Jangan Memberi Makanan Kepada Penyakit

Catatan Sinau Bareng RSAL dr. Ramelan Surabaya, 31 Desember 2017 (Bagian 2-habis)

Selain ikut menyerap sedikit demi sedikit wawasan yang disampaikan Mbah Nun, saya juga menyaksikan bagaimana orang-orang di malam tahun baru itu mendapatkan gizi yang sehat dari Mbah Nun dan KiaiKanjeng. Parade enam nomor KiaiKanjeng adalah salah satunya, dan semuanya dinikmati oleh mereka. Wabil khusus para pimpinan dan keluarga besar RSAL dr. Ramelan yang merupakan tuan rumah acara ini.

Enam nomor itu adalah Lukaku Lukamu, Bangbang Wetan, Amemuji, Ahlus Zimani, Dun-ya La Tarham, dan Shalawat Nariyah. Semuanya dilantunkan berurutan oleh para vokalis KiaiKanjeng. Musik yang universal dari KiaiKanjeng yang membuat hadirin coba menyatukan diri dengan atmosfer yang muncul pada setiap nomor lagu. Puncaknya pada saat Shalawat Nariyah, hampir semua hadirin ikut melantunkan dan menghadirkan soundscape yang khas.

Seingat saya jarang dalam Sinau-Sinau Bareng sebelumnya enam nomor dibawakan sekaligus. Mungkin ini cara buat membangun kekuatan interaksi antara audiens dengan musik KiaiKanjeng. Bagi Mbah Nun sendiri, keenam eksposisi lagu itu dimaksudkan untuk menggambarkan bahwa semua jenis aransemen atau notasi dunia dipakai oleh KiaiKanjeng. Ada unsur jazz-nya, ada rock, pop, Arab, dan lain-lain, sehingga musik KiaiKanjeng dapat dipakai di mana saja. Itulah musik dunia.

Secara hakikinya, Mbah Nun menerangkan bahwa pilihan KiaiKanjeng itu semata karena KiaiKanjeng tak berani melawan Allah, sebab segala sesuatu yang ada di langit dan bumi semuanya bertasbih dan bersujud kepada-Nya. Di situ tak ada lagi (musik) Barat atau Timur. La syarqiyyah wala gharbiyyah. Dan, ini ditempuh supaya bisa masuk ke ayat selanjutnya yaitu yakadu zaituha yudhi’u walau lam tamsashu naar. Teman-teman pembelajar Maiyah tentu sudah sering dengar penjelasan atau pemahaman Mbah Nun atas ayat ini.

Kesatuan-keindahan-musikal berlangsung lagi pada saat Mbah Nun meminta KiaiKanjeng membawakan satu medley yang mereka sebut Medley Era. Isinya lagu Cinta Hampa (lagu pembuka siaran RRI tahun 50-an), Ande-Ande Lumutnya Waljinah, Begadang Jangan Begadangnya Rhoma Irama, Kisah Kasih di Sekolahnya Obi Mesakh, Putrinya Jamrud, Ruang Rindu-nya Letto, dan dangdut Suket Teki.

Bisa Anda bayang ragamnya lagu-lagu itu sekaligus bagaimana lagu-lagu itu sendiri berbicara dan memikat hati hadirin. Sejatinya setiap nomor lagu itu mewakili era, yang paling awal adalah era tahun 50-an, hingga era 2000-an. Masing-masing era ada karakternya sendiri-sendiri dalam konteks musik di Indonesia. Musik era 70-an berbeda dengan musik 90-an umpamanya. Kapan-kapan semoga om-om KiaiKanjeng bisa menjelaskan kepada kita semua, supaya kita bisa lihat sejarah dan kebudayaan kita lewat jendela musik.

Nah yang saya lihat, setiap hadirin yang dibesarkan pada satu era dari lagu-lagu itu pasti terbawa ke dalam suasananya, semacam nostalgia. Contohnya pas lagu Kisah Kasih di Sekolah. Ibu-ibu dan mbakyu-mbakyu maupun Bapak-bapak spontan langsung ikut menyanyi. Malu aku malu pada semut merah yang berbaris di dinding menatapku curiga seakan penuh tanya sedang apa di sini… asik pokoknya.

