Ikhlas Berdaulat Menjadi Diri Sendiri Seutuhnya

Catatan Majelis Ilmu Kenduri Cinta, 9 Maret 2018

“Tidak ada guru yang menjadi bodoh setelah mentransformasikan ilmunya kepada muridnya”, itulah kalimat pembuka yang disampaikan oleh Cak Nun dalam Kenduri Cinta edisi Maret 2018, yang mengangkat tema Tuan Rumah Diri Sendiri di Taman Ismail Marzuki, Jum’at 9 Maret 2018.

Seperti biasanya, Jum’at kedua di Jakarta merupakan hari besar bagi Jamaah Maiyah yang berdomisili di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Mereka datang dan berkumpul bersama, melepas rindu untuk bertemu satu sama lain, di tengah hiruk-pikuk keramaian suasana Ibukota, menyeruak sebuah forum Maiyah di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta. Tahun ini, Kenduri Cinta memasuki perjalanan tahun ke-18.

Untuk mengenang meninggalnya Pak Ismarwanto, Sang Maestro Seruling KiaiKanjeng yang berpulang 25 Februari 2018 lalu, Penggiat Kenduri Cinta mengawali forum Maiyahan kali ini dengan membaca Surat Yasin bersama-sama. Setelahnya, perwakilan dari Komunitas Kenduri Cinta memperkenalkan formatur Kenduri Cinta yang baru terpilih dalam Musyawarah Lengkap Kenduri Cinta 2018 pada awal bulan ini. Tiga orang yang terpilih secara mufakat dalam Musyawarah Lengkap Kenduri Cinta 2018 ini adalah; Fahmi Agustian sebagai Ketua, Tri Mulyana sebagai Wakil Ketua dan Sigit Hariyanto sebagai Sekretaris. Tiga penggiat terpilih ini yang dalam dua tahun ke depan akan menjadi team leader bagi Komunitas Kenduri Cinta.

Disampaikan di sesi awal, adanya Tim Formatur tiga orang di Komunitas Kenduri Cinta bukan dalam rangka menjadikan Kenduri Cinta sebagai sebuah padatan Organisasi apalagi kemudian menjadi sebuah Organisasi Pergerakan. Dengan jumlah massa yang cukup banyak, bukan kemudian Komunitas Kenduri Cinta akan memanfaatkannya untuk melahirkan sebuah gerakan politik di Jakarta. Namun, adanya Tim Formatur ini lebih kepada bagaimana agar Komunitas Kenduri Cinta ini semakin rapi dalam pengelolaan Forum Kenduri Cinta itu sendiri. Selain itu, Organisme Komunitas Kenduri Cinta ini tentu membutuhkan penyegaran-penyegaran serta inovasi-inovasi yang lebih baik, agar semakin banyak lagi karya-karya kreativitas para penggiat Komunitas Kenduri Cinta yang lahir.

Piagam Maiyah Sebagai Wujud Kedaulatan Warga Negeri Maiyah

Memasuki bulan Maret 2018 ini, Koordinator Simpul Maiyah terus bergerak dan berproses untuk mengoordinir penyusunan butir-butir Piagam Maiyah. Fahmi Agustian yang merupakan salah satu anggota Koordinator Simpul Maiyah menyampaikan bahwa Piagam Maiyah nantinya akan menjadi sebuah aturan main bagi Jamaah Maiyah sendiri dalam berkehidupan sehari-hari, utamanya dalam kehidupan persambungan sosial sesama Jamaah Maiyah itu sendiri.

Setelah sebelumnya dilakukan workshop di beberapa Simpul Maiyah, di bulan Maret 2018 ini, Koordinator Simpul Maiyah merilis Formulir Online yang tujuannya agar Jamaah Maiyah dalam skala yang lebih luas dapat turut berpartisipasi dalam penyusunan butir-butir Piagam Maiyah ini. Karena semangat yang dibangun dalam penyusunan Piagam Maiyah ini sendiri adalah bottom-up, harus lahir dari Jamaah Maiyah sendiri.

