Ingat Mati Supaya Ingat Engkau Abadi

Reportase Sinau Bareng CNKK dan Sabrang, Yogyakarta, 28 Juli 2018

Khalidina fiiha abada” oleh Mbah Nun diberi impresi pemaknaan “Sudah kekal abadi pula”. Hal ini digaungkan di hadapan bapak-bapak dan ibu-ibu staf PT Telkom yang akan menjelang pensiun. Mereka sedang berkumpul, reuni untuk saling menyambung silaturahim. Mungkin juga sebenarnya saling menguatkan. Kenapa perlu saling menguatkan? Mungkin karena begini, usia pensiun dalam pandangan mainstream industri adalah usia yang sudah “selesai” dan ini menakutkan. Memang finansial telah terjamin, anak-anak sudah mapan, pasangan ya sudah hampir tidak mungkin ganti. Apa lagi? Seringkali kita dapati orang-orang yang kebinguangan menghadapi atmosfer menjelang pensiun.

Mereka yang selama puluhan tahun masa produktifnya bekerja, menapaki terjal bertebing kasta karier. Pada era keemasannya, sikap tunduk dari bawahan, sambutan saat kunjungan ke daerah-daerah maupun obrolan semi-formal dengan yang sejawat adalah kelumrahan harian. Hal-hal macam itu mungkin tidak akan didapatkan lagi, banyak yang mengalami goncangan batin kemudian. Tak jarang yang merembet pada penurunan kualitas fisik.

Ada yang popular disebut puber kedua, walau sebenarnya bukan benar juga istilah itu. Tapi sebagai gejala biasanya pada usia ini terutama lelaki akan meyakin-yakinkan diri bahwa mereka tidak setua itu. Gabung ke geng motor mewah super mahal, ke tempat fitness atau ke kumpulan agama yang sedikit revolusioner slogan-slogannya, mencoba bergaya stylish kekinian atau apapun usaha-usahanya. Semua tidak salah, tapi hampir semua ini juga tidak benar-benar menyelesaikan masalah.

Negara paling bisa menyediakan pelatihan singkat menjelang usia pensiun, sekaligus darmawisata mungkin. Tapi ini juga biasanya makin membuat orang merasa hidupnya segera berakhir. Senja telah tiba? Ke mana malam mengadu?

Tapi hidup tidak berakhir. Mbah Nun dan KiaiKanjeng disertai pula oleh Mas Sabrang pada malam tanggal 28 Juli 2018 M di Boogey’s Café Hotel Hyatt, Yogyakarta malam itu meyakinkan para staf senior PT Telkom ini. Mereka diajak Sinau Bareng, bersenang-senang dengan kesenangan yang disenangi Gusti Allah. Bersenang-senang seperti apa? Senang mengingat mati. Wah gawat orang mulai senior kok diingetin mati? Apa ndak tambah down? Tidak, memang “kullu nafsin dzaiqotul maut” atau pada bahasa Game of Throne “Valaar morghulis”. Semua pasti mati. Tapi kata siapa mati adalah akhir?

Itulah sumber persoalan. Kita selalu memandang mati adalah ambang batas finish-nya hidup. Pola pendidikan kita yang berkiblat pada industri membuat banyak orang percaya bahwa mereka hanya hidup sebatas ini dan seluas ini, padahal hidup begitu luasnya. “Anda itu abadi,” begitu ungkap Mbah Nun. ”Kalau Indonesia sih memang ndak abadi. Manusianya yang abadi. Negara kan hanya bikinan manusia.”

Memang, melihat semua gejala yang tampak rasanya tidak ada alasan serius yang menandakan NKRI akan lebih awet usianya. Harap kita juga tidak terlalu emosional dengan beginian. Tidak perlu meributkan apa-apa yang tak perlu, memberontak atau mencintai terlalu. Biarkan saja dulu prosesnya.

Walau Sinau Bareng ini ditujukan pada bapak-bapak dan ibu-ibu staf senior PT Telkom, namun nampaknya para pekerja di hotel, penjaga bar dan petugas kitchen kemudian tampak khusyuk menyimak walau beberapa terpaksa sambil melanjutkan tugasnya. Mungkin mereka mendapat poin-poin sendiri dari Sinau Bareng ini. Saya tidak sempat bertanya. Toh saya juga hanya setia di stand kambing guling walau jajaran jajanan beraneka ragam dengan nama-nama yang membacanya saja sulit, berjejer-jejer. Kambing cukup bagi saya, tiga porsi jumbo, cukup.

“Khalidina fiiha abada” oleh Mbah Nun diberi impresi pemaknaan “Sudah kekal abadi pula”. Hal ini digaungkan di hadapan bapak-bapak dan ibu-ibu staf PT Telkom yang akan menjelang pensiun. Mereka sedang berkumpul, reuni untuk saling menyambung silaturahim. Mungkin juga sebenarnya saling menguatkan.