Hidup Itu Berlari Sprint ataukah Berlari Maraton?

Liputan Majelis Ilmu Padhangmbulan 26 Juli 2018

Masih lekat di ingatan kita nama seorang atlet, M. Zohri. Juara dunia lari sprint 100 m. Mbah Nun memberangkatkan sejumlah paparan dari kenyataan Zohri. “Hidup itu lari sprint atau lari maraton?” tanya Mbah Nun.

Menilik kenyataan cara orang berdagang, berpolitik, menapaki jenjang karir atau sejumlah perlombaan yang disangka sebagai prestasi, kecenderungannya adalah mereka berlari secara sprint. Cepet-cepetan menuju garis finish. Skala waktu dan ruang menjadi pendek, sebatas mencapai garis finish di dunia.

Padahal, hidup bukan sekadar berpikir secara dunia, lalu menjalaninya secara terburu-buru. Hidup adalah berlari secara maraton–hingga tiba di akhirat yang hanya Allah Swt mengerti batas akhirnya.

Mayoritas pemburu dunia adalah para pelari sprint. Kekuatan nafas berlarinya sangat terbatas. Saya jadi teringat istilah yang pernah disampaikan Mbah Nun beberapa tahun lalu, yakni nuthul. Mentalitas sprinter adalah mentalitas nuthul, memburu laba sebatas dua atau tiga langkah di sekitar mereka.

Inilah atmosfer yang menghasilkan cuaca manakala manusia tidak lagi tangguh menjalani hidup secara maraton hingga tidak pula menjadikan akhirat sebagai skala utama kesadaran.

Hal itu pula yang menjadikan cuaca peradaban dan kebudayaan Islam didominasi oleh semangat mengajar, bukan semangat belajar.

Ditegaskan pula oleh Kyai Muzamil bahwa anjuran dalam Al-Qur`an adalah semangat belajar. Afalaa tatafakkaruun, afala ta’qilun, afalaa tatadzakkarun merupakan sejumlah frasa yang menekankan pada proses belajar.

Dari sudut pandang itu, term Sinau Bareng bukanlah kelatahan akrobatik kebudayaan. Sinau Bareng dihidupi oleh semangat kesetaraan bahwa kewajiban kita adalah belajar.

Berbeda kalau konteks yang dibangun adalah mengajar–arah komunikasinya top-down, atas dan bawah, pintar dan bodoh. Sinau Bareng tidak berada dalam atmosfer itu.

Terkait dengan atmosfer, lebih detail, Mbah Nun mengajak jamaah untuk meneliti asal kata Jawa. Bentukan bahasa Arabnya adalah Jawiyyun, bangsa Jawa. Dielaborasi bersama Kyai Muzamil, Jawa adalah Jawwun (bahasa Arab), artinya cuaca.

“Jadi, Jawa adalah cuaca. Manusia Jawa adalah manusia segala cuaca,” ungkap Mbah Nun.

Hidup bergantung pada cuaca. Dan Manusia Jawa sanggup menjalani hidup pada segala cuaca. Dengan demikian, manusia Jawa juga melakoni hidup secara maraton.

Urip mung mampit ngombe, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake adalah buah peradaban manusia segala cuaca–manusia Jawa yang menjalani hidup secara maraton. (Achmad Saifullah Syahid)