengingatkan perihal satu konsep di dalam Islam yaitu apa yang disebut dengan ‘ilmu yang bermanfaat’. Menurut Cak Nun, apa yang dilakukan Mas Yusron, putra almarhum Haji Muchlas, adalah sesuatu yang mendatangkan pahala sebanyak-banyaknya. “Yang datang saja mendapatkan pahala apalagi yang menyelenggarakan pengajian.”

Kerakusan. Ada apa? Itu salah satu topik lain yang perlu kalian catat dari Sinau Bareng tadi malam. Ingat-ingat yang kerap Cak Nun sampaikan, bahwa yang paling nikmat adalah saat kita ngeleh daripara kenyang. Ini menandakan kita mampu menahan kerakusan. Adakah kemampuan itu dimiliki, misalnya, oleh para pejabat pemerintah atau anggota DPR? Atau oleh diri kita sendiri? Janganlah kita rakus dan serakah.

Cak Nun mengingatkan bahwa salah satu bentuk menahan kerakusan adalah berpuasa. Berpuasa itu menahan diri. Orang kalau mengendarai motor tentu tahu kapan nge-gas atau nge-rem.

Dalam konseptualisasi ilmu hidup Cak Nun, ketimbang kita rakus, serakah, dan menempuh jalan yang tidak-tidak demi memenuhi nafsu keserakahan itu, bahkan kepentingan negara bisa dimanipulasi untuk itu, masih mending orang berjualan sandal. Apalagi kalian tahu sandal itu penting karena manusia butuh pijakan yang enak. “Jadilah pengusaha sandal yang baik agar membuat manusia bisa berjalan dengan baik, “ujar Cak Nun saat mengajak salah satu jamaah naik ke atas panggung yang dia sendiri juga berjualan sandal.

Lantunan merdu suara Mbak Nia, Mas Islamyanto, dan Mas Imam menambah suhu kehangatan. Nada-nada yang dihasilkan KiaiKanjeng tak sekadar enak didengar, tapi lebih dari itu membuat para jamaah ikut bernyanyi, bernyanyi yang tulus, dalam hidup yang juga tulus, tanpa kepentingan apapun selain menggapai ridlo Allah.

Terima kasih rekan Priyo sudah berbagi kepada saya, untuk saya olahteruskan kepada teman-teman semua. Terima kasih bahwa dalam melaporkan ini, Engkau tidak terpengaruh suara-suara yang belakangan ini kerap terdengar, seperti: Jangan kasih kendor! Siapa kita?! (Helmi Mustofa)

Buku dan Merchandise