Jangan Pernah Tidak Online Dengan Allah

Jika menyimak berita yang berseliweran di linimasa media sosial, rasanya penuh dengan masalah akibat ketidakberesan pengelolaan negara yang sebenarnya berpangkal dari kesalahan mental dan pikiran manusianya. Belum lagi yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari, mismanajemen yang bisa menumbuhkan keputusasaan atas keadaan.

Namun Tuhan sepertinya punya mekanisme keseimbangan sendiri. Banyak juga hal-hal baik yang ditemukan Mbah Nun yang mengikis keputusasaan itu. Dan bertambah hari, perjalanan Maiyah selalu dipertemukan dengan optimisme-optimisme. Inilah yang selalu Mbah Nun syukuri, termasuk dalam silaturahmi siang ini.

Ungkapan syukur itu Mbah Nun sampaikan di awal silaturahmi. Bahwa melihat upaya yang dilakukan Bapak Totok Mukarto membenahi tata kelola pelabuhan Samarinda yang sebelum-sebelumnya dikenal “panas” dan perlahan-lahan menjadi baik, harapan kebaikan itu masih ada.

Bapak Totok Mukarto sendiri merupakan syahbandar atau kepala pelabuhan Samarinda yang menginisiasi Sinau Bareng pada malam harinya dengan harapan masyarakat pelabuhan tertata hati dan pikirannya. Dan beliau juga teman lama Mbah Nun yang ikut nandur di masa awal-awal Maiyah setelah Reformasi 1998, khususnya di Kenduri Cinta Jakarta.

Rasa syukur juga meliputi perjumpaan dengan jamaah Maiyah Kalimantan Timur dari berbagai kota yang datang selain kota Samarinda, yaitu Sangatta, Bontang, dan Balikpapan. Tidak seperti jamaah di Pulau Jawa yang bisa sering hadir langsung di Sinau Bareng, jamaah di Kalimantan Timur dan luar Jawa pada umumnya selama bertahun-tahun ini baru bisa Sinau Bareng lewat YouTube. Maka ketika Cak Nun dan KiaiKanjeng hadir menyapa, mereka menempuh perjalanan jauh hingga berjam-jam ke Samarinda ini yang tidak semudah di Jawa.

Dalam silaturahmi di Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) tanggal 28 Oktober 2018 siang ini, Cak Nun menyampaikan inilah bentuk persaudaraan yang kuat meskipun tidak memiliki hubungan darah. Dan saudara-saudara kita dari Papparandang Ate Mandar, Sulawesi Barat sebanyak 20 orang datang dan menjalin persaudaraan dengan teman-teman di Kaltim.

Melengkapi rasa syukur atas optimisme dan persaudaraan dalam naungan cinta Allah dan Rasulullah ini, hadir dr. Ade Hashman dari Sangatta. Siapa beliau? dr. Ade adalah jamaah Maiyah yang kesehariannya merupakan dokter spesialis bius. Dengan menempuh 6 jam perjalanan beliau ke Samarinda ini untuk menyerahkan draft buku yang dituliskan selama 3 tahun terakhir sebagai bagian dari program relawan penulisan yang diinisiasi Kadipiro tahun 2015 lalu.

Buku yang insyaAllah akan diterbitkan Bentang Pustaka tahun depan ini mengelaborasi konsep kesehatan yang dijalani Cak Nun, yang menurut dr. Ade melompati jauh ke depan dari konsep kesehatan fisik kedokteran modern selama ini.

Dalam kesempatan ini, satu hal yang paling mendasar selalu dipesankan Cak Nun agar kita jangan tidak pernah online dengan Allah. Karena bagaimanapun kita berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Karena mekanisme zaman yang sedang berlangsung dan kita jalani sekarang membuat kita lupa, mencerabut kesadaran akan Allah dalam keseharian kita.

Waktu menunjukkan pukul 15.00 waktu Indonesia timur. Langit semakin mendung di luar. Beberapa hari sebelumnya hujan deras turun setiap hari. Namun dua hari belakangan panas. Panitia sangat berharap Sinau Bareng malamnya cuaca cerah. Dan silaturahmi ini harus segera diakhiri untuk memberikan kesempatan Cak Nun dan KiaiKanjeng mempersiapkan Sinau Bareng. Kerinduan jamaah masih belum sirna, dan akan dilanjutkan dalam Sinau Bareng nanti.

Buku Cak Nun