Hijrah-Hijrah Sudut Pandang, Srawung Demi Move On

Mocopat Syafaat edisi 17 Agustus 2018
Mocopat Syafaat edisi 17 Agustus 2018 (Foto: Adin, Dok. Progress)

Memperingati hari raya 17 Agustus adalah hak tiap orang, sebagaimana berhak juga untuk orang lain tidak merayakannya. Memang khas bangsa yang pernah tersentuh imperialis Nippon, pesan-pesan nasionalisme menelusup melalui perayaan-perayaan yang disenangi warga ke pelosok-pelosok pedesaan. Cara mengirim pesan nasionalisme dengan kesamaan musuh dan menunggangi pop-culture, Jepang memang salah satu pencetusnya. Inilah salah satu efek dari “masa bulan madu” antara Nippon dengan kaum agamawan dan kaum intelektual nasionalis. Tapi itu urusan negara tetangga. Sudahlah, kita jangan terlalu dalam ikut mencampuri urusan tetangga, shadaqah seperlunya saja.

Pada 17 Agustus tahun 2018 M ini, Kedatuan Kadipiro tampak dipenuhi oleh ragam bentuk manusia. Tentu saja bukan mau bikin acara lomba panjat pinang, kompetisi mancing atau sepakbola karung yang mainstream-nya dilaksanakan oleh warga nasionalis di negara tetangga. Sehingga konon, perayaan 17 Agustus juga adalah hari raya gang buntu nasional karena kampung-kampung ditutup jalannya untuk kepentingan lomba. Itu tidak buruk, tapi bukan itu.

Tentu tidak buntu, lancar mengalir para Jamaah Maiyah, generasi-generasi Maiyah dari timur pulau Jawa berjalan bersama mengalir memecah kebuntuan, melepas kerinduan. Dulur-dulur Bangbang Wetan Surabaya serta Paseban Mojopahit Mojokerto dan berbagai lingkar lain berkumpul dan bersama-sama menuju majelis kebersamaan, kebahagiaan, kebersenang-senangan yang disenangi Allah SWT, keriangan, majelis rindu, cinta berpuncak pada ilmu dan pemahaman; Mocopat Syafaat.

Diskusi pembukaan digiring bersama oleh Mas Helmi dan Mas Jamal. Berbagai kisah, pengalaman dan cerita dibagi dan ditukarkan. Para Jamaah Maiyah memang selalu punya kisah menarik, karena Maiyah bukan sekadar pengajian satu arah. Itu membuat manusia-manusianya selalu punya sudut, jarak dan sisi pandang yang menarik terhadap kenyataan.

Fenomena hijrah sempat diutarakan oleh Mas Helmi. Hijrah ini tentu pada pengartian yang sedang trend di mana selebritis, kelas menengah dan sejenis itu berlomba-lomba menampilkan citra diri yang Islami. Kalau seringnya sudut pandang yang kita temui seolah hanya menawarkan pilihan antara ikut-atau-tidak atau juga suka versus tidak suka, puji atau hujat. Namun oleh Mas Helmi dan Mas Jamal, fenomena ini dijadikan bahan yang menarik untuk dibahas bersama. Ada gejala kelas menengah yang ingin memapankan keislaman, sejangkau yang mereka pahami.

Mocopat Syafaat edisi 17 Agustus 2018.
Mocopat Syafaat edisi 17 Agustus 2018 (Foto: Adin, Dok. Progress)

“Ada gejala sekarang orang pengin berislam sekaligus tampil keren”, kata Mas Helmi. Kalau kita ambil view lagi, sebenarnya keinginan untuk “keren” ada di semua golongan, hanya patokan kekerenannya yang berbeda. Bagi santri pedesaan, yang keren adalah sebagaimana simbol-simbol yang diterima di lingkungannya dengan patokan ya kiainya. Bagi lingkar lain mungkin murobbi-nya. Bagi kaum perkotaan, tentu acuannya yang berhasil secara persaingan industri, orang-orang yang berhasil dalam ukuran finansial atau mungkin popularitas. Fenomena Islam hijrah yang belakangan kita saksikan, lebih ke pergeseran nilai “keren” itu saja. Hanya dia lebih terekspos di arus utama.