Sebelum memasuki diskusi sesi selanjutnya, Bobby bersama teman-teman Orkes Semberengen menampilkan beberapa nomor lagu di panggung Kenduri Cinta. Sudah lazim terjadi, beberapa seniman-seniman Ibukota mengisi acara di Kenduri Cinta. Setiap bulan, selalu berganti seniman-seniman yang tampil di Kenduri Cinta. Bahkan, Bobby sendiri sudah sering tampil di Kenduri Cinta. Malam itu, di Kenduri Cinta hadir juga teman-teman dari Kandank Jurank Doank asuhan Dik Doank.

Hadir dalam diskusi sesi pertama; Husen Ja’far seorang penulis yang kebetulan juga seorang Mahasiswa Pasca Sarjana Tafsir Qur`an UIN Syarif Hidayatullah, juga Harico Wibowo Direktur Eksekutif Komunikonten yang kebetulan merupakan Andalan Nasional Bidang Informasi dan Komunikasi KWARNAS Gerakan Pramuka.

Masing-masing narasumber menyampaikan paparannya sesuai dengan latar belakang profesi dan pendidikannya. Husein Ja’far melandasi paparannya dengan kalimat yang sudah sangat popular; man ‘arofa nafsahu faqod ‘arofa robbahu. Tuan rumah diri sendiri seharusnya terbangun secara otomatis, karena setiap manusia memiliki kedaulatan dalam dirinya sendiri. Tuan rumah diri sendiri adalah bagaimana seharusnya kita mengenali diri kita sendiri, mengetahui potensi dalam diri kita sendiri untuk kemudian kita sendiri memaksimalkan potensi itu, sehingga kita menjadi manusia yang mandiri dengan berbekal keahlian dalam potensi diri kita itu.

Dengan mekanisme Khalifah yang diciptakan oleh Allah, Allah sendiri memang menghendaki agar manusia berdaulat atas dirinya sendiri. Manusia secara fitrahnya adalah mandiri, sementara fakta hari ini mayoritas manusia menjadi bukan dirinya sendiri.

Harico Wibowo yang memiliki concern terhadap media sosial dan seluk beluknya menyampaikan, salah satu hal yang hari ini kita butuhkan adalah kedaulatan dalam memfilter informasi yang kita dapatkan. Dalam era digital hari ini, arus informasi yang masuk sangat deras, di mana media sosial menjadi sumber utama persebaran informasi yang ada. Jika masing-masing dari kita tidak memiliki kedaulatan dalam memproses dan memilah informasi yang kita dapatkan, maka tidak mengherankan jika kemudian kita terjebak dalam informasi yang tidak valid.

Harico menyontohkan fenomena di YouTube, di mana banyak sekali video Maiyahan yang diberi judul sangat provokatif dan tidak relevan dengan fakta di lapangan. Dengan judul-judul yang provokatif bahkan tidak sedikit yang mengadu domba, Harico menyayangkan, karena konten-konten di Maiyahan seharusnya dapat dikemas dalam konten yang lebih elegan. Sehingga konten yang kita sebarluaskan adalah konten yang berkualitas. Kita tidak hanya berhenti pada kritik terhadap konten berita yang hari ini mayoritas tidak berbobot, tetapi kita mampu untuk memproduksi konten berita yang berkualitas untuk disajikan ke khalayak.

Teman-teman dari Kandank Jurank Doank bersama Dik Doank kemudian tampil membawakan nomor Ikhlas Itu Indah dan Janda Zainab untuk menutup diskusi sesi pertama. Jamaah Kenduri Cinta tampak menikmati nomor-nomor yang dibawakan oleh teman-teman KJD bersama Dik Doank itu. Paparan-paparan awal di sesi Prolog dan sesi pertama menjadi bekal untuk memasuki sesi selanjutnya. Tampak Cak Nun dan Sabrang juga sudah bergabung, bahkan sebelumnya turut menyimak diskusi sesi awal yang dipaparkan oleh Husen Ja’far dan Harico Wibowo.

