Hilangnya Pokok Wadah Mencari Ilmu

Selanjutnya adalah tentang Syafaat Kanjeng Nabi, yang mengandung makna sebagai hak prerogatif yang diberikan Allah kepada Beliau. Dengan syafaatnya Kanjeng Nabi, dosa-dosa yang terlihat sangat menumpuk ketika kita muhasabah diri, bisa sedikit dikurangi akibat sanjange/syafaatnya Rasulullah. Sudah sangat wajar jika antara kekasih saling menggemberikan dan mengingatkan. Bahkan dunia ini pun diciptakan sebagai wujud rasa cinta-Nya Gusti Allah kepada Nur Muhammad, kekasih-Nya. Wujud yang lain dari sayang itu tertuang dalam surat Al-Ahzab 56, di mana Allah dan para malaikat-Nya pun bershalawat kepada Nabi.

Nilai yang bisa kita ambil berikutnya adalah tentang tingkah laku. “Tidakkah aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaku.” Ibadah itu sendiri tidak hanya tarpaku pada saat kita sholat. Hal tersebut adalah mahdlohnya, padahal space ibadah masih sangat luas di ranah muamalah. Sebuah kreativitas sangat diperlukan untuk mengisi ruang ibadah tersebut. Hingga kalimat prinsipil akhirnya disampaikan Simbah, “Setiap apapun yang dilakukan harus diniati ibadah.”

Dan yang terakhir adalah nilai rahmatan lil ‘alamiin. Kedatangan Rasul di muka ini pun merupakan suatu bentuk Rahmat dari Allah bagi seluruh alam semesta. Bagaimana seorang Rasul dan kekasih-Nya menolak menjadi mulkan-nabiyya dan memilih abdan-nabiyya, memilih untuk menjadi rakyat jelata karena sebagian hidup ummatnya berada di ruang kesederhanaan. Dimana dari abdan-nabiyya itu, kita sebagai ummatnya seharusnya memiliki kesadaran untuk menjadi abdan-abdiyya, hamba yang mengabdi. Mengabdi kepada Rahmat yang telah dianugerahkan melalui Kanjeng Nabi untuk menjaga keseimbangan semesta.

Untuk mengemban nilai-nilai yang terdapat pada diri Rasulullah tersebut, kita mesti memiliki kemandirian berpikir. Maksudnya, kita mesti memperluas kosmologi dan cakrawala cara berpikir kita untuk bersikap sebagai ruang, yang diharapkan mampu menjadi wadah atas segala peristiwa atau permasalahan yang terjadi. Dan pada saat yang sama pula receiver yang terdapat pada tubuh kita akan memantik sebuah rasa kerinduan akan kesejatian. Dan rindu itu akan mempengaruhi segala perilaku kita untuk terus mengalami proses pencarian ilmu.

Jangan pernah berharap semakin banyak mendapatkan ilmu itu berarti meningkatkan kepintaran, perlu juga sikap kewaspadaan atas ilmu yang kita dapatkan. Karena pada hakikatnya, semakin banyak ilmu yang kita cari, semakin kita akan merasa semakin kecil. Karena begitu luasnya luasnya ilmu tersebut. Apalagi kalau tujuannya untuk mencari kebenaran, karena kebenaran yang hanya milik Allah. “Kepintaranmu tidak laku di hadapan Allah, kekayaanmu tidak laku, ketampananmu, kecerdasanmu. Yang laku di hadapan Allah adalah akhlaqul karimah.” pungkas Mbah Nun.

Di tengah intensitas proses pembelajaran yang semakin membutuhkan katahanan berpikir yang lebih, KiaiKanjeng menghadirkan satu nomor-komunikasi yang juga bermuatan ilmu. Mas Yoyok dan Mas Doni menyuguhkan permainan yang mengajak keaktifan para jamaah untuk ikut turut serta menyegarkan suasana. Tembang dolanan “Burung Kakak Tua” dan “Kodok Ngorek” sudah menjadi khas ketika waktu sudah mendekati tengah malam.

Setelah itu, 3 kelompok siswa yang dibentuk awal acara tadi mempresentasikan hasil dari diskusi masing-masing kelompok. Menjelaskan tentang arti Ing Ngarso sung Tulodho, Ing Madya Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani dan setiap kelompok mampu memberikan secara detail sejarah dan makna ketiga arti frasa Jawa tersebut. Seperti Rasulullah yang juga jangkep di semua tempat. Memberikan uswatun hasanahnya di depan. Ikut ajur-ajer juga selama proses mangun karso. Tut Wuri Handayani pun juga selalu beliau terapkan. Karena dari ketiga hal tersebut pula nanti akan terbentuk sikap pengayoman yang berbuah menjadi kasih sayang. Hingga akhirnya meluaskan kelapangan hati untuk selalu benar-benar siap untuk diajak berpikir.

Jangan pernah takut salah, “Karena kesalahan itu sendiri adalah bagian dari kebenaran,” lanjut Mbah Nun. Dari kesalahan juga kita bisa menemukan kebenaran. Tanpa tahu mengalami apa itu salah, benar yang dirasakan akan serasa kosong. Seperti apa yang sedang terjadi di dunia medsos. Di sana selalu terjadi pertengkaran yang disebabkan kebenaran yang diyakini oleh masing-masing pemikiran. Yang terjadi di dunia medsos adalah banyaknya pengecut yang hanya mengutarakan subjektivitas pemikirannya. Lahirlah kebencian yang mengikis rasa cinta sesama penduduk bangsa. Hanya karena ingin menang apa saja akan dilakukan demi menghancurkan lawannya.

“Kita mesti berpikir sebagai dunia, jangan berpikir sebatas Indonesia” nasihat Mbah Nun. Kita mesti mengasah intelektualitas kita ke arah universial, jangan menjadi seorang intelek persial karena itu hanya bagian dari intelek universal. Karena kelamahan orang zaman sekarang adalah ora jangkep cara berpikirnya. Atau jangan-jangan si pembolos yang sering kita anggap bodoh tersebut adalah seorang intelektual yang berpandangan universal? Yang pasti bangsa Indonesia sudah sangat dekat dengan Rasulullah. Suatu budaya di Indonesia tidak membatasi profesi seseorang ketika dimintai tolong untuk membantu orang di luar profesinya. Tak terasa lantunan Sidnan Nabi dan Sholawat Nabi yang lain menjadi pamungkas acara kegiatan sinau di malam tersebut.

Buku Cak Nun