Pola keberagamaan juga tidak padat seolah hanya garis keras vs moderat. Mas Helmi memberi contoh beberapa fenomena yang dibabarkan yang tidak selalu pas dengan peta diskursus semacam itu. Peta diskursus berlaku kalau kita memang akademisi yang sedang berkutat pada hal itu, tapi dalam hidup semuanya cair. Tidak benar-benar ada kaum garis keras maupun garis mblenyek.

Dari Islam Hijrah sampai sinyal lampu sein ibu-ibu yang sering kurang istiqomah dan tak terduga bantingan setirnya dibahas. Kalau Mocopat Syafaat ini pengajian, pengajian macam apa ini sebenarnya? Mas Jamal memberi komentar soal lampu sein “Perlu dipahami, ibu-ibu selalu punya lebih banyak beban pikiran. Bersih-bersih rumah, kebutuhan suaminya, makan anak dan banyak lagi”. Saya sepakat, pola pikir maskulin kita kadang tidak mau mengerti dengan detail-detail begini.

Sudut-sudut pandang menarik tampak lebih banyak lagi dari dialog-dialog. Karena memang Sinau Bareng, bebarengan. Bukan mendengarkan orang pintar saja. Karena Islam turun tidak hanya untuk yang pintar-pintar. Terbiasa dengan pola bebarengan sinau, rupanya memang membuka pintu-pintu hijrah ke pemahaman-pemahaman yang berbeda.

Petanda yang lalu-lalang di majelis-majelis Maiyah selalu warna-warni. Baru saja saya berpapasan dengan beberapa orang yang bergamis dan bersorban, lain waktu papasan dengan yang bersarung, jilbaban, cadaran (fenomena bercadar di Maiyah cukup ramai, mengingat volume asap rokok yang cukup padat dan intens) tak lama ketemu yang berkaos NU bersanding dengan potongan aktivis (silakan gambarkan sendiri miturut selera dan kesesuaian zaman aktifisme masing-masing).

Hijrah mungkin erat kaitannya dengan move on. Beberapa hari lalu saya sempat terbahak-bahak menonton Pak M yang tidak jadi dilantik jadi cawapres masih bicara soal organisasi mahasiswa. Pikiran saya cuma soal masa sudah setua itu masih romantisme organisasi mahasiswa ya? Jangan-jangan susah move on memang soal kita bersama. Saya merasa beruntung, dulu masuk organisasi mahasiswa tidak perlu berlama-lama. Nanti jadi bapak-bapak yang masih high school never end mentality, rasanya kok ndak keren.

Mocopat Syafaat edisi 17 Agustus 2018.
Mocopat Syafaat edisi 17 Agustus 2018 (Foto: Adin, Dok. Progress)

Mas Harianto kemudian melengkapi dengan memberi kabar mengenai telah terlaksananya hajat milad ke tujuh Nahdlatul Muhammadiyyin. Nahdlatul Muhammadiyyin (biasa disingkat NM) menetapkan manhaj srawung sebagai metodologi. Bagi Jamaah Maiyah, srawung bukan main-main dan bukan sekadar-sekadar, srawung itu tenanan. Mungkin begitulah kenapa Nahdla-nya (kebangkitan) untuk seluruh pengikut Muhammad Saw. Bukan kebangkitan untuk satu kelas sosial tertentu saja. Dengan begitu, kita berhijrah bersama-sama.

Segmen awal diakhiri dengan mengundang Mas Sodiq yang sempat mengunggah postingan di Instagram, yang menyinggung hati para JM. Ini, satu sudut pandang sendiri dan tampaknya JM memang menyenangi keragaman sudut pandang. Bahwa ada yang kurang pas di situ perlunya kita ngobrol. Sesi ini mungkin akan saya tuangkan pada reportase yang lebih komplit. (MZ Fadil)

Buku dan Merchandise