Jannatul Maiyah, Hayya ‘Alal Falaah

Catatan Majelis Ilmu Padhangmbulan Jombang, 2 Januari 2018

Setelah dua hari berturut-turut Mbah Nun bersama KiaiKanjeng membersamai masyarakat Surabaya dan sekitarnya bermuhasabah di akhir tahun, jeda satu hari, Mbah Nun sudah kembali hadir di tengah-tengah jamaah PadhangmBulan. Langit malam dua Januari 2018 telah berpadu dengan tlatah Mentoro Jombang menjadi sebuah momentum yang mempertemukan orang-orang mutahabbina fillah di pembuka awal tahun ini.

Merumuskan Cinta

Entah sudah berapa ribu kali Mbah Nun melakukan perjalanan seperti ini. Beliau berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk membesarkan hati. Tak lagi beliau pedulikan nasib pribadi. Lelah, kantuk, semua seolah tak lagi didengarkannya.

Koen nggak mbayangno gegerku koyok opo? Kurang lebih begitulah yang beliau tuturkan di sela-sela ceritanya. Meskipun apa yang beliau lakukan itu tampak sangat melelahkan, ke sana-ke sini tapi masih ada juga yang diam-diam menyakiti, beliau menceritakannya dengan nada yang sama sekali tidak mengeluh. Seolah beliau tak ingin membagikannya kepada yang lainnya. Seolah beliau sangat tidak tega melihat yang lain menderita.

Bagi beliau, tidur bukan lagi dalam hitungan jam seperti kita dan manusia pada umumnya. Tidur hanya dalam hitungan menit pun beliau lakoni, agar beliau bisa menyisakan cukup banyak waktu untuk membersamai dan merangkul masyarakat yang membutuhkannya. Meskipun toh balasan yang beliau dapatkan dari orang-orang itu tak selalu sepadan dengan yang beliau lakukan, itu sama sekali tak menghilangkan niat beliau untuk mencintai mereka.

“Asal yang kalian sakiti itu aku sebagai Emha Ainun Nadjib, aku ora pathek’en,” aku Mbah Nun malam itu. Baiklah, mungkin secara pribadi, seseorang itu tidak masalah jika disakiti ataupun dikhianati. Akan tetapi, kita pun juga harus ingat, orang tersebut tidak hidup dengan dan atas dirinya sendiri. Ada anak, cucu, keluarga, kerabat dekat, dan orang-orang lain yang menyayanginya. Tidakkah kita memikirkan bagaimana perasaan mereka jika sosok yang mereka sayangi tersakiti? Terlebih Tuhan yang telah menciptakannya dan satu-satunya pemilik mutlak atas diri seseorang itu. Apa tidak takut menyakiti Tuhan, kalau kita sampai sengaja menyakitinya? Berapa sudah yang ikut tersakiti saat kita menyakiti, sekalipun itu hanya seorang saja.

Bisa jadi, hal-hal yang tidak diinginkan tersebut, terlebih dalam lingkaran Maiyah sendiri, sedikit banyak akan bisa tertolong dengan adanya Piagam Maiyah. Aturan-aturan yang dibuat oleh, dari, dan untuk jamaah. Semua diupayakan untuk kebaikan dan kemaslahatan jamaah sendiri.

Apapun itu, yang jelas, menurut Mbah Nun, Piagam Maiyah ini adalah salah satu upaya untuk kita ittiba’ kepada Kanjeng Nabi. Undang-undang tidak dibuat oleh penguasa ataupun pemimpin, melainkan dibuat oleh jamaah sendiri. Jamaah memagari ‘rumahnya’ sendiri. Dengan tetap mengindahkan konsep segitiga cinta, juga atas kesadaran khairunnas anfaa’uhum linnas. Bahwa sebaik-baik manusia ialah dia yang paling banyak memberikan manfaat kepada yang lainnya.

Menyambut Kemenangan

Dalam merumuskan Piagam Maiyah ini, Mbah Nun  juga mengajak jamaah untuk bercermin. Selama ini, kita sudah memberikan manfaat ataukah belum. Bagaimana Maiyah selama ini, apakah sudah bermanfaat bagi diri kita sendiri, keluarga, masyarakat sekitar, dan wilayah yang lebih luas lagi, ataukah belum. Atau, jangan-jangan keberadaan kita malah merugikan yang lain.

Di sini, Mbah Nun mengingatkan kita, kalaulah kita masih belum bisa memberikan manfaat, semoga kita tidak sampai membebani. Kalaulah kita masih belum bisa turut mengatasi masalah, semoga kita tidak sampai menambah masalah. Dan seandainya pun ternyata kita telah memberikan manfaat, semoga itu tidak menjadikan kita berpuas diri lalu berhenti berbagi. Bahkan, dengan segala kerendahhatiannya, Mbah Nun yang sudah sedemikian sepak terjangnya saja, beliau masih belum berani mengatakan telah bermanfaat untuk Indonesia.

