Jangan Terkena Narkoba dalam Hal Apapun

Catatan Sinau Bareng BNNP DIY, Bantul, 22 September 2018, bag. 2

Saya duduk bersebelahan dengan seorang Bapak yang datang bersama istrinya. Menggelar satu lembar perlak untuk ditempati berdua. Romantis juga ya. Usianya tak muda lagi. Itu terlihat dari ceritanya bahwa kedua anaknya sudah mentas sekolah kuliah. Bapak ini aktif bercerita dan bertanya-tanya ke saya. Dia menuturkan sering ikut Sinau Bareng ke mana-mana tempat, seperti di Purwokerto, Solo, Wonogiri, Madiun, dan lain-lain. Naik apa? Nah ini. Motoran. Dari Jogja.

Kalau itu dilakukan anak usia muda, saya masih bisa pahami, karena mereka pasti punya stamina yang mendukung. Tapi bapak kita ini, wah…asli, luar biasa ghirrah-nya buat menimba ilmu. Ada rasa cemburu juga membersit dalam benak saya. Sepasang suami-istri mengisi waktu “tuanya” dengan tetap kompak menikmati belajar tanpa henti meski harus motoran ke luar-luar kota. Sinau Bareng tak cuma mengisi pembangunan jiwa anak-anak muda, tapi juga menyuplai pilihan konten hidup bermakna bagi orang-orang tua.

Dari sepasang suami-istri seperti Bapak-Ibu di sebelah saya ini, saya dapat gambaran rasa-rasanya tak mungkin keluarga yang dibinanya tertembus narkoba. Pasti mereka membentengi keluarganya dengan prinsip-prinsip hidup yang benar. Yang negatif dan merusak sudah ditangkalnya. Dan ihwal keluarga ini, memang keluarga pada akhirnya adalah satu unit penting yang harus dijaga keutuhannya agar anak-anak terhindar dari melakukan yang buruk-buruk. Tak bisa sepenuhnya kita mengandalkan negara atau lembaga-lembaga lain, tetapi pasti yang bisa dilakukan adalah memperkuat keluarga. Dalam bahasa Pak Arif Nurhartanto, keluarga yang hangat memberikan imunitas dari hal-hal yang merusak. Sekarang ini, menurutnya, sedang berlangsung penurunan kehangatan dalam keluarga di Indonesia.

Sementara itu tentang keluarga ini, Cak Nun menambahkan bahwa pertama-pertama bukanlah orangtua nuturi atau ngandani anak-anaknya, melainkan contoh konkret hidup orangtuanya. Orangtua mesti memberi contoh hidup yang baik. Anak-anak harus mendapatkan cuaca yang baik dari orangtua mereka. Untuk kesekian kalinya, Cak Nun mengingatkan, kalau bisa orangtua menciptakan suasana dan contoh di mana anak-anak belajar empat hal: aqidah dan akhlak, kedisiplinan bahkan sekeras sikap militer (militeristik pada diri sendiri), berhitung, dan teknologi informasi. Makanya, berbicara mengenai pemulihan bagi para pecandu narkoba, Cak Nun mengatakan, “Kalau tak punya sikap militeristik kepada diri sendiri, mereka tak akan sembuh dari narkoba.”

Keluarga dibahas sebagai satuan sosial terkecil dalam kaitan penanggulangan penyalahgunaan narkoba karena seperti terlihat dari respons Cak Nun atas paparan Kepala BNNP DIY di mana negara sangat belum maksimal dan belum sungguh-sungguh dalam menghadang datangnya narkoba. Seperti dikatakan Kepala BNNP DIY, narkoba kelas A, yang tidak ada (setidaknya belum ditemukan) produsennya di Indonesia, bisa masuk ke Indonesia artinya datang dari luar negeri melalui jalur udara maupun laut. Pertahanan negara masih bisa ditembus, meskipun beberapa dapat digagalkan oleh BNN. Kita heran, bukankah deteksi, dan pemeriksaan, dan pertahanan seperti di bandara dan pelabuhan sudah sedemikian ketat, masih juga bobol. Pak Arif menyebut kenyataan ini sebagai negara tidak hadir atau tidak sungguh-sungguh.

“Kita sedang dan sudah melihat pagar-pagar yang seharusnya melindungi kita dari narkoba. Tetapi semua itu jangan di-jagakke,” kata Cak Nun, yang setelah ini akan masuk ke satu sisi yang selama ini tidak ada digarap yaitu: manusianya. Dalam pada itu pula, Cak Nun mengatakan ketimbang nelangsa kepada kondisi Indonesia, Cak Nun lebih memilih mbangun masa depan lewat keliling ke mana-mana Sinau Bareng khususnya untuk mengajak anak-anak muda agar bisa menjadi manusia yang sebaik-baiknya dan sesehat-sehatnya.

Itu sebabnya pula, walaupun dilaporkan bahwa Indonesia menempati urutan ketiga dalam hal peredaran narkoba sesudah Kolumbia dan Meksiko, dan Yogyakarta merupakan incaran empuk untuk pengedaran narkoba, Cak Nun mengatakan bahwa anak-anak muda yang datang ke Sinau Bareng ini tidak terkena narkoba, karena satu hal: mereka memiliki pertahanan diri. Bahkan secara tak langsung, Sinau Bareng mengasah mereka untuk tidak gampang terkena narkoba-narkoba dalam hal apapun. Satu hal yang sangat diserukan Cak Nun tadi malam.

Saat Cak Nun mengungkapkan hal pertahanan diri tadi, saya mendapatkan persambungan dengan jamaah di kanan kiri saya. Salah satunya Bapak yang saya ceritakan tadi. Salah duanya adalah tiga orang perempuan muda yang duduk sekitar dua meter di depan saya. Ketiganya duduk di atas alas masing-masing. Banyak alas dijual oleh para penjaja saat Sinau Bareng. Dan ketiga mbak itu saya lihat bawa sendiri dari rumah. Begitu selesai, mereka lipat lagi, seperti melipat sajadah usai shalat, lalu mereka bawa pulang kembali. Artinya, besok kalau ada jadwal Sinau Bareng lagi, mereka akan bawa alas itu lagi. Tidak setiap kali harus beli. Jadi, mereka punya manajemen yang bagus. Sekadar alas duduk saja mereka punya langkah seperti itu, apalagi dalam hal-hal lain yang lebih krusial, mestinya tidak salah ambil keputusan dalam hidupnya, misal dengan merusak dirinya dengan memakai narkoba.

BNN sebagai representasi negara dalam menanggulangi penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang telah berupaya menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Salah satu hal, yang juga diapresiasi oleh Pak Arif Nurhartanto sebagai langkah kultural, yang telah dilakukannya adalah menyelenggarakan Sinau Bareng ini.

Di depan Cak Nun dan seluruh jamaah, Pak Triwarno berjanji kalau ada orang atau siapapun yang terkena narkoba, tidak akan dihukumnya, melainkan akan direhabilitasi hingga menjadi baik kembali. Misi BNNP DIY sendiri adalah mewujudkan Jogja Istimewa Tanpa Narkoba.

Dan sangat bisa dimengerti bila BNNP DIY turut menyerap cuaca yang kondusif bagi penumbuhan manusia tak salah ambil keputusan kepada Cak Nun, yang dalam konteks Jogja ini, misalnya, sudah menggelar Sinau Bareng dalam wujud forum Mocopat Syafaat sejak 19 tahun silam. Forum yang melatih anak-anak muda atau siapapun saja yang hadir buat punya tradisi mandiri dalam berpikir dan matang dalam ambil keputusan.

Buku Cak Nun