Indonesia Wallahu A’lam Bish-showab

Reportase Majelis Maiyah Mocopat Syafaat, 17 Januari 2018

Mocopat Syafaat Januari 2018

Piagam Maiyah, Madinah Madinah

Mas Angga yang pada beberapa kesempatan sering mengawal diskusi pembuka pada acara Mocopat Syafaat, kali itu tampak sedikit kebingungan. Pembacaan ayat suci Al-Qur`an di panggung telah rampung. Mas Angga harus bergegas naik, namun timnya masih belum sampai di lokasi acara.

Segera saja, Mas Angga mengajak Fadil yang saat itu sedang ngopi sambil membuka-buka buletin Mocopat Syafaat edisi bulan ini. Buletin yang dipajang di pinggir jalan masuk menuju acara dengan sistem penjualan saling percaya saja; tumpukan buletin dan harga satuan dipampang, di sebelahnya terdapat kardus tempat menaruh uang sekaligus juga kembalian ambil sendiri. Selain berlandas saling percaya juga hemat tenaga, bukan? Betapa borosnya tenaga manusia dibuang-buang di luar sana hanya karena ketidak-saling-percayaan?

Fadil sendiri kurang siap sebenarnya untuk naik ke atas panggung, dia baru saja menyapa Mang Mulyana, seorang seniman asal Bandung yang langganan jamaah jumatan di Kadipiro namun baru pertama kali ikut acara Mocopat Syafaat. Namun Fadil menyanggupi, toh sudah lumayan rapi. Kemeja putih baru hasil oleh-oleh umroh ibu mertua pada mantu kesayangan, masih klimis. Peci ada. Berat badan naik, lama tidak joging dan absen fitness, tidak usah dibahas. Fisik siaplah. Batin entah.

Singkat kisah, Mas Angga dan Fadil pun membuka acara diskusi malam itu. Bahasan soal gagasan Piagam Maiyah masih menjadi lambaran utama. Di antara yang dielobarasi kali itu adalah Piagam Madinah sebagai titik pembeda Islam dengan agama-agama lain. Bukan karena mau memperuncing persoalan perbedaan, tapi kan yang beda memang harus diobjektifi juga. Berbeda tak pernah jadi soal, perselingkuhan dan permusuhan itulah masalah kehidupan.

Kok Piagam Madinah? Tentu bukan sekadar karena kata “Madinah” dan “Maiyah” agak ada mirip bunyinya (Fadil itu bahkan beberapa kali kepeleset lidah mengucap Piagam Maiyah jadi Piagam Maiyah e… Madinah eh…  Madinah)

Intinya begini, Rasulullah Muhammad Saw, imam para nabi, penghulu segala junjungan, makhluk paling utama dalam berbagai lipatan dimensi semesta, sebenarnya bisa saja menitahkan untuk membuat regulasi masyarakat tanpa perlu pembahasan panjang. Namun Rasulullah Saw, tidak memakai haknya untuk di-“sendiko dawuh”-i oleh sahabat-sahabat dan masyarakat Madinah saat itu. Beliau justru melempar relasi kuasa, mengajak keterlibatan masyarakat dari segala lapisan untuk turut aktif menyusun regulasi hidup bersama, untuk dipakai sebagai “jimat” bersama, dipatuhi dan dijalankan bersama-sama pula.

“Demokrasi belum ada saat itu”, kata Fadil di panggung. Sepertinya Fadil salah ngomong, dia lupa bahwa demokrasi sudah ada di Yunani dan (kemudian) Romawi, dengan sistem perwakilan suara di senat. Mungkin maksudnya Fadil, demokrasi secara terminologi dan sistem masih asing pada masyarakat Arab saat itu. Fadil sepertinya setuju dengan ketidaksetujuan dalam tulisan ini.

Mas Angga juga aktif melempar bola-bola diskusi. Memang, keterlibatan jamaah sangat diperlukan. Sebab Piagam Maiyah ingin bercermin pada Piagam Madinah, maka input variabel sebanyak mungkin dari jamaah sangat dibutuhkan. Ini pula yang kemudian membedakan jamaah dengan massa. Islam tidak sekadar membangun massa, tapi juga membangkitkan ghiroh berjamaah.