Malam itu, Kyai Muzammil juga mencoba sedikit menguraikan definisi manfaat berdasarkan sudut pandang kitab kuning. Dalam penjelasannya, Kyai Muzammil menyatakan bahwa sebenarnya ada yang lebih tinggi tingkatannya dari manfaat. Adalah maslahah yang maknanya lebih tinggi dari sekadar manfaat. Ketika kita berbicara tentang maslahah, di dalamnya sudah ada unsur baik, benar, dan manfaatnya. Sebaliknya, ketika sesuatu itu mengandung keburukan, kesalahan, dan kemudaratan, pastilah sesuatu itu bisa dikatakan ber-mafsadah.

Menurut Kyai Muzammil, urutan maslahah yang paling mendasar dan penting adalah iman. Baru kemudian disusul dengan akal pikiran, badan, kehormatan, dan harta benda menempati urutan terakhir. Pernyataan ini seolah menentang ungkapan yang selama ini kita dengar. Di dalam badan yang sehat, terdapat jiwa yang kuat. Sementara urutan maslahah yang telah disinggung Kyai Muzammil tersebut telah menjelaskan yang sebaliknya. Bahwa di dalam jiwa yang kuat lah, karena akal pikiran yang kuatlah yang bisa mengantarkan kita pada badan yang sehat.

Mbah Nun pun juga turut menambahkan, urutan maslahah tersebut bukanlah sekadar urutan tingkatan begitu saja. Semua itu merupakan sebuah kesatuan sistem yang saling memengaruhi satu dengan yang lainnya. Jika iman, akal pikiran, dan badan kita telah terjaga dengan baik, maka output-nya adalah kehormatan yang akan terjaga dengan baik juga. Mbah Nun mengajarkan kita untuk belajar melihat dan menyadari bahwa segala sesuatu itu ada sambungannya. Bahwa segala sesuatu itu adalah sebuah kesatuan. Dan itulah yang disebut dengan tauhid.

Untuk terus belajar melangkah yang mengundang maslahah, Cak Fuad juga membagikan sebuah rumusan dari Imam Ghazali. Di antara rumusan agar bisa berbuat lebih baik esok hari tersebut adalah mu’ahhadah, apapun yang kita lakukan harus diawali dengan komitmen, harus dengan kesadaran penuh bahwa kita telah melakukan perjanjian dengan Tuhan jauh sebelum kita berada di sini. Rumusan yang selanjutnya adalah muraqabah. Kita juga perlu melakukan pemantauan-pemantauan, baik secara internal maupun eksternal. Kita juga perlu ber-muhasabah, mengevaluasi diri. Memberikan sanksi kepada diri sendiri (mu’aqabah) pun juga diperlukan saat kita melakukan kesalahan ataupun melanggar aturan yang telah ditetapkan. Dan yang terakhir adalah mujahadah. Kita bersungguh-sungguh baik secara jasmani maupun rohani dalam melakukan sesuatu itu sendiri.

Semua ini hanyalah bagian dari ikhtiar kita untuk turut bisa menjadi manusia yang beruntung. Yaitu manusia yang setiap detiknya selalu bisa lebih baik dari yang sebelumnya. Manusia yang esok harinya lebih baik dari hari ini. Dan hari ini lebih baik dari kemarin hari.

Sebelum ruang dan waktu kembali memisahkan jamaah PdhangmBulan, dini hari itu Mbah Nun meminta jamaah untuk menyuarakan beberapa pemikirannya mengenai gagasan Piagam Maiyah. Jamaah tampak sangat antusias. Beberapa jamaah naik ke atas panggung dan menyampaikan hasil diskusi mereka bersama jamaah yang ada di kanan kirinya mengenai gagasan Piagam Maiyah.

“Maiyah bukan ajaran, tapi upaya untuk menghormati dan menaati Islam.”  Begitu Mbah Nun mencoba kembali mengingatkan jamaah akan kedudukan Maiyah. Agar jamaah pun tidak sampai ke luar batas dalam merumuskan Piagam Maiyah. (Hilwin Nisa)

Setelah dua hari berturut-turut Mbah Nun bersama KiaiKanjeng membersamai masyarakat Surabaya dan sekitarnya bermuhasabah di akhir tahun, jeda satu hari, Mbah Nun sudah kembali hadir di tengah-tengah jamaah PadhangmBulan. Langit malam dua Januari 2018 telah berpadu dengan tlatah Mentoro Jombang…