Jamaah, Kemesraan Komunalitas Nusantara

Catatan Majelis Maiyah Mocopat Syafaat, 17 November 2018

Pukul 22.00 WIB lantunan ayat-ayat suci Al-Qur`an dan shalawatan bersama telah rampung. Mas Helmi dan Mas Jamal mengisi panggung. Bisa dibilang malam tujuh belas bulan ini tidak sepadat seperti biasanya, walaupun kalau dibandingkan dengan ketika saya pertama kali datang ke majelis Mocopat Syafaat sekitar 10 tahun lalu, ini masih terhitung ramai juga. Hadirin tetap memenuhi pekarangan TKIT Alhamdulillah dan meluber hingga melewati pagar. Dulu, satu pekarangan itu belum tentu full isinya.

Secara selera pribadi, saya sendiri lebih nyaman dengan situasi yang tidak begitu padat. Tapi itu saya harus membatasi diri, jangan sampai mencegah orang datang untuk mengecap manisnya kebersamaan dan kemesraan ilmu, dalam peristiwa yang–mengutip kalimat Mbah Nun–“satu forum seribu podium” ya, Maiyah. Semua orang berhak mengecap dan mencercapnya, semua orang berhak memaknai dan memetik keberfungsian dari yang didapatkan untuk hidupnya masing-masing. Tentu dengan pagar etika yang tidak perlu sering-sering digaungkan. Masa untuk tidak men-“sop buntut” saja perlu diingatkan? Masa untuk sekadar tidak mem-posting video Maiyah di YouTube dengan embel-embel judul bombastis saja perlu diingatkan? Masa ndak bisa dipikir sendiri?

Mbah Nun dan Bunda Novia sedang membersamai sedulur-sedulur kita yang berada di sekitar Perth, Australia. Malam ini Mbah Nun tidak bersama kita yang di Jawa secara ragawi, tapi tentu kehadiran dalam kemesraan tetap hangat di hati masing-masing. Ketidakhadiran secara fisik, sering malah memelekatkan kemesraan. Ini pernah dibahas dalam salah satu dari 48 hukum pesona (Law of Attraction) oleh Robbert Greene, dia mengistilahkannya dengan “menspiritual” ketika wajah yang biasanya hadir secara fisik kemudian hadir dalam memori, maka rasa yang timbul bisa jauh lebih dalam.

Ketidaksetujuan Muhammad Saw untuk dibuat gambar atau patung, menurut Robert Greene adalah kejeniusan sendiri karena dengan begitu Sang Rasul hadir di hati masing-masing manusia, bahkan hingga berabad-abad setelahnya. Namun kelak, ini sering dipakai dalam teknik-teknik pelatihan spiritual esoteris di berbagai kepercayaan. Biasanya seorang murid disuruh mengulang kalimat-kalimat suci, mantra atau wirid dengan membayangkan wajah gurunya. Mungkin secara spiritual ada efeknya, tapi begituan bukan bahasan favorit saya. Pada tataran psikologi ini akan melahirkan pesona, sehingga pengikut sang guru akan sulit mengambil jarak kritis.

Kali ini kita berkesempatan untuk menghadirkan Mbah Nun, menspiritualkan, dalam diri kita masing-masing tapi ini bukan untuk membangkitkan pesona dan ghuluw, bukan. Ini yah boleh kita maknai tantangan kerinduan. Lagipula rasanya di majelis-majelis Maiyah tidak pernah ada perintah semacam membaca mantra atau wiridan sambil membayangkan Mbah Nun. Kalaupun ada yang melakukan tentu atas dasar inisiatif sendiri dengan bekal belief system sendiri-sendiri.

Sampai tulisan di sini, pas Cak Fuad di panggung sedang menyampaikan, “Janganlah kita mendewakan seseorang atau golongan.” Kultur kita memang mendukung untuk pemujaan pada sosok, ditambah lagi pola relasi kuasa komunikasi yang bercorak mistis-magis, membuat kita gampang jatuh pada idolatry plus militansi golongan, dan belakangan kita sedang menuai beberapa buah persoalan dari hal semacam ini. Kalau bisa kita tidak segera ambil kesimpulan apakah itu baik atau buruk, tapi kita coba ambil jarak dari atmosfer kultur kita sendiri.

Saya sekali lagi mau bilang, secara pribadi saya menikmati ketika suasana tidak sedang sangat ramai seperti bulan-bulan sebelumnya. Toh, saya sangat percaya bahwa Maiyah tidak mengandalkan jumlah kuantitas, tapi kualitas dari kebersamaan. Jumlah, untuk kultur kita tidak bisa jadi ukuran kualitas. Karena kalau dilihat secara garis besar orang Indonesia selalu ramai, berkumpul pada kejadian atau fenoemena semacam: kecelakaan, kebakaran, pengajian, kampanye, dangdutan atau ada orang kesurupan.

Perhatikan saja, semua hal itu bisa bikin orang Indonesia ramai berkumpul, nonton. Dan secara perkembangan ideologi komunitas, kebanyakan ideologi justru runtuh setelah pengikutnya sangat banyak dan militan mati-matian terhadap kelompok dan simbol-simbolnya. Akhir-akhir ini, jargon negara harga mati tambah hingar-bingar, mudah membayangkan bahwa ini sudah era senjakala nasionalisme negara modern.

Seorang Mas yang belum pernah saya lihat sebelumnya, lewat di dekat tempat saya duduk, kaos hitamnya bertuliskan “Istiqomah” ada tulisan kecil di bawahnya tapi saya tidak bisa membacanya karena terlalu kecil. Pak Munir bersama istri beliau menyapa–waktu di Solo saya sempat diperkenankan menginap dirumah beliau–rasanya seperti punya keluarga yang baru kenal. Matur nuwun sanget kagem Pak Munir sekeluarga. Ada Mang Mulyana, tadi masih di rumahnya, via WA bertanya apakah Mbah Nun hadir, saya jawab tidak dan saya kasih tahu bahwa jamaah yang datang tidak sebanyak biasanya. Saya kira Mang Mulyana bakalan ndak datang karena informasi tersebut, rupanya… ini orangnya sedang makan mie rebus dekat saya sekarang.

Kita berkumpul di Maiyah bukan untuk nonton Mbah Nun. Maiyah bukan Cak Nun fans club atau followers tanpa nalar. Penggunaan jumlah dan gerakan massa telah berkali-kali terbukti dalam sejarah bahwa hanya bisa terpakai untuk hal-hal megah dan besar, tapi juga selalu banyak detail yang luput.

Kita bergabung dalam ruangan Maiyah, untuk ikut menjadi bagian, mewarnai dan memaknai. Kita menjadi diri otentik kita sendiri yang berkumpul bersama, itulah sejatinya kebersamaan yang terbangun dalam komunalitas Nusantara. Itu sejalan dengan kesadaran jamaah, bukan kesadaran massa seperti NKRI yang mulai mati harga.

Lainnya