Hijrah Para Patriot Maiyah

Pada pengajian Padhangmbulan bulan Februari, Mbah Nun menyampaikan sejumlah pertanyaan terkait output, produk dari gilingan Maiyah. Bagaimana skala manfaat Maiyah—skala nilai, skala ruang dan skala waktunya?

Nilai manfaat bisa diukur skalanya, misalnya menggunakan deret angka plus-min dengan titik zero point sebagai pusat keseimbangan. Skala ruang bisa dipetakan, misalnya lingkungan keluarga, RT/RW, dusun, kelurahan dan seterusnya. Skala waktu dideteksi mulai skala dunia atau bahkan hingga akhirat?

Atas semua skala dan hitungan itu, saya menyadari gilingan Maiyah terlebih dahulu akan berlangsung dalam diri kita sendiri. Pawon atau dapur tersebut tak lain adalah sistem kesadaran kita, lengkap dengan berbagai sudut pandang, cara pandang, resolusi pandang dan seterusnya, yang seyogianya terus berputar, bekerja, nggiling “bahan-bahan mentah” realitas, fakta, fenomena atau apapun saja di sekeliling kita.

Output produk minimalnya adalah perilaku atau apapun saja yang “siap pakai” dan tidak menambah masalah. Mbah Nun memberikan panduan yang ringkas dan gamblang: tidak berbuat yang menambah masalah itu adalah sebuah perbuatan. Tidak berbuat adalah bentuk perbuatan juga.

Mengapa kita tidak melakukan perbuatan yang setelah kita hitung akan menambah masalah? Karena indikator kearifan dan kebijaksanaan adalah kesanggupan ber-imsak, menahan dan mengendalikan diri—metodologi yang dilatihkan oleh puasa.

Tentu saja upaya tersebut memerlukan ijtihad, jihad dan mujahadah yang tidak ringan. Kita tidak hidup steril dari setiap persoalan pada skala dan konteks apapun yang tidak dikotori oleh ketidakseimbangan. Ngengleng rasanya menanggung semua kemiringan-kemiringan itu. Serbuk dan partikel udara, kata-kata, hingga iklan handphone terbaru merupakan produk dari mesin sistem yang meninggalkan warisan polusi sosial.

Mesin-mesin algoritma situs web media sosial misalnya, bukan sepenuhnya dunia yang terang benderang bagi pengguna awam, kecuali sebatas untuk melangsungkan percakapan global, menampilkan swafoto, menulis status buang angin, menyerang dan memaki pihak yang dianggap berlawanan.

Polusi sosial mengikis kepercayaan pada wacana publik. Risiko krisis peradaban yang terlanjur mengucapkan ahlan wa sahlan pada logika pasar bebas dan libertarian.

Di tengah gonjang-ganjing turbulance di hampir semua sisi dan aspek hidup, kita berhijrah ke Maiyah. Kita menanam benih-benih cinta kepada Allah dan Rasulullah di ruang terbuka kebun Maiyah. Kepercayaan wacana publik dibangun kembali. Keadaban dijadikan pilar penyangga martabat kemanusiaan. Thariqah yang dijalani cenderung ditertawakan oleh kapitalisme masif model dakwah yang menjeratkan tali-tali otoritas.

Tapi, sekali lagi, tidak dengan Maiyah. Tidak menggunakan metode strukturalisme “Aku Kyai” dan engkau semua adalah pengikut. Tidak menjalin dialog satu arah yang pada beberapa waktu lalu dikenal dengan istilah setor kuping. Tidak memutlak-mutlakkan yang sekunder sebagai primer dan primer sebagai sekunder. Serta sejumlah tidak-tidak lain yang benar-benar tidak di tengah konteks zaman yang semakin tidak mengerti mana ya mana tidak.

Mesin penggiling dalam diri kita menyala, bekerja, nggiling seraya mempresisikan diri sepresisi-presisinya. Kalau dalam masyarakat Amerika Serikat para ekonom menyebut fenomena lunturnya keadaban, kepercayaan dan penghormatan kepada kebenaran sebagai eksternalitas negatif—maka, Maiyah menawarkan “eksternalitas positif”. Istilah terakhir ini karangan saya sendiri: antitesis atas situasi zaman yang kian meredup

Benar apa yang disampaikan Mbah Nun. Maiyah adalah “mesin gilingan” baru: bukan parpol, bukan ormas, bukan halaqah, bukan LSM. Pokoknya bukan produk dari fenomena eksternalitas negatif tadi. Dan yang pasti Maiyah bukan karya Mbah Nun.

Tugas kita selanjutnya adalah mengolah diri menjadi Patriot Maiyah, sebagaimana istilah itu Beliau sebut di sesi terakhir pengajian Padhangmbulan bulan ini.