Fundamental sekali perbedaan jamaah dengan massa. Massa bisa diarahkan ke arah tertentu dengan mitologisasi, heroisme, antagonisme, pemartiran atau mekanisme lain. Namun untuk jadi jamaah perlu kemandirian dan kedaulatan individu yang saling bertaut-pautan batinnya. Hingga satu kuat akan menguatkan lainnya, disakiti satu akan tersakiti pula lainnya. Cara kerja sel, mungkin seperti itu.

Dalam massa kekuatan jumlah sangat utama. Dalam jamaah, cukup tiga orang saja dengan isi kepala dan orientasi pencarian berbeda bisa bernilai tiga ratus, tiga ribu, tiga juta orang dst menurut pada kualitas otentik individu-individu di dalamnya. Maiyah sudah selesai dengan me-massa, maqom Maiyah adalah ber-jamaah. Yang sayangya memang selama ratusan tahun (ribuan mungkin) tidak tampak ada yang serius dengan pembangunan mental jamaah. Massa banyak, pengajian-pengajian, masjid-masjid besar, dangdutan atau orasi politisi mengumpulkan puluhan hingga ratusan ribu orang bukan masalah besar. Tapi mengumpulkan tiga hingga lima orang yang mau ber-jamaah, nah itu tantangan.

Maiyah yang sedang membangun jamaah, memang berhadapan dengan kultur tradisi yang telah berlangsung ratusan tahun. Tentu juga tidak lebay menyalah-nyalahkan. Menggiring proses, menghembus-hembus mesra lebih menarik rasanya daripada menuding-nuding.

Beberapa waktu lalu ada kalangan aktivis yang menuduh acara Ngaji Bareng dipakai untuk legitimasi kekuatan modal yang ingin membangun bandara. Kasihan, aktivis yang ningrat wacana-priyayi diskursus ini gagal melihat bahwa acara “Ngaji Bareng” itu bukan pengajian podium di mana satu sumber pembicara akan berkoar-koar dan massa harus mendengar khidmat sehingga rentan terjadi brain wash.

Dalam “Ngaji Bareng” jamaah dilibatkan, keluh kesah, kesetujuan dan sanggahan bisa disampaikan sebebas-bebasnya. Lagipula konteks saat itu adalah acara untuk mereka yang terlanjur menerima ganti rugi, masa mereka mau disia-sia? Masa mereka tidak termasuk dalam kriteria masyarakat yang sedang terjepit kahanan? Mereka gundah gulana hatinya menghadapi kahanan anyar, mereka perlu berlindung dari jelmaan mental kelas menengah baru ala Qorun zaman now, perlu kuda-kuda angon.

Kadang aktivis-aktivis ningrat wacana ini memang terlalu asik membongkar-bongkar Syeikh Derrida dan Kiai Karl Marx, jadi lupa hidup. Kalau si Fadil sih orangnya memang kurang kiai minded, tidak begitu minat untuk dapat pencerahan spiritual. Logikanya ’pencerahan kapan-kapan takut silau, di dunia pengin sejuk-sejuk mendung saja dulu’. Makanya dia baca kitab Das Kapital karangan Kiai Karl Marx juga sering dibantah-bantah sendiri. Malas memang menanggapi aktivis priyayi diskursus, kadang kita hanya perlu menyanggah dengan kalimat intelek: “Ra masyukkk bosss”.

Nah itu, Gus Niam telah tiba dari arah jam tiga saya. Lho kok saya? Maksudnya Fadil. Gus Niam segera membawa jamaah pada suasana yang asyik. Rupanya peralatan berupa kertas dan alat tulis siap dibagikan. Pertanyaan mengenai pandangan ke depan, harapan serta kahanan zaman now Maiyah diajukan dan Jamaah hanya perlu menuliskan pandangan-pandangan mereka dengan arahan lembut Gus Niam.

Piagam Maiyah adalah ikhtiar kita bersama, membangun disiplin diri menuju peradaban ber-jamaah. Bismillah, lillahi ta’ala…