Setelah penampilan teman-teman Kandank Jurank Doank, Cak Nun dan Sabrang bergabung di panggung bersama Dik Doank, Husen Ja’far dan Harico Wibowo. Cak Nun menyapa Jamaah Maiyah Kenduri Cinta, kemudian melandasi beberapa poin untuk mengantarkan kepada diskusi yang lebih mendalam malam itu.

Cuaca Jakarta menjelang tengah malam terasa dingin, angin berhembus semakin kencang. Awan mendung tampak mulai terlihat di langit, sepertinya akan segera turun hujan. Namun kebersamaan di Kenduri Cinta malam itu sepertinya sayang jika dilewatkan begitu saja. Cuaca pun tidak menjadi penghalang bagi Jamaah untuk tetap bertahan, bahkan hingga pada akhirnya hujan benar-benar turun dan cukup deras, Jamaah Kenduri Cinta  bergeming untuk meninggalkan forum Maiyahan di Jakarta malam itu.

Sementara sebagian merapat ke bawah tenda, sebagian yang lain mengubah fungsi karpet menjadi payung. Tidak sedikit pula yang kemudian berteduh di teras gedung-gedung di dalam Taman Ismail Marzuki. Dan ada saja Jamaah yang bahkan memilih untuk berbasah-basah diguyur air hujan, padahal secara ilmu kesehatan tentu tidak dianjurkan untuk hujan-hujanan lewat tengah malam. Namun begitulah yang juga kita sering melihatnya di berbagai forum Maiyahan, jika hujan turun bahkan dalam skala yang sangat deras sekalipun, ternyata sama sekali tidak mengurangi kekhusyukan Jamaah Maiyah untuk menikmati Sinau Bareng di Maiyahan.

Cak Nun pun sering menyampaikan bahwa hujan yang turun adalah berkah dari Allah. Bagaimana kita menyikapi hujan yang turun itu akan mempengaruhi kemudian apa yang dirasakan oleh tubuh yang basah kuyup oleh hujan tersebut. Jika kita ikhlas menerima berkah dan rahmat Allah berupa hujan itu, maka Allah pun akan menambah rezeki dan anugerah-Nya kepada kita.

Ketika hujan turun dalam sebuah forum Maiyahan, Cak Nun mengajak Jamaah Maiyah untuk senantiasa mampu menyikapi bahwa hujan yang turun adalah rahmat Allah yang tidak boleh kita tolak dan kita harus tepat menyikapi rahmat Allah tersebut. Dengan konsep tersebut, pada akhirnya meskipun tubuh basah kuyup oleh hujan pada tengah malam, ternyata sama sekali tidak mengakibatkan sakit pada keesokan harinya. Namun demikian bukan justru membangun sikap sombong, untuk kemudian pada setiap hujan turun di malam hari kita kemudian keluar rumah dan hujan-hujanan, sengaja membasahi tubuh dengan air hujan. Nuansa dan atmosfer yang terbangun di Maiyah adalah nuansa dan atmosfer yang Allah sendiri menciptakannya.

Ikhlas Menerima Rezeki dari Allah dan Konsep Manusia Ruang-Manusia Perabotan

Malam itu Cak Nun menyampaikan, dengana adanya Maiyah ini kita bersama-sama menjadikan forum Maiyahan untuk menemukan jati diri kita masing-masing. Untuk menemukan siapa kita dan bagaimana seharusnya kita bersikap dalam kehidupan ini. Konsep keseimbangan yang ditawarkan oleh Maiyah adalah mekanisme yang juga harus terus-menerus kita asah, sehingga pada akhirnya kita akan mampu menemukan kedaulatan dalam diri kita sendiri. Kita menjadi diri kita sendiri, bukan menjadi orang lain yang bukan diri kita.

