Inilah Anak-Cucu Mbah Nun dan KiaiKanjeng

#65TahunCakNun

Mau lihat seperti apa profil dan performance simpul-simpul “asli” Maiyah? Salah satu caranya adalah seharusnya datang di acara Persembahan Anak Cucu semalam yang dihelat dalam rangka 65 Tahun Cak Nun di Mentoro Sumobito Jombang.

Tapi sebentar kok ada istilah “asli”, apa maksudnya? Kalau forum seperti Padhangmbulan, Mocopat Syafaat, dan Kenduri Cinta perlu dicatat bahwa dalam sejarahnya ketiga forum rutin itu lahir dari atmosfer aktivisme sosial Cak Nun. Artinya, kelahiran dan keberadaan mereka lebih merupakan inisiatif sosial langsung dari Cak Nun.

Tetapi sebaliknya, simpul-simpul Maiyah yang tadi malam berbagi kebahagiaan di atas panggung ini mencerminkan proses di mana lingkaran atau simpul seperti Warok Kaprawiran Madiun, Suluk Pesisiran Pekalongan, Rampak Osing Banyuwangi, Sibar Kasih Cikarang, dan Jimat Tuban adalah lingkaran forum yang lahir atas inisiatif para Jamaah Maiyah itu sendiri. Bukan atas perintah atau bentukan dari Cak Nun. Mereka berinisiatif sendiri. Itu yang kita maksud asli.

Mereka naik panggung berbagi cerita kepada sesama simpul maupun kepada semua yang hadir. Apa yang mereka rasakan dan peroleh dalam Maiyah mereka sampaikan. Di antaranya, kemajuan berpikir yang mereka alami berkat atmosfer berpikir yang ditanamkan Cak Nun dalam berbagai kesempatan khususnya dalam Majelis Ilmu Maiyah dan Sinau-Sinau Bareng.

Tak hanya omong-omongan, mereka juga hadirkan lagu-lagu dan puisi. Ada lagu-lagu KiaiKanjeng. Ada pula lagu dangdut. Pun nomor-nomor kreasi mereka sendiri. Mereka adalah Gamelan Batu Aji (Batu, Malang), Gamelan Kiai Iket Udeng (Madiun dan Ponorogo), Gamelan Ajisoko (Bojonegoro) dan Wakijo Sedulur (Semarang). Puncaknya, dalam rangkaian mereka mengungkapkan rasa ta’dhim dan syukur atas 65 Tahun Mbah Nun.