Ingatlah Perjanjianmu dengan Allah Swt

Catatan Majelis Maiyah Dusun Ambengan, 21 November 2018

Bulan November ini, Maiyah Dusun Ambengan tidak seperti biasanya. Rutinnya, Ambengan selalu dilaksanakan setiap hari sabtu malam di minggu kedua setiap bulannya. Namun, bulan ini, hari rabu. Perubahan jadwal ini semata didasari pertimbangan teknis pemadatan kegiatan dalam satu rangkaian waktu. Yaitu sehari sebelumnya, 20 November, maiyahan Sinau Bareng Maulidan bersama Gus Sabrang dan Letto di Pondok Pesantren Al-Muttaqien Bandar Lampung pimpinan sesepuh Maiyah KH Mustofa Wagianto (Pakde Mus).

Lalu kegiatan pelatihan musik tradisional Cetik Lampung di Rumah Hati Lampung (markas Maiyah Dusun Ambengan) 21 November siang. Lantas dipuncaki dengan Maiyahan Ambengan edisi 39 malam harinya.

Tepat pukul 19.30, pembacaan tartil Qur`an dilaksanakan. Ustadz Darmin, yang memimpin tahlil, mengajak serta para jamaah untuk mendoakan ibu-ibu Rumah Hati Lampung, karena telah mempersiapkan segala macam sajian, kemudian yang bershadaqah dan terakhir kepada seluruh ahli kubur agar diampuni dosa-dosanya oleh Allah Swt.

Ada hal yang istimewa pada malam itu, yaitu kehadiran Pak Margono. Ia warga Margodadi Kecamatan Metro Selatan. Pak Margono adalah seseorang yang pernah meminta bantuan kepada Monitor Artis (Komunitas Layanan Sosial pendonor darah gratis – Maiyah Ambengan). Ia bercerita mengenai hubungan pertolongan dengan Monitor Artis, mulai dari perkenalannya dengan Pak Cipto (Koordinator Monitor Artis), hingga saat-saat membutuhkan darah.

Mengapa menjadi istimewa? Berkat hubungan hati antara Pak Margono dan Monitor Artis, saat ini Pak Margono memberikan jasa peminjaman secara gratis tikar, selimut, termos, dan segala kebutuhan perkakas apabila ada sanak, tetangga, dan keluarga Jamaah Maiyah Ambengan yang menginap di Rumah Sakit di Metro dan tidak memiliki kelengkapan yang disebutkan tadi.

Sama seperti Monitor Artis, Pak Margono ingin nandur perbuatan. Hanya nandur kebaikan, bukan perdagangan. Pak Margono terinspirasi Monitor Artis, bahwa sudah berbuat saja sudah cukup, tidak mengharap pamrih suatu apapun. “Dengan penuh maaf dan kerendahan hati, kalau mau istirahat dan meminjam perkakas untuk keperluan menunggu keluarga di rumah sakit, silahkan hubungi saya, 085269409278,” tawar Pak Margono.

Sebelum memasuki bedah tema, Jamus Kalimosodo mempersembahkan dua nomor yaitu Permintaan Hati milik Letto–yang pada malam sebelumnya dikolaborasikan Letto dan Jamus saat maiyahan di pondok pesantren Pakde Mus. Lalu disambung nomor shalawat Ya Rasulullah Salamun Alaik.

Mas Angger, menjadi pemandu jalannya bedah tema kali ini. Ia kemudian mempersilakan Pak Sulis, Pak Cipto, Pak Narto dan Mas Jefri untuk maju ke depan sebagai perangsang tema Buta Batas. Begitu istilah Mas Angger.

Season bedah tema ini memang dimaksudkan untuk mengantarkan jamaah pada tema pembahasan. Selain itu, sesi ini ingin membuktikan bahwa hadirnya Maiyah Dusun Ambengan itu sebagai media sinau bareng. Sehingga, siapapun yang hadir, sangat disarankan untuk urun pendapat, wawasan, atau bahkan persoalan-persoalan yang perlu untuk dicarikan solusinya.

Maka itu, Mas Angger mengatakan bahwa yang duduk di depan bukanlah orang pinter, yang tahu persoalan. Bukan. Dengan istilahnya, mereka hanya ‘perangsang’ pembicaraan.

Ada yang mengatakan bahwa makanlah sebanyak-banyaknya, carilah harta sampai ke ujung dunia, salurkanlah nafsu seksualmu kepada yang disuka dan di mana saja. Ada juga pendapat: carilah makan, harta kekayaan untuk negaramu, biar ia yang urus segala kebutuhanmu. Juga ada pendapat: makanlah ketika lapar, berhentilah sebelum kenyang. Lantas, mana pendapat yang baik?