Cak Nun kemudian meminta Sabrang untuk menjelaskan perbedaan Personalitas dan Identitas. Sabrang menjelaskan bahwa Personalitas adalah sebuah anugerah yang diberikan oleh Allah kepada manusia, dan manusia tidak memiliki hak tawar sama sekali atas anugerah itu. Bentuk tubuh, jenis rambut, warna kulit, rupa wajah, jenis kelamin, sifat, karakter, watak dan yang lainnya yang ada dalam diri kita ini adalah Personalitas yang tidak bisa kita tawar.

Sementara Identitas adalah hal yang kita sendiri bisa memilihnya. Kita menjadi dokter, guru, pengusaha, seniman, dan yang lain sebagainya adalah Identitas yang kita sendiri memiliki hak untuk memilihnya. Pada titik selanjutnya, kita kemudian akan menemukan bahwa Kualitas dalam diri kita masing-masing akan sangat ditentukan pada Personalitas diri kita.

Diskusi di Kenduri Cinta semakin malam menuju dinihari justru semakin hangat. Hujan yang sempat reda kemudian sempat turun lagi dan cukup deras, nyatanya sama sekali tidak membuat Jamaah Maiyah malam itu bubar dan meninggalkan lokasi. Sebuah bekal yang kemudian juga diberikan oleh Cak Nun malam itu adalah kunci ikhlas. Bagaimana kita menyikapi uang yang kita miliki akan berpengaruh terhadap rasa syukur yang lahir dari ekspresi kita mensyukuri rezeki dari Allah.

Cak Nun menyontohkan bahwa beliau sejak dulu tidak pernah mengubah konsep tentang uang sepuluh ribu rupiah. Bagi Cak Nun, uang sepuluh ribu rupiah adalah uang yang sangat besar nilainya. Uang sepuluh ribu rupiah bagi Cak Nun dalah rezeki yang harus disyukuri, sehingga konsep yang terbangun dalam diri adalah bukan membeda-bedakan uang berdasarkan nominal yang tertera.

Kebanyakan orang hari ini, ketika punya uang sepuluh ribu, angan-angan yang ada dalam pikirannya adalah bahwa nanti atau besok akan punya uang seratus ribu, sehingga kemudian uang sepuluh ribu terasa sudah tidak berharga lagi karena ia membandingkan dengan uang seratus ribu. Begitu juga ketika ia memiliki uang seratus ribu, konsep dalam pikirannya kemudian adalah angan-angan mendapat uang satu juta, sehingga seratus ribu sudah tidak berharga lagi ketika ia benar-benar mendapatkan uang satu juta, sepuluh juta, seratus juta.

Cak Nun menyampaikan bahwa jika konsep sepuluh ribu itu kita pegang, maka berapapun uang yang kita dapatkan dan kita miliki itu akan selalu kita syukuri dan kita akan tetap menghargainya. Sehingga tidak ada celah sedikitpun dalam diri kita untuk merendahkan rezeki yang sudah Allah berikan kepada kita.

Malam itu, Cak Nun juga menyampaikan bekal kepada Jamaah Kenduri Cinta untuk menjadi manusia ruang, jangan menjadi manusia perabotan. Manusia ruang adalah manusia yang cara pandangnya berdasarkan ruhani. Sehingga, dengan menjadi manusia ruang kita akan mampu menampung segala kemungkinan. Sementara, jika konsep yang tertanam dalam diri kita adalah manusia perabotan, maka yang terbangun adalah cara pandang materi dan fisik, sehingga kita tidak akan mampu berbagai kemungkinan yang kita hadapi dalam kehidupan di dunia ini.

Tidak terasa, waktu menunjukkan hampir jam empat pagi. Cak Nun kemudian mengajak seluruh Jamaah Kenduri Cinta berdiri dan bermunajat bersama-sama. Cak Nun memuncaki Kenduri Cinta malam itu mengajak Jamaah melantunkan “Thibbil Qulub”. Semua Jamaah khusyuk melafalkan bersama: Allahu…Allahu…  Allahu…Allahu… Ya rabbi sholli ‘alaa mukhtar thibbil quluub… (Redaksi Kenduri Cinta)