Jalan Sunyi: Perjuangan, Puasa dan Doa

Setelah kami gagal Menguak Jalan Sunyi Mbah Markesot, kami semakin sadar akan kebodohan kami. Bukankah sejatinya hidup ini adalah sunyi. Sendiri. Mengikuti jalan takdir-Nya sendiri. Bertanggung jawab atas diri sendiri. Kelak diadili Tuhan sendiri-sendiri. Dan amalan diri sendiri yang akan menentukan nasib kita di kehidupan selanjutnya nanti. 

Tuhan, betapa malangnya hidup kami. Kami memaknai Jalan Sunyi hanya di permukaan. Tak mampu hanyut dan larut ke dalam. Kami dilenakan oleh dunia. Dunia merayu kami untuk mengejarnya. Dunia menggoda kami untuk mempersolek diri dengan harta-benda. Dunia mengajak kami untuk terus berpesta pora menghabiskan jatah usia.

Kami tak pernah mengambil jarak dengan dunia. Kami selalu gagal memunggungi dunia. Kami tidak suka menyepi. Kami lebih suka gemerlap dan hingar-bingar. Kami tak kerasan untuk menep-i. Kami jauh lebih sibuk dengan hobi dan hiburan. Kami enggan ‘berpuasa’. Dan kami sangat serakah. Gemar melampiaskan dan menghambur-hamburkan. 

***

Teman-teman sekalian, bulan Ramadlan kembali datang dan berlalu. Bulan yang penuh berkah, pahala dan ampunan. Namun apakah kita benar-benar gembira dengan hadirnya bulan Ramadlan? Apakah kita benar-benar sedia, rela, ikhlas untuk menjalankan ibadah puasa? Bukankah makan setiap saat itu enak. Dan minum es kelapa muda saat cuaca panas sungguh nikmat luar biasa. Oh tidak, datangnya Ramadlan agaknya justru menganggu kenyamanan tradisi makan dan minum kita sehari-hari.

Berbicara tentang puasa, ada sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan langsung oleh Nabi Muhammad Saw dari Rabb-Nya, bahwa Allah berfirman: “Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa, sebab ia hanyalah untuk-Ku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran padanya secara langsung”. (HR Bukhari)

Dengan mencermati hadits di atas, bukankah puasa (wajib dan sunah) adalah ibadah yang spesial. Ibadah eksklusif. Lain dari yang lain. Sebab Allah sendiri yang akan turun langsung memberikan balasan kepada orang yang berpuasa. Dan puasa baiknya menjadi salah satu cara kita untuk belajar menyifati sifat-sifat Allah. Yakni tidak makan, tidak minum dan tidak-tidak yang lain. Menahan diri. Ngerem sak-kabehane. 

Puasa sungguh ajaib. Dan beberapa waktu lalu saya menyaksikan adegan keajaiban yang berkaitan dengan hikmah puasa. Di mana salah satu siswa kelas 6 SD Negeri Gemolong tempat saya mengajar, telah berhasil mengukir prestasi. Siswa tersebut bernama Dyah Ayu Cindrawati. Yang sehari-hari akrab dipanggil Ayu. 

Kisahnya terjadi pada hari Selasa, tanggal 24 April 2018. Ayu keluar sebagai juara 1 pada gelaran Popda (Pekan Olahraga Pelajar Daerah) SD/MI sederajat cabang Taekwondo tingkat provinsi Jawa Tengah. Popda dihelat di kota Semarang. Yang diikuti oleh seluruh perwakilan dari kabupaten yang ada di wilayah provinsi Jawa Tengah. Puji Tuhan, Ayu sukses menyabet medali emas setelah unggul angka atas lawannya asal Cilacap pada partai puncak. Haru. Bangga. Mengharumkan nama, keluarga dan sekolahnya.  

Sebelumnya, Ayu telah mewakili kecamatan Gemolong maju di tingkat kabupaten Sragen dan menang. Selanjutnya Ayu bertarung di tingkat karisidenan Surakarta, menang lagi. Kemudian Ayu dikirim untuk berduel di tingkat provinsi. Di sana, Ayu menunjukkan determinasinya. Mampu tampil sangar, gahar, dan menghajar satu demi satu lawan-lawannya. Kami yang turut serta mendampingi dan menyaksikan laga demi laga, tak kuasa menitikkan airmata. Luar biasa. Kabarnya, ada wacana Ayu akan dikirim untuk mengikuti Popda Taekwondo tingkat Nasional. Patut ditunggu.

Banyak yang menyebut, keberhasilan Ayu merengkuh medali emas dikarenakan ketekunan ia dalam berlatih. Pendapat itu tidak salah. Masuk akal. Dah sah-sah saja. Toh, kenyataannya memang demikian. Tidak mungkin seseorang mampu meraih kemenangan tanpa adanya latihan dan kerja keras. 

Namun di sisi lain, tidak banyak orang yang tahu apa yang selama ini telah Ayu lakukan, sehingga membuatnya terus berprestasi khususnya di cabang Taekwondo.

Kebetulan saya salah satu guru yang cukup dekat dan mengenal kepribadian Ayu. Di mana sejak kelas 4 SD, Ayu sudah gemar menjalankan ibadah puasa sunnah (nyenen-kemis). Bayangkan, anak cewek berusia 10 tahun nyatanya mampu istiqomah menjalankan ibadah puasa sunnah. Dan itu ia jalani sampai sekarang menginjak kelas 6. Bukankah itu sebuah laku Jalan Sunyi. Yang tak banyak orang ketahui.

Sampai pada satu hari sebelum hari-H pertandingan, saya ‘kencan’ dengan Ayu, mengajaknya untuk menjalankan puasa sunnah bersama. Berdoa dan mohon pada Allah agar ia diberi kekuatan saat bertanding esok hari. Dan pada hari-H, saya juga meminta kepada seluruh rekan guru dan murid, untuk mengirimkan doa Al-Fatihah bersama guna ngombyongi perjuangan Ayu di medan laga. 

Dan pada saat itulah mungkin Tuhan bekerja. Membuktikan kata-kata-Nya. Melalui laku Jalan Sunyi (perjuangan, puasa dan doa-doa) yang telah Ayu tempuh selama ini, akhirnya ia diberi ganjaran langsung oleh Tuhan dengan raihan medali juara pertama tingkat provinsi. 

Sampai di sini Pakde Tarmihim terdengar suara tertawanya: “Apakah Jalan Sunyi ada ujungnya? Apakah perjuangan ada akhirnya?”. Kemudian, “Nanti begitu kita dipindahkan oleh Baginda Izroil ke alam berikutnya”, Pakde Brakodin menyambung, “salah satu yang kita sesali adalah pernah menghentikan perjuangan tatkala bertugas di dunia…” –Daur II-316Ujung Jalan Sunyi

Terima kasih sangat Simbah, telah engkau ajarkan kami tentang laku Jalan Sunyi. Tentang perjuangan, puasa, dan doa-doa. Di mana perjuangan itu tidak ada akhirnya. Jalan Sunyi tak pernah ada ujungnya. 

Selamat buat Ayu, jalanmu masih panjang. Berlatih terus, terus berjuang. Jangan pernah menghentikan perjuangan selama kita masih bertugas di dunia…”