Pak Narto berpendapat bahwa manusia memang harus membatasi dirinya, karena terkadang lupa. Seperti tenaga, pikiran, harus ada batasnya, agar seimbang, harus pada takarannya. “Ojo gak dugo, gak kiro, gak nganggo ukuran,” katanya. Pak Cipto juga mengajak kita untuk tidak melebihi batas, seperti ucapannya menyadur ucapan Cak Nun, “Lakonono uripmu sak wajare, bersyukurlah.”

Cak Sul Juga, setelah maju ke depan membersamai jamaah, menegaskan dengan, “Iki dudu pengajian. Dalam arti hanya satu sumber pembicara dan yang lain hanya mendengarkan. Pengajian ki opo? Dari kata apa? Nggak ada istilah pengajian di Al-Qur`an, adanya tholabul ‘ilmiNah, iku diterjemahke pengajian, pengkajian, sinau, lan sak piturute. Karena itu, kita selalu membutuhkan forum-forum seperti ini, segala hal bisa kita sinauni bareng dan dimanapun kita berada.”

Malam itu, beberapa anak tampil memainkan Gamolan, mereka adalah peserta pelatihan alat musik tradisional yang diselenggarakan di Rumah Hati Lampung, pada siang harinya. Gamolan adalah alat instrumen khas adat Lampung. Hampir menyerupai saron dari Jawa, namun Gamolan terbuat dari bilah bambu yang disusun sedemikian rupa. Memainkannya pun sama seperti memukul saron. Penampilan malam ini adalah usaha untuk mengenalkan kembali alat musik adat Lampung yang sudah mulai terpinggirkan.

Setelah pementasan Gamolan selesai, Cak Sul berusaha membenarkan bahwa kita memang sering lupa batas, terkadang mengambil dan menyakiti hak orang lain. “Kalau wong Jowo ada istilah patrap. Istilah ‘BUTA HURUF’ kui nyakiti to. Terus nyebute piye? Yo urung iso moco, ngunu wae. Jadi, mulai ngesok, dewe buang istilah iku, nyakiti.

Cak Sul mencontohkan lain, dalam perkebunan, kalau kita memupuk dengan dosis yang berlebihan, buta batas, akan menimbulkan banyak kerugian. Ekosistemnya akan rusak, karena tidak stabil, hasil perkebunan yang dimakan juga menjadi tidak sehat, karena terlalu banyak kimia sintetik. Maka itu, pesan Cak Sul, segala sesuatu harus selalu disandarkan kepada Allah Swt sebagai batasnya, baik fisika maupun metafisika.

Belum lagi urusan Gadget, siapa tuannya? Gawai atau kita? Jawaban ini untuk mengaskan siapa yang membatasi apa? Manusia membatasi penggunaan gawai, atau gawai membatasi ke-manusia-an kita? Mengetahui itu memang berat, karena akan melawan diri sendiri yang hidup di musim keserakahan diri.

Ilaahii lastu lil firdausi ahlaan wa laa aqwaa ‘alaa naaril jahiimi. Fa hablii taubatan waghfir dzunuubii fa innaka ghaafirudzdzambil ‘adhiimi.

Beberapa nomor dibawakan Jamus, bergembira dalam alunan musiknya. Syiir Abu Nawas, crazy mix rasa sayange. Lalu, Cak Sul melempar pertanyaan kepada jamaah, “Kalau dalam konteks politik, buta batas itu apa?” Jamaah menjawab bergantian: Hoaks, korupsi, gak ndue isin. ”Lalu, kalau dalam konteks agama?” Merasa paling benar sendiri, merasa memiliki surga sendiri, celetuk jamaah.

Mengapa mata, telinga, fisik kita terbatas? Itu pasti ada nilainya. Kita melek ombo, tapi sebenarnya kita buta. Yang tuli bukan telinga, tapi pendengarannya. Merdekalah pikiran kita, peci itu belum tentu Islam,  jenggot yo rung tentu teroris. Manusia tidak akan tinggal dalam dunia fisik, dan terjebak dalam simbol-simbol, ia harus melampaui itu. Melihat, memandang, berpikir, dalam irama dan energi Allah Swt.

Makhluk terbatas itu selalu menginginkan yang tak terbatas. Apakah sesuatu yang terbatas dapat men-jangkepi yang tak terbatas? Mustahil, maka itu, manusia harus selalu menjadikan Allah sebagai sumber dan pancer hidupnya. Seperti tulisan Mbah Nun:

Setiap warga Negeri Maiyah bertanggung jawab terhadap perjanjiannya kepada Allah sebelum lahir untuk hanya menyembah Allah, dalam pengertian meletakkan Allah sebagai pancer segala pertimbangan dan perhitungan dalam menjalankan hidupnya.”

Dan pukul 24.00 WIB, Ambengan ditutup dengan: Laqad ja-akum rasulun min anfusikum ‘azizun ‘alaihi ma anittum haritsun ‘alaikum bil mu`minina raufun rahim… (At-Taubat: 128) bersama Shalawat Alfussalam kemudian bersalam-salaman dan makan sajian khas Ambengan. (Redaksi Ambengan)