***

Tiba-tiba saya teringat tentang tasyabbuh biqoumin yang dijadikan dalil untuk melarang orang merayakan tahun baru Masehi. Mengenai hal ini, Kiai Muzammil yang menemani Mbah Nun di atas panggung punya satu pandangan. Menurut dia, hadits ini jika digali maknanya yang tersirat mengandung penegasan Rasulullah supaya umat Islam menjadi umat yang kreatif, umat yang tidak mencontoh melulu.

Maka Kiai Muzammil juga merasakan bahwa peringatan menyambut pergantian di RSAL dr. Ramelan itu beda dengan yang lain. Semangatnya beda, muatannya pun juga beda. Bukan hura-hura, melainkan refleksi diri agar ke depan lebih baik. Keindahan dan kegembiraannya pun kegembiraan yang baik. Musik KiaiKanjeng adalah representasinya.

Sementara bagi Mbah Nun, kalau bicara tentang tasyabbuh (menyerupai), bisa saja kondisinya sekarang adalah banyak yang sudah serupa, di dunia yang sudah sedemikian globalized. Maka perlu dipilah dengan lebih jelas tasyabbuh yang dilarang itu di wilayah atau ranah apa saja: apakah di wilayah budaya, ritual, atau apa. Sehingga, menurut saya sih, ini membutuhkan diskursus intelektual yang konstan dan harus melibatkan banyak perspektif. Kita bisa kaitkan dengan perspektif-perspektif lain dalam memandang Islam dan modernitas, misalnya. Bagaimana menjadi muslim sekaligus modern, kosmopolit, globalis, dan kreatif. Itu untuk menyebut satu contoh saja dari perspektif-perspektif lain yang saya maksud.

Oh ya, sejak pukul 23.00 acara malam itu disiarkan secara live oleh JTV agar pemirsa di manapun yang menjangkau siaran JTV kebagian bisa ikut Sinau Bareng bersama Mbah Nun dan KiaiKanjeng pada momen refleksi akhir tahun dan menyambut tahun baru.

Tentu banyak percikan ilmu lain yang disampaikan Mbah Nun malam itu, dari soal memahami makna setan, sikap diri dalam berkebenaran, memahami empat sifat Rasulullah, dan rahasia kesehatan. Sebagai contoh, Mbah Nun berpesan, “Jangan memberi “makanan” kepada penyakit. Sehat adalah keadaan yang lahir dari hidup yang benar, tepat, dan baik, dengan atau tanpa olahraga.”

Jelas sekali saya rasa, Mbah Nun mengajak kita untuk tidak memberikan sesuatu ke dalam diri kita yang potensial menimbulkan dan menyuburkan penyakit. Ini pun menurut saya juga berlaku untuk kehidupan sosial kita. Jangan kita melakukan sesuatu tanpa kita perhitungkan sesuatu itu akan mengakibatkan mudarat atau tidak. Jika akan menimbulkan mudarat, sebaiknya tidak usah dilakukan.

Saya merasa pesan kesehatan Mbah Nun perlu kita bawa memasuki 2018. Dan, malam itu, Mbah Nun dan KiaiKanjeng telah menyajikan “makanan” yang diolah sedemikian rupa ditujukan agar para jamaah dan hadirin malam tahun baru itu mendapatkan sesuatu yang menyehatkan. Ya pikiran mereka, ya jiwa mereka.

Maka, di penghujung acara itu, Mbah Nun pun berdoa dan mendoakan mereka dengan melantunkan lima ayat awal surat Al-Fath dengan harapan Allah membukakan cahaya dan hidayah baru buat mereka. Yang sakit segera disembuhkan. Yang punya masalah, segera diberikan solusi. (HM)

Selain ikut menyerap sedikit demi sedikit wawasan yang disampaikan Mbah Nun, saya juga menyaksikan bagaimana orang-orang di malam tahun baru itu mendapatkan gizi yang sehat dari Mbah Nun dan KiaiKanjeng. Parade enam nomor KiaiKanjeng adalah salah satunya, dan semuanya dinikmati oleh mereka. Wabil…